Upaya Menjaga Kesehatan dan Keselamatan Pekerja, Begini Caranya…

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Industri pertambangan, termasuk batu bara, merupakan sektor usaha yang berisiko tinggi. Cara Adaro dapat ditiru.

Adaro berupaya menjaga kesehatan dan keselamatan para pekerja sebagai aset perusahaan dengan cara melakukan pengelolaan mutu, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan lingkungan hidup (MK3LH) yang terbaik dan memastikan perbaikan yang berkelanjutan. Untuk mencapai visinya menjadi grup perusahaan tambang dan energi Indonesia yang terkemuka, Adaro menempatkan MK3LH sebagai prioritas utama dalam operasi.

Diibaratkan sebuah gedung, MK3LH adalah balok penopang atap gedung yaitu visi perusahaan. Pilar tersebut menancap kokoh dalam fondasi yang terdiri dari sumber daya alam (cadangan batu bara), SDM (kemampuan teknis dan manajemen), sumber daya keuangan, dan kelengkapan perizinan usaha.

Ada lima pilar pengelolaan MK3LH, yaitu:

  1. Membangun dan mengembangkan kepemimpinan
  2. Mendidik dan melatih pekerja
  3. Penerapan sistem manajemen
  4. Pengendalian risiko utama
  5. Menegakkan dan menghormati kedisiplinan

Kelima pilar itu mendukung visi Adaro untuk menjadi grup perusahaan tambang dan energi Indonesia yang terkemuka, yang hanya dapat terwujud jika setiap orang yang terlibat dalam kegiatan operasional mempunyai kesadaran MK3LH yang tinggi. Harapannya insan Adaro akan memiliki perilaku yang mengutamakan K3 di atas semua hal lainnya, menjalankan operasi dengan bertanggung jawab secara lingkungan hidup, dan menjalankan proses produksi atau penyediaan jasa secara efektif dan efisien.

Kebijakan MK3LH ini berbuah manis dengan terjadinya penurunan jumlah insiden K3. Lost Time Injury Frequency Rate (LT IFR) dan Severity Rate (SR) cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir, serta tidak terjadi insiden lingkungan yang signifikan di wilayah kerja. Grup Adaro juga mencapai prestasi yang patut dibanggakan dengan mencatat zero fatality atau tidak ada kematian selama 2016.

Continuous Improvement Program

Selain itu, Adaro juga melaksanakan program pengelolaan dan pengendalian air tambang terutama pada saat curah hujan tinggi, dan pengendalian ancaman longsor. Perbaikan yang berkelanjutan terus  dilakukan.

Adaro Energy memastikan bahwa anak-anak usahanya menerapkan langkah-langkah perbaikan yang berkelanjutan melalui program Continuous Improvement Program (CIP) menggunakan pendekatan top-down maupun bottom-up serta menerapkan metode Define, Measure, Analyze, Improve, Control (DMAIC).

Adaro juga mengadakan pelatihan “Quality Mindset + 5R” untuk menanamkan konsep mutu, budaya mutu dan konsep 5R dengan metode teori dan praktik melalui simulasi. Tujuan akhir kegiatan CIP & 5R adalah membentuk budaya dan lingkungan kerja yang baik dalam Grup Adaro.

Antara tahun 2012 dan 2017, Adaro Indonesia (AI) mendapatkan Proper Emas dan Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. AI menjadi perusahaan tambang batu bara pertama yang mendapatkan Proper Emas pada 2012.

Pngelolaan Lingkugan Yang Ketat

Adaro menerapkan standar manajemen pengelolaan lingkungan yang ketat untuk mengurangi dampak operasional terhadap lingkungan. Program yang kami lakukan di antaranya mengubah air bekas tambang menjadi air bersih yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan internal Adaro dan kontraktor.

Air bersih tersebut juga didistribusikan ke 1.773 kepala keluarga di 10 desa di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan pada 2016. Reklamasi lahan bekas tambang juga menggambarkan komitmen Adaro dengan jelas.

Bekas area tambang tidak dibiarkan begitu saja, tetapi dikembalikan ke fungsinya semula. Hingga 2016 Adaro telah mereklamasi 225,3 ha lahan bekas tambang yang diupayakan untuk dapat difungsikan sesuai peruntukan yang disepakati dalam rencana pasca tambang.

Adaro memiliki fasilitas pembibitan seluas 2 ha dengan kapasitas produksi 30.000 bibit per bulan. Bibit tanaman lokal diperoleh dari model hutan reklamasi lahan bekas tambang dan hutan lainnya yang ada di sekitar tambang.

Tanaman hasil pembibitan juga diberikan kepada pemerintah dan warga yang membutuhkan. Adaro juga menjalin kerja sama dengan Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru dalam melaksanakan program perlindungan habitat & satwa liar sesuai dengan rencana pasca tambang yang disetujui pemerintah.

Reklamasi Lahan Bekas Tambang

Lahan bekas tambang dibagi menjadi beberapa zona keanekaragaman hayati untuk dijadikan contoh hutan reklamasi lahan bekas tambang. Salah satu contoh keberhasilan reklamasi Adaro adalah reklamasi di lahan bekas tambang Paringin. Lokasi tersebut kini menjadi hutan rimbun dengan habitat yang sudah terbentuk untuk berbagai flora dan fauna di dalamnya.

Pada 2016 tercatat ada 26 ekor bekantan dan 85 spesies burung di wilayah keanekaragaman hayati Adaro. Kedua jenis hewan tersebut dipilih sebagai spesies kunci karena mudah diamati dan dapat dipergunakan sebagai indikator lingkungan.

Bersama para mitra kerjanya, AI melakukan upaya konservasi hutan melalui pengembangan hutan kota Tanjung, Kabupaten Tabalong. Berdasarkan penelitian yang dilakukan bersama lembaga kehutanan daerah. Hutan kota Tanjung memiliki vegetasi (pepohonan) yang rapat dengan jenis yang beragam seperti tanaman budidaya (karet) dan tanaman hutan jenis pioner seperti Macaranga sp dan Vitex pubescen.

Juga terdapat tanaman buah seperti mangga dan markisa, serta dilengkapi dengan tanaman klimaks seperti gaharu dan shorea balangeran. Hutan kota juga memikat beragam jenis fauna seperti burung (Pycnonotidae, Centropus, Alcedo meninting), dan primata (monyet).

AI juga melakukan program konservasi energi dengan menyusun Sistem Manajemen Energi menurut persyaratan standar SNI/ISO 50001:2012. Sistem Manajemen Energi ini merupakan pelaksanaan UU No. 30 tahun 2007 tentang Energi, dan Peraturan Pemerintah No. 70 tahun 2009 tentang Konservasi Energi, yang mewajibkan pengguna energi ≥ 6.000 TOE (setara ton minyak) untuk melaksanakan manajemen energi.