Indonesia dalam Pertarungan Melawan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Pemanasan global adalah kenyataan yang hari ini dihadapi masyarakat dunia.

Selain menyebabkan anomali cuaca, pemanasan global juga memicu kenaikan level air laut. Bahkan, ada yang menyebutkan dampak kenaikan air laut tersebut berpotensi menenggelamkan kota-kota besar di dunia, salah satunya Jakarta.

Salah satu penyebab utama pemanasan global yang tak terkendali adalah efek gas rumah kaca (GRK) karena emisi karbon CO2. Terdapat data yang menunjukkan konsentrasi CO2 pada atmosfer telah mencapai 400,26 ppm pada 2015.

Sektor transportasi di mana produk otomotif masuk bagian tersebut dianggap penyumbang terbesar GRK karena mengonsumsi energi fosil dengan emisi karbon tinggi. Gerakan global pun digulirkan.

Tercatat, hampir seluruh negara-negara di dunia mengikuti pertemuan yang kemudian dikenal sebagai Paris Agreement atau COP21 (Confrence of Parties ke-21). Pertemuan itu menyepakati berbagai hal, antara lain, mengendalikan peningkatan suhu bumi kurang dari 2 derajat celcius dibandingkan suhu dunia era sebelum Revolusi Industri yang pertama.

COP21 itupun berlanjut hingga COP23 yang membangun komitmen tiap negara melalui rencana strategi konkret mengerem perubahan iklim. Indonesia ikut berperan aktif dalam komitmen global itu.

Strategi Indonesia dalam Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca (GRK)

Pemerintah telah menyusun strategi dan langkah mengurangi GRK melalui Intended Nationally Determine Contribution (INDC) kepada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC).

Indonesia juga berkomitmen tinggi dengan menargetkan penurunan emisi GRK sebesar 29% dibandingkan BAU (Business as Usual), dengan tambahan 12% menjadi 41% dengan sokongan bantuan internasional pada 2030.

Secara umum, Indonesia telah memiliki Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). RUEN kemudian dijadikan acuan terhadap penggunaan bahan bakar di seluruh sektor industri. Dalam RUEN, pemerintah menetapkan langkah sinergi memangkas tingkat emisi GRK di seluruh sektor.

Emisi GRK paling besar sejauh ini disumbangkan oleh buangan pembakaran energi fosil. GRK sektor energi tersebut mencapai 464,4 juta ton CO2 pada 2014.

Persoalannya, GRK sektor energi itu berasal dari beragam aktivitas bisnis, seperti pembangkit listrik (33%), sektor industri (30%), transportasi (29%), dan sektor lainnya (8%).

Tren Perkembangan Teknologi Mobil Listrik untuk Menekan Emisi GRK di Sektor Transportasi

Untuk menekan emisi GRK sektor transportasi, tren perkembangan teknologi mobil listrik pun diadopsi sebagai strategi. Sebagaimana tertera dalam RUEN, ke depan pemerintah bakal menggenjot elektrifikasi sejalan dengan penyediaan pembangkit tenaga listrik yang ditargetkan lebih dari 115GW, sedangkan pada 2050 mencapai 430GW.

Bersamaan dengan itu, sektor transportasi secara perlahan bakal beralih dari menenggak bahan bakar fosil beralih kepada sumber energi lainnya. Saat ini, BBM mencaplok porsi terbesar yang digunakan sektor transportasi sebesar 96,0%.

Dalam RUEN, porsi tersebut terus dikikis. Pada 2025, penggunaan BBM sektor transprotasi ditargetkan hanya 83,5%, dan 72,9% pada 2050. Seiring dengan hal itu, penyediaan sumber energi sektor transportasi beralih kepada BBN, energi listrik, dan gas.

Informasi terkini, Indonesia juga berperan aktif dalam COP26. Konferensi, yang dikenal dengan Pakta Iklim Glasgow, telah meningkatkan kepercayaan dan modalitas untuk implementasi yang lebih nyata dari berbagai elemen Paris Agreement.

Catatan substansi yang cukup krusial dan menjadi diskusi cukup hangat adalah tentang penghapusan/pengurangan penggunaan batubara dan subsidi bahan bakar fosil.

Salah satu elemen penting dalam agenda ini adalah aturan main mengenai kerjasama antar negara maupun antara pelaku usaha dengan otorisasi nasional sebagai bagian upaya pemenuhan komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) yang merupakan konsekuensi setiap negara pihak terhadap Persetujuan Paris.

You may also like

Comments are closed.

More in Jalan