Melatih Kepemimpinan Padukan Hard dan Soft Competency

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Fokus strategi pengelolaan human capital PT Wijaya Karya (WIKA) mengalami pembaharuan. Dahulu, fokusnya terletak pada ketersediaan human capital yang tepat waktu, bermutu, dan dalam kuantitas yang memadai (pendekatan tradisional).

Kemudian, beralih kepada kemampuan mengelola talent management secara terintegrasi berbasis teknologi informasi (integrated approaches to managing talent). Menyongsong VISI 2020, fokus strategi pengelolaan human capital WIKA kini sudah beranjak kepada pengembangan program jalur karir, rencana suksesi, dan program pengembangan kepemimpinan untuk seluruh karyawan WIKA.

Hal ini didukung oleh hasil penelitian internal WIKA yang menyatakan bahwa kunci keberhasilan WIKA supaya sustain ke depan adalah kepemimpinan atau leadership. Dave Ulrich, tokoh human capital dunia, pun mengatakan bahwa leadership adalah faktor kunci untuk bisa menghasilkan sustainability perusahaan dalam waktu panjang.

Oleh karenanya, kebutuhan program pengembangan kepemimpinan makin tak bisa ditawar lagi oleh WIKA. Sejumlah riset lainnya menunjukkan betapa pentingnya penyediaan talent atau pemimpin bisnis yang kompeten bagi keberlanjutan perusahaan.

KELOLA TALENT

Sebuah riset mengatakan bahwa talent yang high performers bisa men-generate nilai tambah sebanyak 67% bagi perusahaan secara rata-rata tiap tahunnya dibandingkan yang average performer.

Riset yang lain mengatakan perusahaan yang lebih unggul dalam mengelola talent mampu memberikan total keuntungan (return) bagi pemegang saham sebesar 22% lebih tinggi dibanding yang punya kemampuan rata-rata. Oleh sebab itu, General Manager Departemen Human Capital dan Pengembangan Usaha WIKA, Agung Yunanto, mengungkapkan WIKA ingin unggul pula dalam mengelola talent dengan mendirikan biro talent management tersendiri yang direncanakan akan beroperasi tahun 2015.

Dasar pembentukan biro talent management ini makin menguat karena mendapatkan talent dari luar WIKA juga tak gampang. Sebuah riset mendapati bahwa Indonesia tengah menghadapi kekurangan (shortage) pasokan middle managers yang berkualitas.

Pada 2020 diperkirakan kesenjangan antara pasokan dan permintaan talent di level middle managers di Indonesia mencapai 56%. Pada tahun yang sama, diperkirakan pula perusahaan-perusahaan top di Indonesia hanya sanggup mengisi separuh dari kebutuhan tenaga kerja pemulanya (entry-level jobs) dengan kandidat yang betul-betul berkualitas.

Pertumbuhan talent WIKA yang saat ini masih berkutat di angka 10% harus digenjot agar bisa mengimbangi target pertumbuhan hasil usaha WIKA hingga di atas 20% ke depan. Pembaharuan strategi pengelolaan human capital yang fokus pada pengembangan kepemimpinan dijabarkan WIKA dalam wujud pembentukan program khusus pengembangan kepemimpinan WIKA bernama Advance Leadership Program (ALP).

LATIH LEADERSHIP

Program ini diterapkan secara berjenjang, mulai dari Staf, Kepala Seksi, Manajer Proyek, Manajer Divisi, Manajer Bidang dan Biro, General Manager/Direksi Anak Perusahaan, hingga para eksekutif puncaknya (top executive). Pada umumnya, yang mengikuti program ALP adalah karyawan WIKA yang berprestasi.

Prestasi itu dilihat dari hasil performance appraisal atau penilaian karya dan dari hasil evaluasi kompetensi pegawai yang bersangkutan. Bila hasil penilaiannya baik dan yang bersangkutan dipandang memiliki potensi sebagai talent, maka ia akan dimasukkan ke dalam program ALP. Dalam program ALP, kompetensi primer leadership, baik yang bersifat hard competency maupun soft competency, para peserta dibangun.

WIKA meyakini bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis atau hard competency saja dalam menjalankan perannya, melainkan juga soft competency yang merupakan bagian dari kualitas insani.

Pembekalan yang bersifat hard competency dipusatkan di “WIKAPRATAMA Learning Centre” yang berlokasi di Cibubur. Di sini telah disusun modul-modul standar untuk setiap jenjang pimpinan, baik berupa pelatihan di kelas, praktik/site visit maupun job assignment.

Adapun pembekalan yang bersifat soft competency dipusatkan di “WIKASATRIAN Leadership Centre” yang berlokasi di Desa Pasir Angin, Gadog, Kabupaten Bogor. Jadi, bila mencermati garis-garis besar ALP WIKA tersebut, terlihat jelas bahwa pola pengembangan kepemimpinan di WIKA tidak hanya berorientasikan meningkatkan hard skills, melainkan juga soft skills.

Makin lebih jelas lagi bila meninjau pola pengembangan kepemimpinan yang terkandung dalam program ALP. Di dalamnya, hard competency dan soft competency dipadupadankan.