Proton, Mobil Nasional Malaysia yang Pernah Bersinar Kini Jatuh ke Tangan Pabrikan Asing

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Keberhasilan mobil nasional Proton di pasar domestik sangat jelas. Hal ini dikarenakan ada dukungan besar Dr. Mahatir Mohammad sejak menjabat Perdana Menteri Malaysia pada 1981 hingga lengser pada 2003.

Perjalanan Karir Proton di Pasar Otomotif Malaysia

Selama pemerintahan Dr Mahathir (sekitar 23 tahun), Proton mendapat proteksi di pasar domestik dan insentif pajak. Proteksi tersebut adalah upaya mobil nasional ini agar memiliki harga jual yang lebih terjangkau.

Tak heran sejak mobil nasional pertama ini dipasarkan pada 1985, penjualan Proton meningkat pesat dalam 10 tahun pertama. Tahun pertama (1985) penjualan mobil Proton hanya 7.500 unit. Seketika, pada 1995 volume penjualannya sudah menembus angka 111.300 unit. Bahkan di puncak kejayaannya, Proton memiliki pangsa pasar 74 persen di pasar domestik.

Ketika Asia dilanda krisis keuangan, penjualan Proton turut terdampak sehingga turun menjadi 87.489 unit pada tahun 1998. Padahal dari sebelumnya 196.806 unit.

Namun, selepas krisis keuangan di Asia itu, penjualan Proton kembali meningkat hingga mencapai puncaknya pada tahun 2002 dengan volume 214.373 unit.

Selepas 2002, penjualan Proton cenderung menurun, tak mampu tembus 200 ribu unit lagi, terutama disebabkan lahirnya mobil nasional Malaysia kedua dengan merek Perodua. Sempat naik lagi penjualannya pada 2008, selanjutnya penjualan Proton terus menurun di pasar domestik.

Selama periode 1985-2013 total penjualan mobil Proton mencapai 3,5 juta unit. Lengsernya Dr Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia pada 2003 diduga menjadi penyebab turunnya kinerja Proton di pasar otomotif.

Penurunan Kinerja Proton setelah Hilangnya Proteksi Pasar dan Insentif Pajak

Penjualannya cenderung menurun, tidak seperkasa kala Dr Mahathir sebagai Perdana Menteri. Setelah proteksi dan perlakuan istimewanya dicabut oleh pemerintahan Perdana Menteri Mohammad Najib Abdul Razak, pasar domestik pun semakin berat bagi Proton.

Singkatnya, kinerja keuangan Proton terus merosot hingga tercatat rugi 2,5 miliar ringgit. Pemegang sahamnya, Khazanah Nasional Berhad sebagai wakil pemerintah, terpaksa menjual sahamnya untuk menyelesaikan masalah keuangan Proton.

Sejarah mencatat perusahaan swasta Malaysia DRB-Hicom Bhd membeli 42,74 persen saham Khazanah di Proton senilai 1,29 miliar ringgit atau setara US$412 juta pada Januari 2012. Setelah itu, DRB-Hicom Bhd yang dimiliki konglomerat Malaysia Syed Mokhtar menambah jumlah sahamnya di Proton menjadi sekitar 90 persen lewat pasar modal Malaysia.

Setelah menguasai saham mayoritas di Proton, pada April 2012 DRB-Hicom Bhd memutuskan membawa Proton keluar dari pasar modal Malaysia atau delisiting sejak menjadi anggota bursa Malaysia pada tahun 1992. Sayangnya, strategi DRB-Hicom membawa Proton menjadi perusahaan swasta atau go private tidak banyak membantu memperbaiki kinerja Proton.

Sebab pangsa pasarnya terus mengalami penurunan hingga tinggal 17,3 persen pada 2015 dan menurun lagi menjadi 14 persen dengan volume 72.290 unit pada 2016. Volume penjualan itu jauh sekali bila dibandingkan kapasitas pabriknya yang mampu memproduksi 400.000 unit per tahun.

Kemitraan Strategis dengan Geely yang Membawa Perubahan bagi Protona

Tren penurunan kinerja ini membuat DRB-Hicom Bhd kesulitan menyelesaikan masalah keuangan Proton hingga akhirnya menyerah dengan menjual sahamnya pada pabrikan otomotif asal China, yakni Zhejiang Geely Holdings Group (Geely) pada Juni 2017. DRB-Hicom Bhd menjual saham sebesar 49,9 persen senilai 460,3 juta ringgit.

Sejak itu Proton pun menjalin kemitraan strategis dengan Geely dan mobil nasional Malaysia itu pun kini dikendalikan oleh pabrikan China. Fakta yang mungkin tidak diharapkan oleh cita-cita sang pendirinya, Dr Mahathir Mohamad.

Di bawah kendali Geely, Proton memangkas biaya produksi dengan cara menggunakan komponen yang lebih murah dari China dan memutuskan kerja sama dengan sejumlah pemasok kompomen lokal. Kebijakan ini berhasil memangkas biaya produksi Proton sebesar 30 persen selain memangkas jumlah gudang logistiknya menjadi 4 gudang dari 16.

Dikutip dari reuters.com (Januari 2020), Proton berhasil menghemat biaya produksi sebesar 250 juta ringgit atau setara US$61,5 juta pada 2018.

Pada 26 Juni 2021, kemitraan strategis Proton dengan Geely berusia empat tahun. Di bawah kendali produsen otomotif asal China ini, Proton memiliki kinerja positif dari sebelumnya.

Menurut laman resmi proton.com, pada 2020 penjualan Proton tumbuh 8,8 persen dengan meraih pangsa pasar 4,4 persen dibandingkan tahun 2019. Dan per April 2021, penjualan mobil Proton juga tumbuh 0,18 persen menjadi 15.017 unit dengan pangsa pasar 26,7 persen di pasar domestik.

Model sedan Proton Saga menjadi model terlaris dengan volume penjualan 5.472 unit, disusul SUV Proton X50 dengan penjualan 3.583 unit. Li Chunrong, CEO Proton, mengatakan Proton tidak hanya ingin mendominasi pasar otomotif Malaysia, tapi juga pasar otomotif Asia Tenggara yang memiliki populasi 500 juta orang.

Strategi jangka panjang dari Geely ini akan membawa Proton masuk ke pasar Thailand, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Selain itu, Proton juga mengincar pasar Timur Tengah sekaligus meningkatkan penjualannya di Mesir.

You may also like

Comments are closed.

More in Otomotif