INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: (Rabu, 15 Juli 2026), Peran ilmu olah raga (sport science) sekali lagi berkontribusi besar dalam kemenangan Spanyo 2-0 atas Prancis pada Semifinal Piala Dunia 2026 di Dallas, Amerika Serikat (AS). Tim kepelatihan Spanyol yang dipimpin Luis de la Fuente terlihat mematangkan implementasi strategi menyerang dengan formasi 4-1-2-3 yang disertai konsep tiki-taka vertikal.
Konsep tiki-taka sudah lama dikenal dalam dunia sepak bola, utamanya setelah Spanyol secara cemerlang mengadopsi dan mengembangkannya, sehingga menjadi Juara Dunia baru pada 2010. Waktu itu Pelatih Vincente Del Bosque sudah sangat familiar dengan konsep tiki-taka, penguasaan bola dengan sentuhan operan satu-dua-tiga atau lebih yang sering membuat lawan hanya terpana menonton kerjasama tersebut. Bahkan Del Bosque sekali lagi membuktikan keampuhan konsep tiki-taka dan membawa Spanyol kembali Juara Piala Eropa 2012. Spanyol dikenang dengan formasi permainan 4-6-0 dengan tanpa striker. Cesc Fabregas berperan sebagi "False Nine" untuk mengecoh pemain belakang lawan. Barcelona di bawah Pep Guardiola sangat nyaman dengan konsep tik-tak tersebut dan strategi penguasaan bola super dominan, lalu menciptakan gol.
Pada masa lalu, tika-taka lebih banyak berupa kerjasama horizontal, kiri-kanan-depan-belakang, baru kalau sudah agak aman, bola dibawa dan dioper ke depan. Para pelatih sepak bola bekerja keras untuk mematahkan konsep tiki-taka itu, mulai dari low-block dan parkir bus, plus serangan balik (counter-attack) yang cepat dan terarah, hingga strategi high pressures (gegen pressing) untuk merebut bola dan ganti mengusai permainan. Di tingkat klub, Liverpool semasa pelatih Juergen Klopp berhasil meredam strategi tiki-taka itu, hingga menjadi Juara Piala Champions dan Juara beberapa Liga Domestik.
Kini di Piala Dunia, Spanyol secara berani melakukan strategi penguasaan bola dan penyerangan agresif dengan tiki-taka vertikal. Semua gerak-gerik, pola, dan kebiasaan para pemain Spanyol (dan pemain Prancis) direkam secara rapi, dibuatkan database, dianalisis dengan hati-hati untuk porsi latihan fisik dan latihan taktik yang akan digunakan selama pertandingan.
Pelatih Prancis Didier Deschamps juga melakukan hal yang sama, merumuskan strategi menyerang dan bertahan yang baik untuk menghadapi Spanyol. Prancis menggunakan formasi 4-3-2-1 dengan menyisakan Kylian Mbappe di depan sebagai striker. Prancis memilih low-block dan mengandalkan serangan balik cepat, yang sebenarnya sering mentah, karena tidak secara penuh menguasai bola. Prancis yang mengandalkan "kuartet maut" Kylian Mbappe agak ke depan, Ousman Dembele, Michael Olise, Bred Barcola, lalu didukung oleh Desire Doue.
Pada pertandingan semalam, keunggulan kualitas individu pemain top kelas dunia itu ternyata banyak patah dalam menghadapi Spanyol. Beberapa tendangan jarak jauh penyerang depan hebat tadi sering melambung dan menyamping, diblok pemain belakang Spanyol. Marc Cucurella di kiri dan Pedro Porro di kanan benar-benar mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
Sport science yang diadopsi, dilatih dan dikembangkan Spanyol adalah posisi tubuh seluruh pemain, bek, gelandang dan penyerang adalah dalam posisi menyerang. Rasanya nyaris tidak ada pemain Spanyol yang tidak siap untuk berlatih keras melakukan hal tersebut. Mungkin juga tidak kebetulan jika pasuka pemain Spanyol di Piala Dunia 2026 ini tidak ada yang berasal dari Real Madrid. Pemain depan Spanyol yang tidak terlalu terbiasa untuk mem-pressures atau bertahan dari dari awal, pasti akan dilatih keras untuk melakukannya.
Strategi high-pressures dengan tiki-taka vertikal ini pasti memerlukan porsi latihan ekstra dan kemampuan VOmax seluruh individu pemain yang sangat prima. Begitu kehilangan bola, para pemain Spanyol berusaha merebut bola sejak awal. Pertama, pemain terdekat atau pemain yang kehilangan bola berusaha merebut balik, lalu 2-3 orang rekannya ikut membantu sambil menjaga dan mem-pressure pemain Prancis. Dengan posisi tubuh siap menyerang, begitu merebut bola kembali, Spanyol langsung siap melakukan penyerangan berikutnya.
Spanyol sering memanfaatkan kelemahan bek sayap Prancis, baik di kiri, maupun di kanan. Dalam menyerang lewat sisi kiri dan kanan itu, Spanyol terus melakukan tiki-taka, operan pendek cepat dan akurat. Spanyol bahkan memindahkan operan tiki-takanya secara vertikal ke depan. Setelah blok berpindah, sebanyak pemain bersiap untuk menerima operan berikutnya, yang pasti membuka ruang kosong untuk segera dieksploitasi lagi.
Dengan posisi tubuh pemain yang dipaksa bertahan terus seperti ini, nyaris pola serangan dan permainan Prancis tidak berkembang, lebih tepatnya tidak memberikan ancaman yang berat bagi Spanyol. Gol pertama Oyarzabal melalui titik penalti adalah salah satu jasa Yamal yang berusaha merebut bola, dengan peluang 50:50, sehingga memaksa pemain belalang Prancis menendang tubuh Yamal. Ketinggalan 0-1 sudah membuat Prancis semakin sulit untuk keluar dari tekanan.
Pada babak kedua, Prancis mencoba untuk menyerang lebih sistematis, dengan beberapa kombinasi serangan, walau tetap mengandalkan Dembele, Doue, dan Olise. Tapi Spanyol terus melakukan high pressures sejak awal, atau menekan untuk mulai menyerang. Akhirnya, Prancis dipaksa kembali bertahan, sehingga pola serangannya praktis tidak jalan.
Gol kedua Spanyol oleh Pedro Porro adalah salah satu bukti aktivitas high pressures dan dukungan atau kesiapan tubuh pemain untuk menyerang lagi. Para pemain Prancis masih sedikit terpaku pada potensi pelanggaran sedikit penalti, tapi dalam konteks bola hidup aktif seperti itu, wasit akan terus memberikan signal play-on karena posisi Spanyol dalam keadaan advantage. Porro datang menyelesaikan tugasnya dengan baik, 2-0 Spanyol.
Apakah Spanyol masih menerapkan strategi serupa di final nanti, atau mungkin akan ada inovasi strategi dan pola permainan menyerang yang lebih menarik, kita tunggu dan nikmati bersama Hari Ahad sore di Amerika Utara dan Senin dini di Indonesia.
*) Bastanul Arifin, Ekonom Penikmat Sepak Bola dan Kuliner