Menetapkan Langkah Strategis untuk Kembangkan Bisnis Agar Makin Kokoh

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Keputusan WIKA menuju IPO memiliki latar belakang yang cukup panjang. Sejarah IPO WIKA tidak lepas dari terjadinya badai krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1997-1998.

Akibat krisis 1997-1998, WIKA sepi proyek. Kalaupun ada proyek, perusahaan konstruksi harus bersaing sengit dengan banyak perusahaan konstruksi lainnya.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Pengembangan WIKA, Ganda Kusuma, mengisahkan sepanjang 1998-2002, bisnis konstruksi dapat dikatakan ikut luluh-lantak terhempas krisis. Hampir semua perusahaan konstruksi terpuruk.

“Bahkan, ketika itu WIKA hanya memperoleh laba sebesar Rp1 miliar,” cerita Ganda, yang saat itu masih menjabat sebagai General Manager Keuangan WIKA dan ikut serta dalam Tim IPO WIKA. Hal yang sama juga diutarakan General Manager Legal WIKA, Gunawan, yang terlibat dalam proses IPO WIKA.

“Kinerja kami setelah krisis itu boleh dibilang buruk sekali, kehidupan kami menjadi begitu berat dan sulit”. Dalam buku “Menuju Bintang, Strategi WIKA Memperluas Pasar Tanpa Meninggalkan Bisnis Inti” (2005), dikisahkan betapa WIKA, ibarat kapal.

DAMPAK KRISIS

Pada tahun 1998 terlandai badai yang sangat besar yang tidak terduga datangnya. Kapal mengalami kerusakan di sana-sini sehingga kapal tidak bisa melaju menyelamatkan diri.

Padahal, ada banyak penumpang di kapal yang harus diselamatkan. Menghadapi itu, WIKA pun mencanangkan gerakan penyelamatan kapal atau save the ship. Betapa tidak, badai krisis telah membenamkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga minus 13,6% dan sektor konstruksi ikut terpuruk hingga minus 37%.

Sebagai perusahaan yang 70% hidupnya mengandalkan bisnis jasa konstruksi, jatuhnya pasar konstruksi jelas membuat kapal WIKA limbung. Banyak proyek besar yang telah ada dalam genggaman WIKA, seperti pembangunan jalan tol, bandara, jembatan, dan pelabuhan, berhenti total.

Alhasil, penjualan WIKA pun anjlok. Ini menimbulkan masalah besar bagi kondisi keuangan saat itu.

Tahun 1998, pendapatan WIKA terjun bebas hingga ke angka Rp435 miliar, separuh dari pendapatan tahun 1997 yang sekitar Rp800 miliar. Laba yang diperoleh jauh lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Saat pendapatan melorot, likuiditas pun seret. Utang yang harus dibayar lebih besar dari pemasukan yang diterima.

Kala itu, hasil penjualan yang masih berupa piutang diharapkan bisa menjadi jalan keluar untuk menutup lubang utang WIKA. Namun, nyatanya, piutang dari proyek-proyek pemerintah sulit dicairkan.

Lebih alot lagi piutang dari pihak swasta. Ini sulit ditagih karena mereka juga sedang kesulitan likuiditas. Celakanya, 70% pasar jasa konstruksi WIKA justru berasal dari kalangan swasta.

Cari pinjaman baru dari bank pun tak mudah. Karena untuk bayar bunga pinjaman sebelumnya, WIKA pun tak sanggup. Apalagi, hampir semua bank ikut kolaps didera krisis kala itu sehingga bank-bank jelas tak mudah mengucurkan kredit.

BANGKIT DARI KETERPURUKAN

Setelah 1999, ekonomi nasional mulai pulih. Bak kapal, WIKA juga telah lepas dari badai. Kerusakan-kerusakan kapal sudah diperbaiki.

Gangguan-gangguan pada mesin kapal juga telah dibereskan, meskipun kenyataan pahitnya jumlah awak kapal saat itu juga mesti banyak dikurangi. Awal tahun 1998, jumlah sumber daya manusia WIKA di luar karyawan pabrik sebanyak 1.422 dan setelah harus dilakukan perampingan menjadi sebanyak 850 pada akhir tahun 1998.

Pada 1999 WIKA berhasil membukukan penjualan sebesar Rp504 miliar, naik tipis dibanding tahun 1998. Laju kapal juga mulai terbantu oleh dorongan dana perbankan.

LANGKAH STRATEGIS

Dana pinjaman dari sejumlah bank mulai berdatangan kembali ke WIKA. Belajar dari pengalaman buruk tahun 1998 tersebut, manajemen WIKA sepakat bahwa mereka harus menetapkan langkah strategis untuk pengembangan usaha WIKA ke depan agar makin kokoh alias tidak lagi gampang terombang-ambing gejolak.

Buku Perencanaan Jangka Panjang WIKA tahun 1998-2003 menyebutkan, sasaran tahun 1998-2000 memang adalah bertahan hidup (survival). Sasaran tahun 2000-2004 adalah beranjak menuju better performance, yaitu menata perusahaan agar kinerjanya lebih baik.