Kalkulasi Prabowo dan Peluang Cawapres Anies Baswedan

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Jika melihat rentang waktu, boleh dibilang Prabowo Subianto adalah calon presiden paling lama dalam kontestasi politik. Keseniorannya menjadi top mindset kebanyakan masyarakat Indonesia.

Semenjak ia secara resmi mendaftar konvensi calon presiden Partai Golkar, 21 Juli 2003 lalu, hingga kini, genap 20 tahun sudah tekadnya tertanam untuk menjadi tokoh pemimpin nomor satu di negeri ini.

Semenjak itu, Prabowo selalu berada dalam arus pusaran persaingan dan penguasaan dukungan pemilih. Penulis mencatat Prabowo satu yang tersisa dari era generasi lampau seperti Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Amien Rais, maupun Wiranto.

Kontestasi terakhir adalah pertarungan Prabowo-Sandiaga Uno bersama Joko Widodo-Ma’ruf Amin pada Pemilu 2019. Meski mengalami kekalahan, nama Prabow tidak redup, praktis dalam empat tahun terakhir, dia berada di tiga besar bursa capres terpegah.

Tidak menutup kemungkinan pada Pemilu 2024 mendatang, dia kembali bertarung dalam politik, berhadapan dengan generasi kini calon kepresidenan.  Lalu siapa yang cocok mendampingi sebagai Cawapres?

MODAL KUAT PRABOWO

Prabowo Subianto

Meski kemenangan belum berpihak pada Prabowo, kegigihannya belum berbuah dalam jabatan kepresidenan. Padahal berbagai upaya telah ia korbankan. 

Sebagai calon pemimpin Negara, modal politik yang dimiliki Prabowo terbilang lengkap. Ia memiliki keturunan dari keluarga pemimpin. 

Bahkan, Prabowo terlahirkan dari sosok intelektual, begawan ekonomi, dan pejuang negeri ini, Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo. Modal tersebut menjadi legitimasi pemimpin berkelas yang tidak dilahirkan dari kelompok pariah.

Begitu pula, persinggungannya dengan Presiden Soeharto, di saat ia membangun keluarga dengan putri presiden (Titiek Soeharto), semakin mengukuhkan kualitas trah politik simbolik dirinya.

Aspek lain, Prabowo juga pernah menjadi prajurit TNI. Bahkan ia memiliki karir militer yang cemerlang. Sisi intelektualitas, kepemimpinan, keberanian, dan jiwa patriotnya tidak lagi teragukan, kendati di akhir perjalanan karir militernya sempat tersandung persoalan.

Begitu pula jaring-jaring sosial yang dikuasai Prabowo pun tergolong luas. Selain berelasi dengan militer, ia juga melebarkan pengaruhnya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Dia sempat menjadi pimpinan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).  

Selain itu, dalam politik ia membangun jaringan politik di berbagai partai. Diawali dalam tubuh Partai Golkar, tahapan selanjutnya melalui Partai Gerindra yang ia bangun membuat relasi sosial maupun politik Prabowo menjadi semakin luas lagi.

Tidak kalah penting, semua penguasaan kapital tersebut kian dilengkapi oleh modal ekonomi yang dikuasainya. Selepas karir militer, ia mampu membangun kekuatan ekonomi dalam skala global. Ia menjadi pengusaha dengan kekayaan mencapai triliun rupiah. 

Dalam laporan harta kekayaan jelang Pemilu 2019 yang diumumkan KPK di situs elhkpn.kpk.go.id pada tahun 2018 lalu, total kekayaannya senilai Rp1.952.013.493.659.  Sebelumnya,  pada Pemilu 2014, hartanya total sebesar Rp1.670.392.580.402 dan USD7.503.134.

Selain Prabowo, adiknya yang banyak menyokongnya dalam setiap pemilu, Hashim Djojohadikusumo,  pun dikenal sebagai pebisnis tangguh dengan kekayaan berskala konglomerasi. 

Singkatnya, jika ukuran penguasaan ataupun dominasi arena ala sosiolog Bourdieu diidentifikasi, kapital Prabowo Subianto tergolong paling lengkap yang memungkinkannya berstrategi.

CAWAPRES PRABOWO

Berdasarkan analisis peta politik pada pencalonan Prabowo sebelumnya di Pemilu 2019, dapat diprediksi bahwa celah dukungan terdapat pada para pemilih yang berafiliasi politik pada partai pendukung pemerintahan. Secara lebih khusus lagi, PDIP.

Sejauh ini, basis dukungan padanya terkonsentrasi pada partai yang berseberangan dalam pemilu lalu, seperti PKB, Gerindra, PKS, ataupun Demokrat. Itulah mengapa, kepentingan untuk memilih sosok yang mampu merepresentasikan kekuatan politik PDIP menjadi penting.

Berdasarkan pada kriteria semacam ini, maka sosok seperti Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini yang menjadi kader PDIP dan terbukti didukung paling banyak oleh mereka yang mengaku memilih PDIP menjadi signifikan. 

Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Di sisi lain, ada sosok Anies Baswedan yang memiliki irisan basis pendukung mirip dengan Prabowo. Persoalannya dia didukung oleh Partai NasDem, Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera yang tergabung dalam Koalisi Perubahan. 

Apakah Anies mungkin menjadi cawapres Prabowo? Apa kalkulasi yang memungkinkan hal itu terjadi? 

Terlihat dari beberapa peristiwa politik belakangan ini, seperti kunjungan Nasdem ke Sekber Gerindra-PKB pada 26 Januari 2023 silam, bukan tidak mungkin dua koalisi besar itu bergabung untuk membuat kesepahaman dengan menyandingkan Prabowo dan Anies.

Wakil Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Ahmad Ali yang saat itu mewakili Nasdem berkata politik sangat dinamis, kemungkinan apa saja bisa terjadi.

Pertemuan Prabowo dengan SBY pada 2018

Bahkan muncul kabar bahwa jajaran Dewan Pengurus Pusat Partai Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo Subianto akan bersilaturahmi ke Presiden ke-6 RI yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

Koalisi telah mencair. Saat ini yang pasti sudah ada tiga nama teratas, yaitu Ganjar Prabowo, dan Anies. Bila ada dua diantaranya bergabung menjadi satu kesatuan, tidak menutup kemungkinan ia lah yang akan menjadi pemenang. Mungkin saja itu Prabowo dan Anies.

 

What is your reaction?

0
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly

You may also like

Comments are closed.

More in Headline