Emiten dan Otoritas Perlu Berpihak Kepada Investor Kecil

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Emiten dan otoritas hendaknya memberi peluang lebih besar kepada ritel untuk memperoleh penjatahan pada pasar perdana saat intial public offering (IPO). Perlu keberpihakkan kepada investor agar sendok kecilnya bisa berisi penuh.

Sejak aktif transaksi saham di BEI, – April 2017 – belum sekali pun saya ikut pesan saham dari IPO. Walaupun saya tahu rekor ARA paling subur ada di hari-hari pertama listed.

Selain kerepotan administratif, tidak ada price dan time priority,posisi kelas kambing berhadapan dengan pembeli pembeli raksasa, ada dilema yang tak enak: Pada hot issue, dapatnya cuma sak ndulit. Dapat penuh bila undersubscribed. Tapi harga akan turun di pasar sekunder.

Tapi kali ini, buat Mitratel, MTEL, saya rela untuk ikut rebutan.

PROSPEK MENGGIURKAN

Mata bintitan melihat fairness yang lebih baik dalam IPO anak BUMN. Tentu saja pertimbangan utama, prospek yang menggiurkan, yang menunggu di depan.

Ini dia:

[1] Peluang nilai IPO berada di atas BUKA. Bila harga ditetapkan di batas atas, kapitalisasi akan mendekati Rp90 triliun. Menyelip di antara BC’s. Mencuri perhatian MSCI, FTSE dan lain-lain produsen indeks. Pada gilirannya akan menggiring manajer dana asing.

[2] Pernyataan TLKM akan lock up 12 bulan menunjukkan keyakinan bahwa IPO MTEL marupakan value creation bagi TLKM. Dan keyakinan bahwa harga sahamnya akan naik dari waktu ke waktu.

[3] Perkiraan kasar saya, menara TOWR saat ini lebih banyak dari menara MTEL yang 28.030 itu. Namun pasca-IPO, MTEL akan jauh meninggalkan TOWR dan TBIG. Lebih dari 90% dana IPO akan digunakan untuk ekspansi. Secara organik maupun akuisisi.

[4] IPO akan mengubah tampilan Neraca MTEL. DER akan turun signifikan dari posisi 1,4 x saat ini. Memperbaiki current ratio (saat ini sekitar 0,5x) memperkuat interest coverage.

[5] MTEL akan berhenti menjadi “tukang jualan menara TLKM Group” dan akan lebih fokus pada pembangunan menara, akuisisi menara, leasing menara dan servis menara.

[6] Selama 4 tahun terakhir, pendapatan, laba kotor, gross profit margin, laba usaha, operating profit margin, laba bersih dan net profit margin menunjukkan kenaikan. Sekadar ilustrasi, selama 1H21 laba bersih MTEL mencapai Rp 700 miliar. Angka itu sudah lebih besar dari laba bersih 2020 setahun penuh, Rp 602 miliar.

[7] Tenancy ratio MTEL (1,5 x) masih berada di bawah TBIG dan TOWR ( sekitar 1,89 x). Namun, dalam kacamata saya, ini justeru peluang emas yang luar biasa. Peningkatan tenancy ratio itu dalam bahasa pasaran merupakan “tambahan pendapatan tanpa tambahan investasi dan biaya.”

[8] Peningaktan tenancy ratio itu, pasca-IPO akan terbentang seperti jalan tol. Pertama karena keunggulan lokasi. Mayoritas menara MTEL berada di lokasi unggul. Juga mayoritas di luar Jawa. Operator besar yang ingin ekspansi ke luar Jawa, tentu jauh lebih ekonomis menyewa menara MTEL ketimbang membangun menara baru. Kedua, menara MTEL didukung oleh jaringan fiber optic. Membuka peluang melayani multi tenants.

[9] MTEL sudah mengantongi kontrak jangka panjang yang nilainya cukup besar. Captive market.

[10] Yang ini tentu daya tarik penting juga, terutama buat ritel. Sebagai acuan Basic Dividend Policy, MTEL mencanangkan akan membagikan dividen dengan pay out ratio 70% mulai tahun depan.

Semoga kali ini emiten dan otoritas memberi peluang lebih besar kepada ritel untuk memperoleh penjatahan. Sendok kecilku bisa berisi penuh.

Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Editor Khusus Indowork.id

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis