Ray Sahetapi Telah Pergi, Sempat Menembus Hollywood

INFRASTRKTUR.CO.ID, JAKARTA: Tak banyak yang kami perbincangkan saat terakhir bertemu di teras belakang Sanggar Teater Populer, Jl. Kepon Pala 1/295 – Tanah Abang – Jakarta Pusat, Desember 2021 lalu. Kami sama sama memakai masker di penghujung masa pandemi Covid-19. Dan Teater Populer sedang bangkit untuk rencana pementasan kecil.
Mas Slamet Rahardjo, sang pewaris dan panjaga sanggar, mengundang kedatangannya dan kami berbincang hangat.
Sama-sama mengalami masa jaya antara 1980 dan 1990-an sebagai aktor film dan jurnalis, kami nyambung bicara apa saja. Tak hanya film, teater tapi juga konsep Nusantara, yang dengan semangat menggebu dia kobarkan.
Dan kobaran itu padam dari yang punya empu. Ray Sahetapy, aktor film dan teater, penerima banyak nominasi FFI yang sempat menembus Hollywood, telah berpulang. Ray telah pergi. Sesak di dada mendengarnya.
Kabar tersebut disampaikan oleh menantunya, Merdi Octavia. “Innalillahi wa innailahi rojiun, telah berpulang ayah, kakek kami Farence Raymond Sahetapy (Ray Sahetapy) bin Pieter Sahatapy pada pukul 21.04 kami mohon doanya, mohon dimaafkan segala kesalahan,” kata Merdi Octavia, menantu Ray Sahetapy dikutip dari Instagram @merdioctav.
Kepergian Bung Ray, begitu saya memanggilnya, juga dikabarkan sang anak, Surya Sahetapy, melalui unggahan di akun Instagram-nya. “Selamat jalan, Ayah! @raysahetapy. We always cherish the memories of our time with you,” tulis Surya dikutip dari Instagram @suryasahetapy.

PANJANG DAN BERWARNA

Dewi Yull dan Ray Sahetapy

Ray Sahetapy menjalani perjalanan hidup yang panjang dan berwarna, Ray telah menjadi salah satu ikon perfilman Indonesia yang dikenal oleh berbagai generasi.
Ray Sahetapy, 68, kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 1 Januari 1957, berasal dari keluarga berdarah Maluku. Sejak muda, ia sudah memiliki cita-cita besar untuk menjadi seorang aktor, dan impian tersebut ia perjuangkan dengan penuh komitmen.
Ray dikabarkan sempat mengalami stroke pada tahun 2023 lalu, yang mempengaruhi kondisi kesehatannya. Pada April 2024, putranya, Rama, dan menantunya, Merdi, sempat membagikan update mengenai kondisi Ray yang mulai berangsur membaik meski masih menjalani terapi.
Ray Sahetapy menikahi artis Dewi Yull pada 16 Juni 1981, dan pernikahan mereka dikaruniai empat orang anak. Mereka adalah Giscka Putri Agustina Sahetapy, Rama Putra Sahetapy, Surya Sahetapy, dan Muhammad Raya. Setelah berpisah dengan Dewi Yull, Ray menikah lagi dengan Sri Respatini Kusumastuti pada 2004.
Kepergian Ray Sahetapy meninggalkan duka mendalam – bukan saja bagi keluarga, sahabat, melainkan juga para penggemar yang telah menyaksikan kiprahnya dalam dunia seni peran. Sebagai seorang aktor, Ray telah memberikan banyak kontribusi di layar kaca dan film Indonesia, dikenal atas aktingnya yang kuat dan karakter yang mendalam.
Film perdananya dirilis pada 1980 dengan judul Gadis yang merupakan arahan dari sutradara Nya’ Abbas Akup. Dalam film inilah, ia bertemu dengan Dewi Yull yang merupakan istri pertamanya.
Lewat film Noesa Penida yang tayang pada 1988, Ray dinominasikan sebagai aktor terbaik pada Festival Film Indonesia 1989. Selain itu, ia juga pernah dinominasikan sebanyak tujuh kali dalam ajang yang sama, yakni melalui film Ponirah Terpidana (FFI 1984), Secangkir Kopi Pahit (FFI 1985), Kerikil-Kerikil Tajam (FFI 1985), Opera Jakarta (FFI 1986), Tatkala Mimpi Berakhir (FFI 1988), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (FFI 1990).
Ketika industri film Indonesia mengalami mati suri, ia tetap eksis di dunia seni peran. Ray membangun sebuah sanggar teater di pinggiran kota dan membentuk komunitas teater di sana. Lewat sanggarnya ini, ia pernah membuat geger lantaran gagasan tentang perlunya mengubah nama Republik Indonesia menjadi Republik Nusantara.
Ray juga pernah terjun ke dunia tarik suara, pada tahun 1985. Album perdananya, Say… dengan dua single hit Satu Kenyataan Lagi dan Say…  yang dinyanyikan berduet bersama istrinya Dewi Yull.
Pada pertengahan 2006, ia kembali aktif di dunia film dengan membintangi Dunia Mereka. Dia juga ikut berorganisasi dan terlibat di kongres PARFI .
Di Sanggar Teater Populer, nampaknya dia diajak untuk berpartisipasi dalam aksi Panggung Tong Tong Shoot projek idelisme Slamet Rahardjo di teater pada era Youtube – yang akan mementaskan teater dan diskusi seni budaya, panggung dibuat akrab, untuk 30-an penonton, direkam dan disiarkan dalam format digital dan dimediasosialkan.
“Ini masih mengolah dan mematangkan idenya. Mumpung masih kuat, ” kata Mas Slamet. “Saya membayangkan antara yang main dan menonton membaur,” paparnya, menunjuk ruang latihan dan pementasan di sanggar.
Selaku penerus pewaris Teater Populer yang didirikannya bersama Teguh Karya (mendiang), Slamet Rahardjo mengagas nama Teater Tong Tong Shoot Slamet Rahardjo atau Panggung Slamet Rahardjo Tong Tong Shoot. Nama Tong Tong, katanya, ada dalam lakon wayang Petruk Jadi Ratu, yang menyebut diri sebagai Raden Tong Tong Shot Wel Geduwel Bleh.
Dalam tahapan gagasan, proyek itu Mas Slamet mengajak serta Ray Sahetapy dan Marcella Zalianti. Sayangnya saya tidak mendengar perkembangannya.
Dan Bung Ray Sahetapy kemudian sakit dan kini pergi selamanya.
Kepergiannya akan selalu dikenang sebagai salah satu ikon perfilman Indonesia yang telah menginspirasi banyak generasi.
Selamat jalan Bung Ray. Semoga damai di alam keabadian.
*) Ditulis oleh Dimas Supriyanto, Wartawan Senior.

What is your reaction?

0
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly

You may also like

Comments are closed.

More in Headline