Dunia Keuangan Bergeser, Di Manakah Indonesia Memosisikan Diri?

INDOWORK.ID, JAKARTA: Di bidang keuangan – dari sini juga ekonomi – nampaknya dunia, kini, bergerak ke arah tatanan baru. Berharap tatanan yang lebih adil. Lebih setara. Tak ada yang bisa memungkiri peran China yang sangat sentral dalam pergeseran itu. Lalu di manakah kita memposisikan diri?

Hampir delapan dekade, ekonomi dunia dikuasai, diatur bahkan didekte oleh Amerika Serikat.

Berawal dari doktrin Henry Kissinger: “Control food and you control people. Control oil and you control nations” minyak dari negara negara Teluk – lalu OPEC – harus dihargai dalam USD. Sebagai imbalan dari perlindungan keamanan dan persenjataan oleh AS. Tidak hanya minyak dan energi, bahkan praktis semua produk produk vital yang diperdagangkan secara internasional, dihargai dalam USD.

Akibatnya tentu mudah dibayangkan. Lahirlah ekonomi petrodolar. Negara-negara yang memiliki sumber daya alam, akan memperoleh USD. Negara-negara yang tidak punya akan mati-matian menjual apa pun untuk memperoleh USD. Tanpa USD mereka tak bisa melakukan impor untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan.

Negara-negara yang memperoleh USD, itu juga, pada gilirannya akan memompakan kembali daya beli mereka ke AS. Dalam bentuk pembelian treasuries – karena memberikan imbal hasil – dalam bentuk investasi, atau sekedar membeli aset yang dengan mudah diperjual-belikan dalam mata uang green back.

Jadilah USD menjadi alat pembayaran internasional. Jadilah USD menjadi mata uang devisa.

Dominasi USD semakin menjadi jadi sejak Nixon meluluh-lantakkan Bretton Wood Agreement. Sebagimana kita baca, BWA merupakan hasil negosiasi 44 negara pada Juli 1944, yang antara lain menyepakati, bahwa USD dan mata uang lain yang dikaitkan dengan USD, harus didukung oleh cadangan emas yang disimpan di bank sentral. Sejak itu, AS dengan bebas mencetak uang untuk membeli apa pun yang mereka inginkan. Menggunakan ketergantungan global terhadap USD untuk memaksakan kehendak mereka. Bukan hanya di bidang ekonomi, tapi praktis di semua aspek kehidupan.

Kehadiran China dengan pertumbuhan ekonomi dua digit selama lebih tiga dekade, menggeser dan menjadi tantangan hegemoni tersebut. China yang membanjiri dunia dengan produk-produk murahnya, dengan cadangan devisa yang pernah mencapai lebih dari USD3 triliun, dengan dominasi dalam perdagangan internasional dan dengan peran paling dominan pula sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi global, melahirkan yuan sebagai mata uang internasional.

MENEBAR PENGARUH

China dengan kekuatan finansial dan ekonominya, menebar pengaruh di seluruh dunia. Melakukan investasi besar-besaran di banyak negara. Terutama di benua Afrika. Zimbabwe, misalnya, karena bantuan keuangan dari China, secara resmi menggunakan yuan sebagai alat tukar dalam negeri mereka.

Embargo ekonomi AS + NATO telah mengakibatkan krisis energi dan pangan di berbagai negara. Terutama negara berkembang. Menyulut kembali dendam mendekam – seperti api dalam sekam – dari negara negara bekas jajahan barat.

Dunia harus berterimakasih kepada Rusia yang mempercepat pergeseran tata keuangan global yang baru itu. Sebagai produsen utama dari banyak produk penting – utamanya energi dan pangan – Rusia menjual produknya dengan pembayaran menggunakan rubel atau emas. Juga berkembangnya LCS (Local Currency Settlement) dari berbagai hubungan bilateral. Semua itu mengurangi ketergantungan dunia terhadap USD.

Dalam pertemuan puncak China dan Negara Negara Teluk, beberapa waktu lalu, negara-negara pengekspor minyak itu menyetujui pembayaran minyak mereka dalam mata uang yuan. Petrodolar pelan tapi pasti bergeser ke arah petroyuan.

Jauh sebelum itu, satu blok ekonomi telah bersepakat. Five leading emerging economies, BRICKS – Brazil, Russia, India, China, dan South Africa – menyepakati, antara lain, pembentukan mata uang dunia yang baru dengan standar emas. Lima negara tersebut meliputi 40% penduduk dunia.

Konon Turki, Mesir, dan Arab Saudi akan segera bergabung ke dalam BRICKS. Standar emas akan menghilangkan kerepotan dari fluktuasi nilai tukar. Mengembalikan kepercayaan terhadap alat tukar transaksi global. Lebih dari itu, membangun kesetaraan antarnegara, secara finansial.

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Infrastruktur.co.id

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis