Pembagian daging kurban

Memotong Hewan Sendiri dan Tiga Golongan Pembagian Daging Kurban

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Perayaan Iduladha sejak Sabtu dan Ahad diiringi dengan pemotongan hewan kurban. Ahli kurban disunahkan untuk memotong hewannya sendiri.

Udin berniat untuk memotong sapi kurbannya sendiri hari ini, Ahad, 10 Juli 2022. Seusai shalat Iduladha, ia bergegas menyiapkan diri untuk ke lokasi pemotongan hewan kurban.

MENYEMBELIH SENDIRI

Sapi siap disembelih untuk kurban

Paling afdhal, orang yang berkurban menyembelih hewan kurbannya dengan tangannya. Karena kurban adalah bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan kurban bagian dari syiar atau simbol kebesaran agama Islam sehingga sepatutnya seorang muslim terlibat langsung dalam penyembelihan hewan kurbannya.

Ulama sepakat, menyembelih sendiri hewan kurbannya adalah sunnah, tidak wajib. Rasulullah Muihammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyembelih sendiri 63 unta sebagai hadyu. Juga disebutkan dalam Shahihain, dariAnas bin Malik, pernah berkurban dua ekor domba yang ia sembelih sendiri dengan tangannya.

“Beliau sembelih dua ekor domba kurbannya dengan tangannya sendiri.” (Muttafaq Alaih)

Udin sangat ingin melakukannya. Tentu dengan persiapan cukup matang. Sejak kemarin ia telah siap mental untuk menggorok leher sapi. Ia juga menghafal doa untuk memotong hewan. “Setelah bismillah, takbir, lalu membaca doa iftitah,” begitu kata ustadz yang ditirukan oleh Rohmat Bani, sahabat Udin.

Setelah shalat Id, ia berbuka puasa dan sarapan bareng istri tercintanya. Maklum Lebaran Haji, begitu kata orang Betawi, selain berkurban juga mengunjungi keluarga untuk menjalin silaturahim. Udin mengantarkan istrinya ke keluarga mertua. Mereka berkumpul di sana dan Udin akan ke tempat pemotongan hewan kurban.

Tiba di tempat pemotongan hewan, ia terkejut. Tiga ekor sapi sudah terkapar akibat disembelih. “Ada bang Rohmat yang menyembelih sapi,” kata Eddy Rahmadi Arifin menjelaskan kepada Udin.

Secara diplomatis Udin menjawab. “Alhamdulillah sudah ada kader.”

Udin bergegas kembali ke rumahnya. Ia ingat tugas utamanya menunggu ayah yang telah bersamanya selama 18 tahun. Maklum sang ayah yang telah 89 tahun tak boleh ditinggal sendiri.

Menunggu ayah adalah pekerjaan Udin sehari-hari, kecuali ketika ia tugas ke luar kota. Namun di hari istimewa ini ia ingin sekali menyembelih hewan kurbannya sendiri. Untung tak dapat diraih.

PERSIAPAN MATANG

Hati Udin sedikit lega ketika adik bungsunya bersedia datang untuk mengambil daging kurban. “Kalau ada daging kurban, aye mau ya Bang,” tutur si bungsu.

“Datang lebih pagi ya. Abang mau motong sapi sendiri,” pesan Udin yang diiyakan oleh sang adik. Namun hingga waktu pemotongan, si bungsu belum juga datang.

Ia mempersiapkan keinginannya menyembelih hewan kurban secara matang, termasuk pendelegasian tugas untuk menunggu ayah kepada adiknya.

Seusai jadwal, hari Ahad adalah giliran adiknya yang polisi menyiapkan makanan dan menunggu ayah. Namun hingga waktu tiba jam makan pagi, yang diharapkan tak kunjung tiba.

Saudara lainnya mengetahui ketidakhadiran sang polisi menunaikan tugas. Namun mereka tak peduli.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Begitu pun bagi ayah saya. Apa lagi pekerjaan menunggu ini dilakukan berulang kali dan lebih banyak pada hari yang sama ketika sang polisi bertugas.

Di tengah menahan rasa lapar dan ketidakpastian kehadiran, akhirnya ayah pun mengambil keputusan.

“Bapak makan roti saja,” kata ayah Udin.

Udin menangis dalam hati. Seringkali ayahnya telat makan ketika bukan Udin yang menyiapkan. Apa lagi ketika itu hari Ahad. Ia pasti menyiapkan diri lebih dini mengingat peristiwa ini berulang puluhan kali.

Pada hari raya ini, Udin harus lebih ikhlas lagi berkurban. Sabar ya Din…

Kesaraban Udin berbuah kebaikan. Si bungsu datang beberapa menit kemudian sehingga Udin sempat ke tempat pemotongan hewan kurban. Tampak Rohmat telah menyembeli sapi dan beberapa kambing. Masih ada tiga ekor kambing yang belum disembelih.

MEMOTONG KAMBING

Rohmat menyerahkan goloknya kepada Udin. Untuk menyembelih herwan kurban, Udin pun  merobohkan kambing dengan kepala menghadap kiblat. Ia awali dengan membaca bismillah, lalu bertakbir diikuti warga lainnya. Ia pun melakukan sekali dengan gerakan potong pada leher kambing kurban. Darah pun mengalir. Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar.

Panitia lainya menggantung kaki belakang kambing setelah disembelih. Giliran Muhammad Nuh yang menguliti kambing itu. Ia mengiikat saluran makanan dan dubur kambing.

Setelah itu lakukan pengulitan perlahan, keluarkan isi dalam hewan dan pisahkan. Panita lainnya membungkus daging plastik khusus makanan. Kebersihan daging kurban terjaga. Setelah shalat dzuhur daging pun dibagikan.

Udin mengantarkan untuk para kerabatnya. Ada tiga pembagian daging kurban sesuai syariat.

Pertama, shohibul kurban beserta keluarganya.
Kedua, sahabat, kerabat, dan tetangga.
Ketiga, fakir miskin, yatim, piatu, dan dhuafa.

Kelompok terakhir inilah yang paling membutuhkan.

 

 

 

 

You may also like

Comments are closed.

More in Humaniora