Inilah 5 Kunci Sukses Jasa Marga Elektronifikasi Pembayaran Nontunai

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Gagasan gerakan transaksi nontunai mulai sejak 2007. Jasa Marga, sebagai BUJT yang pertama kali menerapkan sistem ini, saat mulai membangun GTO (gerbang tol otomatis) di beberapa cabang.

Metode yang dibilang baru saat itu merupakan bentuk dukungan Jasa Marga untuk program Gerakan Nasional Non tunai (GNNT). Menindaklanjuti program tersebut, 10 tahun kemudian, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengeluarkan peraturan Nomor 16/PRT/M/2017 mengenai Transaksi Tol Non Tunai di jalan tol.

Hingga 2017, elektronifikasi baru berjalan 30 persen, masih jauh dari 100 persen. Tekad yang kuat dari Jasa Marga berhasil mewujudkan elektronifikasi 100 persen non tunai. Jasa Marga melakukan 5 upaya berikut dalam prosesnya.

Pertama, inovasi pada Gardu Reguler menjadi Gardu Semi Otomatis (GSO) sehingga transaksi menggunakan Kartu e-Toll untuk semua golongan kendaraan dapat dilakukan di semua gardu.

Kedua, melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia, Bank Issuer, BPJT dan BUJT lainnya (sosialisasi, kampanye, pemasangan Reader Dual SAM Multi Applet, dan penyusunan SOP elektronifikasi).

Ketiga, melakukan koordinasi dengan Bank Issuer berupa penjualan E-Toll Card Multi Issuer, penambahan mesin top up multi issuer di setiap GT, dan integrasi sistem tol.

Keempat, bekerjasama Dengan Instansi Lain dalam Rangka Pemilihan Teknologi yang Tepat Untuk Implementasi Pembayaran Elektronik.

Kelima, menyusun Strategi Operasional dalam menghadapi Implementasi Elektronifikasi 100 persen. Jasa Marga mengimplementasikan 100% pembayaran elektronik dilakukan di seluruh GT Sejak 31 Oktober 2017.

Gerbang tol dengan sistem non tunai 100 persen

Pembayaran nontunai di gerbang tol sendiri menawarkan banyak keuntungan. Mulai dari transparansi dalam transaksi sehingga tidak ada kesalahan dalam pengembalian uang kembalian. Transaksi di gerbang tol juga tentunya menjadi lebih mudah karena cukup dengan menempelkan kartu uang elektronik saja. Hal terpenting dalam kebijakan elektronifikasi ini adalah meminimalisir antrean di gerbang tol.

Program ini menjadi satu landmark keberhasilan perusahaan berplat merah tersebut. Tak hanya berhenti di situ, penerapan elektronifikasi 100% non tunai sendiri ini merupakan bagian dari tahapan menuju Multi Lane Free Flow (MLFF). MLFF nantinya menjadi transaksi pembayaran uang tol yang dilakukan tanpa bersentuhan secara fisik dengan peralatan transaksi Tol.

 

Sumber: Meretas Jarak, Menyambungkan Harapan (124 dan 132)

You may also like

Comments are closed.

More in Jalan