
Tradisi Lebaran, Ketupat di Betawi, Nanggong di Bangka Belitung
INDOWOROK.ID, BEKASI: Banyak persamaan tradisi lebaran yang dilakukan masyarakat Betawi dan kampung halaman saya di Bangka Belitung. Itulah sebabnya saya terkenang kampung ketika merayakan lebaran di Bekasi, tempat tinggal saya.
Usai sholat Idulfitri 31 Maret 2025 semula rumah terasa sepi. Hanya ada kami bertiga: istri saya Hj. Djumsiatin Djasman dan putri kami Dinda Rembulan Emron.
Untunglah beberapa tetangga yang pulang dari masjid mampir ke rumah saya. Maklum, putra kami Gaung Satrio mudik ke mertuanya di Tegal, Jawa Tengah. Nanda Genta Samudra (Bob), juga berlebaran bersama mertua di Pulau Belitung. Anak kami Depati Amir Gandhi dan adiknya Gita Yuliani memang bermukim di Bangka.
Sementara itu, Gemuruh Cita Akbar, walau sama-sama bermukim di Bekasi tapi sudah memisahkan rumah sejak menikah 11 tahun yang lalu. Mertuanya orang Betawi tulen. Jadi dia harus nyamperin engkong, nyai, babe, dan nyak, terlebih dahulu.
IKUTI ADAT BETAWI
Gemuruh tentu mengikuti adat istiadat orang Betawi jika merayakan lebaran. Ia mengikuti acara nyorog atau tukar rantang. Berbagi makanan di rantang merupakan salah satu tradisi khas Betawi. Tradisi ini biasanya dilakukan antartetangga dan anggota keluarga di awal bulan puasa dan pada akhir bulan puasa.
Rantang diisi dengan makanan seperti semur daging kebo, opor, kari ayam, ketupat ketan, dodol, dan makanan khas Betawi lainnya. Penerima rantang nantinya akan mengembalikan rantang tersebut ke pemiliknya dengan masakannya sendiri. Tradisi ini bertujuan untuk memupuk keakraban dan silahturahmi antarsanak keluarga dan tetangga.
Gemuruh dan keluarga kecilnya ikut makan ketupat di rumah mertuanya. Makanan ini dinikmati secara luas sebagai makanan yang disantap saat lebaran, warga Betawi memiliki tradisinya makan ketupatnya sendiri.
Tanpa kehadiran lengkap anak-anak suasana Lebaran di rumah tetaplah riuh. Cucu-cicit dari saudara sepupu saya mulai berdatangan. Ketika kakek dan nenek mereka di Bangka sudah tidak ada, yang tinggal di Jakarta hanyalah saya, yang merupakan tertua dari keturunan Haji Aris Kampung Dalam Pangkal Pinang.
ROMBONGAN TERBESAR

Keluarga besar Emron Pangkapi
Rombongan yang terbesar datang adalah keluarga Bani Iman (anak-cucu-cicit Atok Iman). Nenek mereka (istri Atok Iman), Zainab Binti Abdul Hamid, adalah saudara sepupu saya. Abdul Hamid dan Muhammad Asir (ayah saya), dua saudara kandung. Maka sekarang tinggal sayalah kakek mereka.
Suasana rumah makin riuh. Ruangan terasa menjadi sangat sempit. Apalagi saudara dan keluarga dari istri saya yang orang Jawa juga datang silih berganti. Alhamdulillah. Sepanjang hari hingga larut malam dalam kegembiraan merayakan Idulfitri.
Saya teringat lebaran di kampung halaman yang merupakan momen sakral yang dirayakan oleh umat muslim di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Salah satu tradisi yang paling terkenal adalah menghias kampung dengan lampion atau balon lampu kalau dulu dengan api obor terbuat dari bambu, yang diletakkan di depan rumah.
Tradisi ini biasa mulai dilakukan ketika memasuki hari ke-21 ramadhan hingga akhir ramadhan atau istilah bangka selikur. Hal ini dilakukan untuk memberikan suasana yang berbeda dan memperindah kampung selama bulan suci Ramadhan.
Selain itu, masyarakat juga menjalankan tradisi ngepung rumah (mengelilingi rumah) pada malam sebelum Ramadan dimulai. Tradisi ini dilakukan oleh keluarga dan tetangga untuk memberikan dukungan dan doa untuk keluarga yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Selama ngepung rumah, masyarakat juga menyantap hidangan tradisional seperti ketupat, opor ayam, dan sayur lodeh.
Salah satu tradisi yang paling terkenal adalah memasak gangan, sebuah hidangan khas yang terbuat dari ketupat, daging sapi atau kambing, dan rempah-rempah. Hidangan ini biasanya disajikan untuk berbuka puasa atau saat berkumpul dengan keluarga dan teman-teman pada malam takbiran menjelang Idulfitri.
KERABANG MAULUD
Selain itu, ada juga tradisi kerabang maulud, sebuah acara yang digelar pada bulan Ramadhan di mana masyarakat berkumpul untuk membaca kitab Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara ini biasanya diisi dengan pembacaan puisi dan doa-doa untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tak hanya itu, di Babel juga terdapat tradisi suguh pasung, sebuah acara yang digelar pada malam Idulfitri. Suguh pasung adalah acara makan bersama yang diadakan di rumah keluarga atau tempat umum untuk merayakan akhir bulan suci Ramadhan dan hari raya Idulfitri.
Masyarakat saling bertukar kue-kue dan makanan tradisional seperti kemplang, gangan, dan kerupuk belitung yang menjadi hidangan wajib pada momen ini. Di beberapa daerah, terdapat juga tradisi tabut, sebuah acara yang digelar pada malam takbiran jelang Idulfitri.
Pada acara ini, masyarakat membuat replika tabut yang dikenal dengan nama tabut rahim yang dihias dengan bunga dan lampu-lampu yang indah.
Tabut kemudian diarak keliling desa sambil diiringi oleh musik tradisional dan saling melempar bunga. Acara yang tak kalah menarik adalah mengunjungi makam keluarga dan orang yang telah meninggal. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud penghormatan dan rasa syukur atas hidup yang diberikan oleh Allah SWT.
Setelah itu kami merayakan momen kebersamaan dengan bedulang, yaitu tradisi yang biasanya dilakukan setelah bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dengan makan begara yang artinya makan bersama.Penyajiannya menggunakan tudung saji, akhirnya disebut juga dengan nama bedulang atau sering juga disebut dengan istilah nganggung. Uniknya, saat menyantap makanan, kita tidak boleh menggunakan sendok dan diharuskan pakai tangan.
Aturannya, orang yang paling tua yang cuci tangan terlebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan dengan yang lebih muda. Dalam tradisi tersebut, terdapat nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan saling berbagi yang sangat kuat.
*) Ditulis oleh Emron Pangkapi, wartawan dan politisi senior.