
Perang Tarif AS vs China, Apa Dampak Negatif dan Positif bagi Indonesia?
INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Perang tarif antara Amerika Serikat dan China, Meksiko, serta Kanada dapat menimbulkan beberapa potensi dampak bagi Indonesia, baik positif maupun negatif:
Potensi dampak negatif adalah sbb:
Pertama, pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat. Seperti yang ditunjukkan dalam tulisan Ray Dalio, tarif bersifat stagflasi bagi dunia secara keseluruhan dan mengurangi efisiensi global. Perang dagang di antara ekonomi-ekonomi besar kemungkinan akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat. Sebagai negara pedagang, Indonesia akan terpengaruh oleh penurunan permintaan global terhadap ekspornya.
Kedua, penurunan ekspor ke China: China adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Jika tarif AS sangat merugikan ekonomi China, hal ini dapat menyebabkan penurunan permintaan dari China untuk ekspor Indonesia, terutama pada komoditas utama seperti batu bara, minyak sawit, dan barang manufaktur.
PERSAINGAN PASAR DOMESTIK
Ketiga, peningkatan persaingan di pasar domestik. Jika produk-produk China, yang menghadapi tarif tinggi di AS, dialihkan ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, hal ini dapat menyebabkan lonjakan barang-barang China yang lebih murah di pasar Indonesia. Peningkatan persaingan ini dapat menekan industri domestik Indonesia.
Keempat, gangguan rantai pasokan global. Tarif dapat mengganggu rantai pasokan global yang sudah mapan. Indonesia terintegrasi ke dalam beberapa rantai pasokan ini, terutama di sektor seperti elektronik dan berpotensi kendaraan listrik. Gangguan dapat menyebabkan biaya produksi yang lebih tinggi dan menghambat kinerja ekspor Indonesia.
Kelima, pelemahan rupiah. Peningkatan ketidakpastian ekonomi global dan potensi pelarian modal dari pasar negara berkembang selama perang dagang dapat memberikan tekanan ke bawah pada nilai tukar rupiah. Rupiah yang lebih lemah dapat meningkatkan biaya impor dan berpotensi menyebabkan inflasi.
DAMPAK POSITIF
Sementara itu, potensi dampak positif dan peluang bagi Indonesia adalah sbb:
Pertama, peningkatan ekspor ke AS. Seperti yang dicatat oleh Kementerian Perdagangan Indonesia, ketegangan perdagangan dapat menciptakan peluang bagi Indonesia untuk menjadi pemasok alternatif produk-produk tertentu ke pasar AS, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh China, Meksiko, dan Kanada akibat tarif.
Kdua, daya tarik investasi asing. Sengketa perdagangan dapat mendorong investor global untuk mencari tujuan manufaktur dan investasi alternatif di luar negara-negara yang terlibat dalam perang dagang. Indonesia, dengan ekonominya yang besar dan pasar yang berkembang, berpotensi menarik sebagian investasi asing ini.
Ketiga, merebut pangsa pasar. Indonesia berpotensi merebut sebagian pangsa pasar ekspor yang hilang oleh China di negara-negara tujuan utama, termasuk AS dan Eropa, untuk produk-produk dengan karakteristik serupa. Misalnya, tarif AS terhadap gandum Kanada dapat menciptakan peluang peningkatan ekspor gandum dari negara lain seperti Indonesia ke AS.
Dampak lainnya dari perang tarif adalah mengenai hubungan dagang Indonesia.
Penting untuk dicatat bahwa Indonesia tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Amerika Serikat dan oleh karena itu menghadapi bea masuk yang ada berkisar antara 10% hingga 20% untuk ekspornya ke AS. Hal ini dapat sedikit membatasi sejauh mana Indonesia dapat memanfaatkan perang dagang dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki perjanjian perdagangan yang lebih menguntungkan.
Indonesia memiliki surplus perdagangan yang signifikan dengan Meksiko, mengekspor jauh lebih banyak daripada yang diimpor. Dampak tarif AS terhadap Meksiko dan Kanada pada perdagangan Indonesia dengan negara-negara ini memerlukan analisis lebih lanjut, tetapi gangguan dalam perdagangan Amerika Utara dapat secara tidak langsung memengaruhi arus perdagangan global.
Indonesia dan Kanada baru-baru ini meningkatkan hubungan perdagangan melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA), yang bertujuan untuk menghilangkan tarif pada berbagai macam barang secara bertahap, berpotensi mengurangi beberapa dampak negatif tarif AS terhadap Kanada.
Kesimpulannya, dampak perang tarif AS terhadap Indonesia kemungkinan akan kompleks dan beragam. Meskipun ada potensi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspornya ke AS dan menarik investasi, risiko pertumbuhan global yang lebih lambat, peningkatan persaingan di pasar domestik, dan gangguan pada rantai pasokan tidak dapat diabaikan.

Hatim Varabi
Pemerintah Indonesia perlu memantau dengan cermat situasi global dan menerapkan kebijakan yang tepat untuk mengatasi tantangan ini dan memanfaatkan setiap peluang yang muncul. Menjaga hubungan bilateral yang baik dengan semua mitra dagang utama, termasuk AS dan China, juga akan sangat penting.
*) Ditulis oleh Hatim Varabi, dari berbagai sumber.