Tantangan Terbesar Pembangunan Ruas Tol Palembang-Indralaya

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Ruas Tol Palembang-Indralaya secara umum berada di atas tanah rawa atau soft soil. Kembali lagi, Hutama Karya menggunakan inovasi terkini untuk proses perbaikan tanah sebelum melakukan konstruksi melalui teknologi Vacuum Consolidation Method atau VCM.

Teknologi vakum ini berfungsi untuk mempercepat penurunan dan meningkatkan daya dukung tanah asli, dengan cara memompa vakum hingga mengurangi kadar air dan kadar udara pada butiran tanah. Metode tersebut mempercepat penurunan tanah serta mengurangi risiko perbedaan penurunan tersebut.

Terdapat dua sistem VCM yang dipergunakan untuk mengatasi lahan rawa Ruas Tol Palembang-Indralaya, sistem drainase vertikal atau Perforated Vertical Drain (PVD) dan sistem drainase horizontal (Perforated Horizontal Pipe/ PHD). Keduanya mengganti beban tanah dengan tekanan atmosfer. Proses ini akan ditutup dengan teknologi geomembran pada tahap akhir agar tetap kedap terhadap air dan udara dari luar. Geomembran berfungsi mengunci lapisan tanah atau area yang menjadi titik sasaran vakum.

Pada Ruas Tol Palembang-Indralaya, untuk titik tertentu, pada musim penghujan kedalaman air yang menyelimuti tanah bisa cukup tinggi, sedangkan sewaktu musim banjir lima tahunan permukaan air banjir bisa mencapai satu meter dari elevasi tersebut.

Tantangan Terbesar Hutama Karya

Secara umum, tantangan terbesar pembangunan Ruas Tol Palembang-Indralaya menghadapi beberapa kali perubahan konstruksi seperti jembatan, serta karakter tanah rawa yang lunak. Selain itu, pembangunan ruas juga harus mengerjakan pemindahan beberapa infrastruktur vital yang melintang pada ruas jalan utama.

Hutama Karya harus merelokasi tower SUTT 150 kV milik PLN, tepatnya pada titik akses Pemulutan dan KTM. Peninggian konstruksi tower SUTT tersebut sebagai solusi dari masalah tersebut. Terdapat pula tindakan melakukan perubahan konstruksi jembatan penyeberangan orang atau JPO dari konstruksi box tunnel, menjadi pondasi tiang pancang.

Mengubah box water balance tanpa pondasi menjadi box culvert pondasi tiang pancang, melakukan koreksi desain oprit jembatan simpang susun Pemulutan dan Simpang Susun KTM dengan tanah timbunan common borrow material (CBM) menjadi konstruksi pile slab. Di lain sisi, berdasarkan hasil kalendering, didapat hasil bahwa karakter tanah di jalur konstruksi memiliki tingkat kelunakan yang cukup tebal. Temuan itu pun kemudian dibenarkan dengan penelitian lebih lanjut dengan metode boring (NSPT) di beberapa titik yang menghasilkan gambaran detil kondisi tanah.

Perencanaan Pra Konstruksi

Tantangan inilah yang kemudian mendorong mengharuskan menambah kedalaman tiang pancang. Lebih jauh, dalam pra pelaksanaan konstruksi, dilakukan tes geoteknik secara menyeluruh pada Ruas Tol Palembang-Indralaya. Salah satu tes tersebut yaitu Cone Penetration with U (CPTu).

Uji CPTu ini berperan melakukan identifikasi jenis tanah dan profilnya, serta sebagai penegas dari uji tanah yang sebelumnya dilakukan dengan soil boring. Dari hasil uji CPTu tersebut, rerata tanah pada Ruas Tol Palembang-Indralaya memiliki lapisan atas yang soft dan medium begitupun pada kedalaman yang diperkirakan sebagai lapisan tanah asli. Sedangkan lapisan tanah yang lebih dalam lagi, diperkirakan melalui uji CPTu memiliki karakter tanah pasir lepas.

Dalam istilah geoteknik, tanah pasir lepas ini merupakan tanah berbuitr kasar dan cenderung bergradasi seragam. Profil lapisan tanah ini memiliki tantangan dan risiko lebih besar terhadap pembebanan di atasnya. Lebih jauh, lapisan tanah pasir lepas rentan terhadap struktur dan daya dukung rendah, serta mudah mengalami pergeseran akibat gempa. Pembangunan dirancang menggunakan konstruksi penyangga yang lebih kuat dengan daya dukung tanah yang rendah. Dalam realisasinya, timbunan konstruksi tersebut harus dilengkapi tiang pancang atau soldier pile pada kaki timbunan.

You may also like

Comments are closed.