Penggunaan dan Pengembangan Baja Berkadar Tinggi di Tanah Air

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Di tengah realisasi produksi otomotif nasional yang berada di kisaran 1,3 juta unit per tahun. Industri hulu baja masih kesulitan memenuhi skala ekonomi untuk memasok kebutuhan subsektor kendaraan bermotor nasional.

Sebaliknya, produsen komponen maupun pabrikan otomotif, membutuhkan spesifikasi bahan baku baja berkadar tinggi. Ambil contoh, untuk material baja, dibutuhkan produk jenis Advance High Strength Steel (AHSS) yang kini dipergunakan oleh setidaknya 60%-70% produk mobil di dunia.

Jenis baja ini mempunyai spesifikasi antara lain berdaya tahan lama, namun dapat mengikis bobot. Penggunaan material pun terus dikembangkan hingga terdapat pabrikan yang berhasil menggunakan bodi berbahan serat karbon.

Hal ini sejalan dengan tuntutan global untuk memenuhi standar ramah lingkungan. Mulai dari produksi material, proses produksi mobil, hingga produk kendaraan tersebut dipergunakan dengan catatan emisi karbon serendah mungkin. Tren lainnya, guna memenuhi prinsip ramah lingkungan, pabrikan pun harus memilih material yang lebih mudah dan murah untuk proses daur ulang serta penggunaan kembali (recycle-reused).

Sejauh ini, aluminium masih merupakan opsi utama sebagai alternatif dari penggunaan baja.

Penggunaan Material Lokal Terhadap Pasar

Di Tanah Air, penggunaan material lokal khususnya baja selalu diupayakan. Namun, pertumbuhan pasar yang relatif tidak besar untuk industri baja serta tuntutan spesifikasi yang terus berkembang, membuat produsen bahan baku baja tidak memfokuskan produk yang dihasilkannya pada pasar otomotif.

Sehingga, walaupun tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) produk otomotif telah mencapai 60%-90%, menurut Widodo Setya Darmadji, Executive Director dari the Indonesian Iron and Steel Association (IISA), bahwa “true localization” masih terbilang rendah karena sebagian besar material komponen masih diimpor.

Berdasarkan data World Steel Association. Setiap kendaraan yang diproduksi saat ini membutuhkan baja sekitar 900 kg yang dipergunakan untuk berbagai aplikasi, antara lain;  40% digunakan pada struktur bodi, panel, pintu dan penutup bagasi, yang memerlukan kekuatan dan penyerapan energi tinggi jika terjadi tabrakan.

23% dipergunakan untuk penggerak (drive train) yang terbuat dari besi tuang untuk blok mesin dan baja karbon untuk roda gigi tahan aus. 12% dipergunakan untuk komponen suspensi yang terbuat dari baja strip berkekuatan tinggi.

Sisanya terdapat pada roda, ban, tangki bahan bakar, kemudi, dan sistem pengereman.

Pengembangan Baja Unggul Berkekuatan Tinggi

Untuk memenuhi tantangan penurunan bobot kendaraan agar memiliki efisiensi lebih baik, industri baja telah mengembangkan baja unggul berkekuatan tinggi (AHSS) yang saat ini digunakan untuk hampir setiap desain kendaraan baru. Jenis baja yang termasuk dalam kelompok AHSS antara lain Dual Phase (DP), Complex-Phase (CP), Ferritic-Bainitic (FB), Martensitic (MS), Transformation-Induced Plasticity (TRIP), Hot-Formed (HF), dan Twinning-Induced Plasticity (TWIP).

Jenis-jenis baja tersebut berkekuatan sangat tinggi. Saat ini juga dikembangkan generasi ketiga AHSS yang berkekuatan hingga 1,2 GPa.

Dengan penggunaan baja berkekuatan lebih tinggi, maka bobot mobil dapat diturunkan secara signifikan. Hal ini diupayakan untuk meningkatkan efisiensi kendaraan serta meningkatkan aspek keselamatan. Penggunaan AHSS dapat menurunkan bobot kendaraan hingga 100-300 kg.

Bahkan dengan penggunaan desain lebih maju, yang dikenal sebagai Future Steel Vehicle (FSV), akan dapat menurunkan bobot kendaraan lebih lanjut.

Perkembangan AHSS juga turut membantu mendorong perkembangan kendaraan listrik karena berkontribusi pada penurunan bobot kendaraan, disamping karena desain baterai yang semakin inovatif dan aman. Industri baja juga terus mengembangkan berbagai jenis baja baru untuk menjawab tuntutan perkembangan kendaraan listrik.

You may also like

Comments are closed.

More in Otomotif