Dalam Pembangunan Jalan Tol, Jasa Marga Terus Tingkatkan Inovasi Bisnis

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Bisnis Jasa Marga dalam pembangunan jalan tol kian sukses dari awal berdirinya tol pertama di Indonesia hingga saat ini. Dalam perjalanan bisnis tersebut, banyak hal yang sudah Jasa Marga curahkan untuk negeri Indonesia ini.

Adapun berbagai inovasi Jasa Marga agar tetap bisa membangun jalan tol dengan inovasi bisnis dibidang keuangan seperti inovasi sekuritasi. Sekuritasi atau penjaminan aset adalah salah satu inovasi alternatif pendanaan yang dilakukan Jasa Marga dan merupakan yang pertama kali dilakukan di industri jalan Tol di Indonesia.

Jasa Marga mencatatkan perdana Kontrak Investasi Kolektif–Efek Beragun Aset (KIK–EBA) Mandiri– PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR 01) Surat Berharga Hak Atas Pendapatan Tol Jagorawi (EBA Kelas A) di Bursa Efek Indonesia. Dilansir dari www.finance.detik.com bahwa Mandiri JSMR 01 merupakan investasi berdasarkan pendapatan di masa depan dari jalan Tol Jagorawi milik Jasa Marga. Sehingga produk ini merupakan KIK-EBA perdana yang berdasarkan (Future Revenue Based Securities) FRBS.

Inovasi Project Bond

Selanjutnya Jasa Marga juga melakukan inovasi Project Bond. Project Bond merupakan inovasi di bidang keuangan dengan menerbitkan obligasi berbasis proyek melalui anak perusahaannya, PT Marga Lingkar Jakarta (MLJ). Aksi korporasi ini menjadi Project Bond pertama di Indonesia.

Ruas Tol ini yang dikelola MLJ ini dipilih sebagai Project Bond perdana Jasa Marga karena memiliki lokasi yang strategis (memiliki konektivitas strategis dengan jalan Tol lainnya dan merupakan jalur utama pergerakan barang di kawasan Jabodetabek), pertumbuhan volume lalu lintas yang sangat baik, serta merupakan sumber pendapatan Tol yang tinggi dan konsisten bagi MLJ.

Selain Project Bond Jasa Marga juga menerbitkan inovasi Komodo Bond. Penerbitan Komodo Bond memungkinkan Jasa Marga untuk lebih mendiversifikasi sumber pendanaannya. Komodo Bond menjadi salah instrumen yang diandalkan Jasa Marga untuk menutupi kebutuhan pendanaan jangka pendek dan pembiayaan proyek jalan Tol.

Dengan penerbitan Komodo Bond ini, maka Jasa Marga menjadi BUMN pertama yang berhasil menerbitkan obligasi global (Global Bonds) dalam mata uang rupiah (Global IDR Bond) di luar negeri. Komodo Bond Jasa Marga sekaligus merupakan obligasi rupiah terbitan institusi Indonesia pertama yang tercatat di luar negeri.

Lazimnya, korporasi dan pemerintah menjual obligasi dalam denominasi dolar AS (Global USD Bond) di luar negeri. BUMN lain diagendakan akan mengikuti jejak Jasa Marga.

Inovasi Reksadana Penyertaan Terbatas (RDPT)

Lalu Jasa Marga juga berinovasi dengan Reksadana Penyertaan Terbatas (RDPT). RDPT bersifat ekuitas, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pendanaan yang bersifat hutang. Sehingga, Jasa Marga dapat menjaga kesehatan finansial perusahaan di tengah ekspansi yang dilakukan.

Hal ini dapat menjadi inovasi alternatif pendanaan untuk mendukung investasi masif yang dilakukan oleh Perseroan. Dalam skema RDPT ini, investor menempatkan dana pada RDPT yang dikelola oleh manajer investasi. Selanjutnya, manajer investasi melakukan akusisi terhadap 20% kepemilikan saham di tiga Anak Perusahaan Jalan Tol (APJT).

APJT Jasa Marga tersebut yaitu PT Jasamarga Semarang Batang (JSB), PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN), dan PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri (JNKK) melalui Special Purpose Company (SPC). Imbal hasil yang diterima investor setara dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 10,25% per tahun dengan jangka waktu investasi selama 5 tahun. RDPT tahap pertama tersebut diterbitkan dengan nilai Rp 1,4 triliun dari total keseluruhan Rp 3 triliun yang diincar.

Kontak Investasi Kolektif Dana Investasi Infrastruktur

Dan yang terakhir adalah KIK-DINFRA, Dinfra merupakan wadah berbentuk Kontak Investasi Kolektif (KIK) yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk diinvestasikan pada aset infrastruktur yang mendukung program pemerintah dan membawa manfaat bagi masyarakat.

Dinfra yang ditawarkan Jasa Marga akan menjadi Dinfra BUMN pertama di Indonesia. Produk investasi inii mirip dengan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT). Akan tetapi, instrumen tersebut memiliki fitur ekuitas dan utang dalam satu cangkang yang sama.

Jasa Marga menerbitkan Dinfra melalui Anak Perusahaannya yaitu PT Jasamarga Pandaan Tol yang mengoperasikan Jalan Tol Gempol-Pandaan sepanjang 13,6 km. Penerbitan Dinfra ini ditargetkan dapat memperoleh dana dengan plafon hingga Rp 1,5 Triliun untuk memperkuat struktur permodalan di proyek-proyek Jalan Tol Jasa Marga.

Dengan inovasi-inovasi tersebut Jasa Marga telah membuktikan bahwa mereka mampu untuk mengelola, membangun, dan mengembangkan infrastruktur jalan Tol di Indonesia. Dan Jasa Marga juga selalu melakukan peningkatan dan evaluasi terhadap kinerjanya dalam infrastruktur jalan Tol maupun bisnis yang lainnya.

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis