Potensi Indonesia sebagai Peran Utama Industri Baterai Global, Seng Ada Lawan…

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Selain memiliki cadangan nikel dalam jumlah besar, Indonesia juga memiliki material baterai penting lainnya seperti aluminium, tembaga, mangan, dan cobalt. Potensi Indonesia sebagai Peran Utama Industri Baterai Global, Seng Ada Lawan…

Cadangan tersebut memiliki posisi strategis dalam industri baterai global. Penting untuk dimanfaatkan agar tidak kehilangan momentum.

Dengan produksi nikel sulfat sekitar 50-100 kton per tahun (hanya dari PT IBI) untuk melayani ekspor global dan permintaan lokal, ini menjadikan Indonesia sebagai pemain global material hulu baterai. Selanjutnya, dengan memanfaatkan hulu untuk membangun rantai nilai tengah dan hilir yang kuat, Indonesia diharapkan dapat menjadi produsen prekursor & katoda global.

Indonesia mampu memproduksinya dengan output 120-240 kton per tahun (hanya dari PT IBI) untuk kebutuhan ekspor dan domestik. Di sisi hilir, Indonesia juga diperkirakan mampu menjadi pemain regional untuk sel baterai dan pusat manufaktur xEV di Asia Tenggara.

EKOSISTEM BATERAI

Pada 2025, Indonesia direncanakan memiliki ekosistem industri baterai dari hulu sampai hilir, mulai dari tambang nikel, smelting/refinery nikel, prekursor/katoda, battery cell, dan battery pack. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dapat menunjang pengembangan Industri Kendaraan Listrik Nasional (IKLN).

Salah satu caranya adalah dengan melalui pengembangan industri baterai dari hulu sampai hilir dengan nilai investasi berdasarkan “benchmark” berkisar di atas US$10 miliar untuk menghasilkan kapasitas produksi baterai 140 GWh pada 2030. Dan kontribusi nilai tambah terhadap Produk Domestik Bruto mencapai lebih dari US$16,4 miliar per tahun dalam kurun sejak 2025-2030.

Kementerian BUMN telah resmi membentuk holding baterai listrik dengan nama Indonesia Battery Corporation (IBC), yang dalam Bahasa Indonesia disebut Industri Baterai Indonesia (IBI). Holding ini sejak awal didesain terdiri dari empat BUMN di bidang energi yakni PT Indonesia Asahan Aluminium atau yang dikenal sebagai MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk., PT Pertamina, dan PT Perusahaan Listrik Negara.

KENDARAAN BERBASIS BATERAI

Konsorsium BUMN ini bermitra dengan berbagi investor untuk mencapai sejumlah target yang ditetapkan pemerintah dalam rangka menjadi pemain utama era mobil listrik.

Pembentukan PT IBI adalah juga salah satu usaha pemerintah mendorong pengembangan ekosistem industri KBL dan baterai KBL menindaklanjuti penerbitan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle). Kemudian, ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-28/MBU/01/2020 Tentang Pembentukan Tim Percepatan Pengembangan EV Battery BUMN.

Selain itu juga telah diterbitkan sejumlah peraturan lainnya yang mendukung dari berbagai kementerian. Pada dasarnya, berbagai kebijakan pemerintah tersebut bersifat mengontrol perkembangan kendaraan berbahan bakar minyak dan mendorong pengembangan pasar KBL-BB (EV).

Rencana aksi pengembangan industri KBL-BB dan baterai KBL ini juga telah disusun dengan memetakan peran berbagai pemangku kepentingan dari lingkup pemerintah, BUMN, institusi penelitian dan pengembangan, serta sektor swasta dan berbagai BUMN lainnya.

Seiring dengan peningkatan penggunaan KBL di masa yang akan datang, terdapat potensi penurunan permintaan bahan bakar minyak. Di titik ini, PT Pertamina selaku perusahaan yang terdampak perlu mengantisipasi dengan memandang perkembangan tersebut sebagai pendorong untuk masuk ke industri baterai.

Dengan keunggulan sumber daya untuk memproduksi baterai yang dimiliki Indonesia, IBI atau/dan Pertamina dapat mulai merencanakan untuk go global. Mereka perlu memperhatikan beberapa faktor seperti pemilihan segmen pasar yang tepat, pemilihan teknologi untuk pengembangan ke depan, life cycle teknologi, pemilihan sourcing material, trend penurunan harga cell battery, dan memulai pengembangan kemampuan teknologi secara in house.

Cara pandang penguatan industri serta menangguk peluang era EV bagi kepentingan nasional telah ditetapkan sebaik-baiknya oleh pemerintah. Pelibatan berbagai perusahaan pelat merah, termasuk Pertamina dan PLN yang menjadi tulang punggung industri baterai, merupakan strategi jitu.

PERSAINGAN DI ASEAN

Di sisi lain, strategi ini harus berhadapan dengan persaingan tingkat global, bahkan regional. Tiap-tiap negara tengah memperkuat industri otomotif masing-masing guna menyongsong era EV.

Tak lain, hingga kini sektor otomotif dapat dikatakan memegang peranan signifikan bagi penyumbang PDB, yang di Thailand mencapai lebih dari 30%. Begitupun negara seperti Malaysia ataupun Vietnam yang mengharapkan industri otomotif mampu menyerap tenaga kerja lebih besar.

Thailand yang hingga kini berstatus sebagai hub otomotif Asean, juga tak mau ketinggalan gerbong. Negeri tersebut telah menargetkan untuk memproduksi sedikitnya 750.000 unit kendaraan listrik, atau setara 30% dari kapasitas terpasang pabrik otomotif di sana, pada 2030.

Selain itu, Thailand pun memproyeksikan produksi 53.000 unit motor listrik secara massal pada dua tahun mendatang sejumlah, serta 5.000 unit bus listrik dalam lima tahun. Guna menyukseskan program tersebut, Thailand merancang program produksi HEV yang melibatkan Toyota, Nissan, Honda, dan Mazda. Dan juga program produksi PHEV bersama pabrikan Mitsubishi, Mercedes Benz, BMW, Audi, dan Saic Motors, serta program produksi BEV.

Melihat persaingan tersebut, Indonesia memiliki potensi alam dan kebijakan gotong royong yang dapat mengalahkan program insentif Thailand dalam persaingan produksi baterai. Studi menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan dengan produksi baterai terintegrasi, komponen lokal, dan tenaga kerja yang dapat menghasilkan efisiensi biaya produksi EV hingga 5% lebih rendah dibandingkan Thailand.

You may also like

Comments are closed.

More in Otomotif