Acara Susuk Wangan di Wonogiri

Kunduren, Tradisi Lebaran di Biting Wonogiri, di Betawi Nyorog

INFRASTRUKTUR.CO.ID, WONOGIRI:  Suasana merayakan Idulfitri di Wonogiri sangat khas, ada budaya kenduren pada hari pertama sebelum lebaran, masing-masing warga saling mengunjungi dengan hidangan khas yang dibagikan.

Tradisi merayakan Idulfitri di Biting, desa di ujung Kabupaten Wonogiri, tepatnya Kec. Purwantoro, tersebut menarik dicermati dan perlu dilestarikan.

Kenapa dinamakan biting yang artinya perekat? Karena desa ini mengikat dua kabupaten di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur (Kab. Ponorogo). Sedangkan kenduren (genduren) adalah tradisi masyarakat Jawa yang berupa doa bersama untuk bersyukur dan memohon kelancaran.

Pemimpin Redaksi Indowork.id Hamzah Ali melaporkan dari Wonogiri bahwa kenduren juga merupakan wujud penghormatan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

TRADISI BETAWI

Lain di Wonogiri, beda juga dengan tradisi budaya Betawi saat lebaran.
Berikut adalah beberapa tradisi Lebaran Betawi yang unik dan perlu dilestarikan. Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra menuelaskan bahwa beberapa tradisi tersebut adalah sbb:
Pertama, nyorog atau tukar rantang. Berbagi makanan di rantang merupakan salah satu tradisi bulan Ramadan khas Betawi. Tradisi ini biasanya dilakukan antartetangga dan anggota keluarga di awal bulan puasa dan pada akhir bulan puasa.
Rantang diisi dengan makanan seperti opor, kari ayam, ketupat ketan, dodol dan makanan khas Betawi lainnya. Penerima rantang nantinya akan mengembalikan rantang tersebut ke pemiliknya dengan masakannya sendiri.
Tradisi ini bertujuan untuk memupuk keakraban dan silahturahmi antar sanak keluarga dan tetangga.

KEBO ANDILAN

Kedua, kebo andilan. Ini adalah tradisi di mana masyarakat Betawi melakukan arisan atau urunan membeli kerbau di tiap awal bulan Ramadan untuk digembalakan. Nantinya, kerbau ini akan disembelih dan disantap bersama-sama sehari atau dua hari sebelum Lebaran.
Pada zaman sekarang, tradisi ini sudah mulai memudar dibandingkan dahulu kala. Salah satu alasannya adalah semakin sempitnya lahan pemukiman yang tidak memungkinkan untuk menggembala kerbau.
Ketiga, silaturahmi selama sebulan. Tradisi menyambangi rumah kerabat untuk bersilahturahmi selama 30 hari. “Kita kan puasa sebula, jadi lebaran juga sebulan,” kata H. Neddy Saaman, tokoh masyarakat Betawi di Srengsengsawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Keempat, takbiran keliling. Tradisi ini dilakukan di malam sebelum hari H Lebaran di mana serombongan orang, biasanya pemuda, keliling kota untuk bertakbir sambil memukul bedug dengan kentongan.
Dahulu, tradisi ini juga beririsan dengan kebiasaan pemuda untuk bermain bleduran di malam bulan puasa dan takbiran. Bleduran atau bledukan adalah permainan meniup meriam bambu dengan karbit atau minyak tanah sebagai “peluru”-nya.
Permainan ini sudah jarang dimainkan di perkotaan, biasanya diganti dengan petasan.

MAKAN KETUPAT

Kelima, makan ketupat. Makanan ini dinikmati secara luas sebagai makanan yang disantap saat Lebaran, warga Betawi memiliki tradisinya makan ketupatnya sendiri.
Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Beky Mardani menjelaskan bahwa biasanya, tradisi makan ketupat dilakukan pada hari keenam setelah Lebaran, menandai berakhirnya masa puasa sunnah setelah iIdulfitri.

What is your reaction?

0
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly

You may also like

Comments are closed.

More in Headline