Cerita Bersejarah Adaro Sampai ke Listrik

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Rabu, 16 Juli 2008 merupakan hari bersejarah bagi keluarga besar Adaro. Hari itu Adaro melakukan penawaran perdana saham (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia dengan melepas 11 miliar saham, atau 35% dari saham tercatat sebesar 32 miliar lembar dengan harga Rp1.100,- per lembar.

Peristiwa tersebut sekaligus mencatat sejarah baru karena berhasil membukukan perolehan dana IPO terbesar sepanjang sejarah bursa efek Indonesia, yakni senilai Rp12,2 triliun atau sekitar US$1,3 miliar. Saham ADRO—kode saham untuk PT Adaro Energy, mendapat pesanan tinggi mencapai Rp76,8 triliun, atau mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 6,57 kali dari nilai saham yang ditawarkan.

Sebagian besar dana go public ini dialokasikan untuk membeli kepemilikan secara tidak langsung atas 33% saham PT Adaro Indonesia (AI), 33% saham PT Indonesia Bulk Terminal (IBT), dan 36% saham Coaltrade Services International Pte Ltd, dari para pemegang saham asing. Ketiga perusahaan itu merupakan unit-unit usaha strategis kami. Sisanya untuk ekspansi dan membayar utang anak perusahaan.

IPO ini diyakini menjadi titik awal kebangkitan, sekaligus sebagai penentu masa depan kami. Setelah melantai di BEI selama 8 tahun, kapitalisasi pasar ADRO telah melonjak menjadi Rp54,216 triliun pada 2016.

ANAK USAHA

Adaro memulai produksi secara komersial di Kalimantan Selatan pada 1992. Kekuatan Adaro terletak pada model bisnis yang kokoh berupa rantai pasokan batu bara yang terintegrasi vertikal dari pertambangan batu bara, jasa pertambangan dan logistik, hingga ketenagalistrikan. Adaro menyebutnya dengan Pit-to-Port-to-Power.

Integrasi ini didukung oleh anak-anak usaha yang menjalankan bisnis di hampir seluruh aspek operasinya. Aset pertambangannya dibawah Adaro Mining dikelola dan dioperasikan oleh sejumlah anak perusahaan antara lain PT Adaro Indonesia (AI), Balangan Coal Companies (PT Semesta Centramas/SCM, PT Laskar Semesta Alam/LSA, dan PT Paramitha Cipta Sarana/PCS), PT Mustika Indah Permai (MIP), PT Bukit Enim Energi (BEE), dan Adaro Metcoal Companies.

Sementara itu, untuk Jasa Pertambangan digawangi oleh PT Saptaindra Sejati (SIS), PT Adaro Eksplorasi Indonesia, PT Jasapower Indonesia, PT Adaro Mining Technologies, dan Coaltrade Services International Pte Ltd.

Divisi Jasa Logistik diperkuat oleh PT Adaro Logistics yang memiliki beberapa anak perusahaan : PT Maritim Barito Perkasa, PT Sarana Daya Mandiri, PT Indonesia Bulk Terminal, PT Indonesia Multi-Purpose Terminal, dan PT Puradika Bongkar Muat Makmur. Bagian akhir dari integrasi vertical adalah sektor ketenagalistrikan yang dikelola oleh PT Adaro Power, PT Makmur Sejahtera Wisesa, PT Bhimasena Power Indonesia, dan PT Tanjung Power Indonesia.

Dengan memiliki anak-anak usaha yang beroperasi di masing-masing segmen dalam rantai pasokan batu bara, Adaro memiliki kendali yang besar terhadap rantai pasokan, sehingga dapat meminimalkan biaya, meningkatkan keandalan, dan meningkatkan efisiensi operasional. Model bisnis integrasi secara vertikal ini merupakan langkah transformasi kami dalam menyikapi dinamika bisnis saat ini dan akan datang.

Salah satunya adalah dengan mengembangkan bisnis non-pertambangan sebagai antisipasi kemungkinan terjadinya fluktuasi harga batu bara di pasar. Melalui transformasi ini Adaro berkomitmen turut membantu pertumbuhan Indonesia dengan cara berpartisipasi di berbagai proyek pembangkit listrik dan menjadi kontributor utama bagi sektor ketenagalistrikan nasional, dengan memanfaatkan batu bara yang diproduksi dari konsesi Adaro sendiri.

SAMPAI KE LISTRIK

Kehadiran divisi ini diharapkan dapat memberikan akses listrik di Indonesia demi mendukung pembangunan negeri ini. Meski bidang kelistrikan termasuk bisnis baru, tapi Adaro membangun reputasi di bisnis ini berkolaborasi dengan perusahaan blue chip tingkat dunia, diantaranya Electric Power Development Co. Ltd. (J-Power), dan Itochu Corporation.

Pada Juni 2011 kedua perusahaan raksasa asal Jepang itu membentuk konsorsium dengan PT Adaro Power dengan nama PT Bhimasena Power Indonesia untuk membangun pembangkit listrik bertenaga batu bara dengan kapasitas 2×1.000 MW di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Komposisi kepemilikan Adaro Power sebesar 34%, J-Power 34%, dan Itochu 32%.

Pembangkit ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2020 dan menelan investasi sebesar US$4,2 miliar. PLTU Batang 2 x 1.000 MW merupakan proyek infrastruktur pertama kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) dan akan menerapkan skema Build, Own, Operate, Transfer (BOOT).

Proyek ini adalah bagian dari Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia dan akan menjadi lokomotif dalam perkembangan ekonomi Jawa. PLTU Batang ini juga merupakan bagian dari program 35.000 MW yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, rencana strategis nasional untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan listrik di Indonesia.

PLTU Batang juga akan menjadi salah satu proyek pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi boiler ultra-supercritical (USC) yang lebih efisien serta ramah lingkungan.

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis