Booming Minyak dan Era Awal Industri Otomotif 70-an

INDOWORK.ID, JAKARTA: Dari tulisan sebelumnya berjudul Dari Pakto 1966 Sampai Booming Minyak. Kita dapat mengetahui tentang booming minyak secara global dimulai pada 1974, ketika harga minyak mentah dunia melonjak menjadi  US$10,8 per barel dari semula hanya US$1,5 per barel. Harga minyak dunia kembali naik menjadi US$12,6 per barel setahun kemudian (1975).

Pada era booming minyak di indonesia, pertamina mendapatkan manfaat untuk memulai industri migas

Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh aksi boikot negara-negara Arab yang merespons keputusan Amerika Serikat dan beberapa negara Barat yang mendukung Israel dalam perang Yom Kippur melawan Mesir. Akibatnya, terjadi masalah pasokan minyak secara global, karena negara-negara di kawasan Teluk merupakan produsen minyak terbesar di dunia.

Akibat booming harga minyak dunia tersebut, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami percepatan menjadi lebih 7 persen per tahun dalam tempo 14 tahun (1967-1981).  Pertumbuhan ekonomi yang tinggi membuat pemerintah memiliki cukup uang untuk membangun.

 Tercatat penerimaan negara melonjak sebesar 619 persen menjadi Rp1.770,6 miliar dari Rp246 miliar. Penerimaan yang besar ini mendorong pemerintah melakukan banyak kegiatan pembangunan di sektor selain migas. Misalnya pembangunan infrastruktur jalan meningkat 74 persen dari sebelumnya. Bila pada 1970 jalan nasional yang dibangun 84,29 kilometer, maka pada awal 1980-an jalan yang dibangun bertambah menjadi 146,49 kilometer.

PERTUMBUHAN INDUSTRI OTOMOTIF ERA 70

Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi RI, investasi pemerintah melonjak lebih dari 3.000 persen. Pada era 1970-an, investasi pemerintah mencapai Rp4.014,2 miliar, padahal di era sebelumnya investasi pemerintah hanya berkisar Rp118 miliar. Sementara itu, penjualan produk otomotif di Indonesia mulai merangkak naik.

Pada 1972, volume penjualan produk otomotif mencapai 35.000 unit per tahun, dan terus meningkat menjadi 38.000unit pada 1973 serta kembali tumbuh menjadi 54.000 unit pada 1974. 

Sejak booming harga minyak dunia, pasar otomotif di Tanah Air pun ikutan booming dengan kenaikan penjualan secara signifikan menjadi 78.000 unit pada 1975 dan bergerak naik menjadi 88.000 unit dua tahun kemudian (1977).  Pertumbuhan pasar otomotif di awal pemerintahan Orde Baru tersebut mendorong lahirnya usaha produksi komponen otomotif di Tanah Air. 

Menurut data BPS tentang Sensus Industri 1974/1975, pertumbuhan pasar otomotif mendorong kenaikan jumlah lapangan kerja di subsektor industri ini, baik perakitan, karoseri, maupun komponennya. Pada 1974, jumlah pekerja di subsektor industri otomotif tercatat sebanyak 5.800 orang dengan jumlah perusahaan mencapai 51 perseroan. Jumlah komponen lokal produk otomotif nasional juga masih rendah, baru sekitar 10 persen, yang berupa komponen ban dan cat saja. 

PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors mengembangkan merek Mitsubishi yang terkenal dengan angkutan niaga bernama Fuso

Salah satu perusahaan yang merintis pembangunan fasilitas untuk keperluan original equipment manufacturing (OEM) di Indonesia adalah PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), yang menjadi agen merek Mitsubishi Motors Corporation (MMC). Bahkan perusahaan yang dibangun oleh pengusaha nasional Sjarnoebi Said dan mitranya, Ibnu Sutowo, ini mengklaim mampu memenuhi komponen lokal hingga 52 persen untuk model kendaraan niaga ringan Mitsubishi Colt, tepatnya Mitsubishi T100. 

Menurut company profile KTB dari laman resminya, perusahaan tersebut menjadi distributor mobil Mitsubishi di Indonesia sejak 1970. Kemudian, pada 1973, KTB membangun dua pabrik sekaligus, yakni PT Krama Yudha Ratu Motor (KRM) dan PT Mitsubishi Krama Yudha Motors and Manufacturing (MKM). 

Rizwan Alamsjah, mantan Direktur Pemasaran KTB, menjelaskan sejak awal PT KRM berperan sebagai pabrik perakit mobil Mitsubishi—Per April 2017 berperan hanya sebagai perakit mobil niaga, setelah MMC memecah bisnis kendaraan penumpang dan kendaraan niaga. Sedangkan PT KMM merupakan pabrik komponen mobil terutama komponen bodi, rangka, dan mesin (niaga).

“Menjelang akhir 1980-an, kami membangun pabrik mesin/engine baru,” kata Rizwan pada awal 2021.  

Selain KTB, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, perusahaan lain yang merakit produk otomotif adalah PT German Motor Manufacturing yang dibangun oleh Ibnu Soetowo dan Jenderal M Jusuf. Perusahaan ini merakit kendaraan merek Mercedes dan Volkswagen (VW). 

Perakitan produk otomotif lewat CKD kian berkembang pada era 1970-an. Banyak perusahaan perakitan didirikan, seperti PT National Assembler yang merakit kendaraan merek Hino dan Mazda. Perusahaan ini dimiliki oleh Bachtiar Lubis. Kemudian PT Prospect Motor Company yang dirintis oleh pengusaha Hadi Budiman untuk merakit mobil Honda.

Lalu ada PT Ismac, perusahaan patungan antara Pemda DKI Jakarta dan  Sudono Salim, yang dibangun untuk merakit mobil Volvo, dan PT Multi Astra (1971)—perakit mobil Toyota—dimiliki oleh Astra International Inc yang didirikan William Soeryadjaya. 

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis