Corporate Culture Inovasi Insan WIKA Tertanam Sejak Era 1980-an

INDOWORK.ID, JAKARTA: Pada 1980 Frans S. Sunito bersama rekan-rekan teknisi lain di WIKA sempat menyesalkan ketika membongar peti kemas mesin pesanan dari Jerman utuk kepentingan pabrik tiang listrik beton yang dikembangkannya.

Mesin bertuliskan Motor Driven Troly itu hanyalah sebuah landasan baja, dilengkapi kereta beroda, kemudian ditarik dengan kabel yang dihubungkan dengan suatu mesin. Jika mesinnya diputar, trolinya bergerak ke sana ke mari.

Frans menyesalkan alat yang baru saja dibelinya ternyata bukanlah teknologi mutakhir seperti apa yang diharapkan. Sebuah kata terlontar dari dari para teknisi WIKA saat itu, “Kalau seperti ini sih kita bisa bikin sendiri?”

Dalam benak Frans jika hanya peralatan seperti itu, pastilah insan WIKA bisa membuatnya sendiri. Ternyata hal itu bukan omong kosong belaka, keesokan harinya para engineer muda WIKA mempelajari teknologi mesin itu. Dengan semangat inovasinya kemudian insan WIKA menduplikasi mesin itu untuk jalur-jalur produksi beton berikutnya.

JERMAN HERAN

Frans Sunito (foto Tokoh Indonesia)

Sampai-sampai, perusahaan supplier mesin asal Jerman itu heran kenapa pesanan dari WIKA untuk alat serupa semakin hari semakin sedikit, padahal saat itu WIKA sedang gencar-gencarnya merintis industri beton. Belakang mereka tahu bahwa WIKA sudah bisa membuat sendiri alatnya.

Saat itu, para engineer muda WIKA memang sedang semangat-semangatnya melakukan berbagai inovasi. “Saking semangatnya, semua ingin dibuat sendiri,” lanjut Frans. Sebagai Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan, Frans tidak sendirian, dia memiliki dua staf yaitu Wilfred Sangkali dan Boediono. Selain itu, ada juga Yoyon Mulayan di bagian teknisi, dan juga Ruskim yang banyak menangani perihal teknis penerapannya di pabrik-pabrik beton milik WIKA.

Jangan dilupakan, salah satu faktor yang mendorong adanya inovasi di WIKA pada periode awal adalah kondisi perusahaan yang masih belum begitu mapan. Jangan bayangkan WIKA saat itu seperti WIKA sekarang, teknologi yang dipakai sangatlah sederhana, apalagi sarana dan prasarana yang dimiliki belumlah selengkap sekarang. “Tapi kesederhanaan tidak mengurangi rasa dan semangat inovasi,” tegas Frans.

Justru dari kesederhanaan itulah semangat inovasi dipupuk. Misalnya, ketika mendirikan pabrik di Cileungsi, Bogor, dengan budget yang sangat terbatas, hanya Rp200 juta, Warkita Tarsam harus memutar otak agar anggaran itu cukup.  Tentu bukan hal mudah. Untuk investasi lahan, bangunan, mesin, dan mold (cetakan) tentulah dana itu belum memadai.

Akhirnya karena semangat inovasi, pemikiran untuk membuat sendiri itu pun muncul. Dengan melakukan survei, Warkita bertemu dengan orang yang bisa membuat mold sesuai dengan aslinya di daerah Jawa Timur. Setelah dilakukan pengujian ternyata cetakan itu berhasil. Akhirnya itulah yang dipakai di pabrik, dengan harga yang lebih murah. Teknologi itu pun dipakai di pabrik-pabrik beton milik WIKA periode awal.

Ngomong-ngomong soal bikin sendiri, para pendahulu WIKA telah memberi suatu dorongan kepada para insan WIKA untuk selalu berinovasi. Pemikiran bahwa inovasi bisa membawa kemajuan bagi perusahaan dan kesejahteraan karyawan sudah tertanam sebagai visi sebuah perusahaan yang ingin hidup 500 tahun ke depan. Meski jajaran pemimpin WIKA berganti dari tahun ke tahun atau periode ke periode, budaya inovasi terus dikembangkan sesuai dengan konteks zamannya.