PTPP Dapatkan Proyek EPC Senilai Rp 66 Triliun

INFRASTRUKTUR.CO,ID, JAKARTA: PT PP Tbk (PTPP) menggarap beberapa proyek engineering, procurement, and construction (EPC) senilai total Rp 66 triliun pada tahun ini. Kontribusi sektor EPC masih menjadi champion bagi bisnis perseroan.

Beberapa proyek EPC tersebut adalah proyek refinery (RDMP) Balikpapan senilai Rp 60 triliun yang bekerja sama dengan kontraktor asal Korea Selatan dan PT Rekayasa Industri (Rekind), proyek Smelter Kolaka (2 Paket) senilai Rp 4 triliun dengan owner PT Ceria Nugraha Indonesia, dan proyek Smelter SGAR Alumina senilai Rp 2 triliun dengan owner PT Borneo Alumina.

Corporate Secretary PP Yuyus Juarsa mengatakan, selain divisi EPC, tahun ini perseroan juga fokus membidik beberapa proyek energi dan industri. Sebab, pada kuartal II-2021 ada beberapa tender yang mundur ke kuartal III dan IV.

“Kendati demikian, perseroan masih optimistis dapat mencapai target pada kuartal III dan IV tahun ini,” katanya kepada Investor Daily, Kamis (22/7). Secara terpisah, analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai, upaya PP memperkuat bisnis EPC lantaran perseroan ingin mempercepat perolehan kontrak-kontrak EPC agar dapat berkontribusi lebih cepat dan lebih baik.

Apalagi, menurut dia, EPC sudah menjadi core bisnis perusahaan. Faktor lainnya, karena di sejumlah lahan industri, rencananya bakal dibangun sejumlah pabrik baru. “Nah, kalau misal PP bisa ikut ambil banyak bagian dari sejumlah proyek ini, maka akan bisa memberikan tambahan kinerja bagi PP,” jelasnya.

Lebih lanjut, PP telah meneken nota kesepakatan bersama Rekind untuk meningkatkan sinergi BUMN dalam membidik proyek-proyek strategis bidang EPC terutama sektor industrial plants. Nota kesepakatan tersebut ditandatangani Direktur Utama PP Novel Arsyad dan Direktur Utama PT Rekayasa Industri Alex Dharma Balen.

Selain menandatangani nota kesepakatan bersama PP, Rekind juga menandatangani nota kesepakatan bersama dua BUMN Karya lainnya, yaitu PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang diwakili Agung Budi Waskito selaku direktur utama dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) yang diwakili Entus Asnawi Mukhson selaku direktur utama.

Novel Arsyad menyampaikan, EPC dan energi terbarukan merupakan salah satu bidang champion PP yang berkontribusi besar terhadap pengembangan bisnis perusahaan ke depan. Untuk itu, perseroan fokus pada percepatan segmen champion tersebut sebagai salah satu strategi untuk mendongkrak kinerja perusahaan.

Di samping itu, EPC dan energi terbarukan juga merupakan salah satu bidang konstruksi yang memiliki potensi pasar di Indonesia. Di tambah, pengalaman dan karya PP di bidang tersebut sudah meluas di beberapa Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti kilang minyak (RDMP) di Balikpapan dan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah yang saat ini sedang dikerjakan.

“Berbicara mengenai kiprah PP di sektor EPC, tentu tidak lepas dari dukungan para partner dan stakeholder, salah satunya Rekind yang sebelumnya telah terjalin kerja sama dengan baik, semakin kita perkuat hari ini,” ujar Novel dalam keterbukaan informasi.

Kerja sama di bidang (EPC) atas industrial plants ini akan mewujudkan sinergi yang saling menguntungkan dan mampu memberikan nilai tambah baik bagi PP maupun Rekind. Penandatanganan tersebut juga akan memperkuat dan meningkatkan kompetensi keduanya untuk menangkap peluang-peluang bisnis ke depan khususnya di proyek-proyek EPC.

Peluang Investasi Sementara itu, Wakil Menteri I BUMN Pahala Mansury mengemukakan, penandatangan ini merupakan bentuk kerja sama dengan prinsip B to B (business to business) di bidang EPC. Terutama untuk memastikan proyek-proyek strategis seperti pengembangan dan pembangunan kilang-kilang, baik itu kilang refinery, petrokimia, fasilitas pengolahan, powerplant, gasifikasi hingga pengerjaan proyek di luar negeri dapat terlaksana.

Selanjutnya, engan memastikan proyek-proyek strategis tersebut berjalan, maka akan mampu mendorong dan mengakselerasi perkembangan perekonomian di Indonesia, terutama mengantisipasi dampak pandemi Covid-19.

“Kerja sama ini diharapkan menjadi nilai tambah bagi semua pihak dan memastikan pembangunan proyek-proyek strategis dapat terlaksana dengan kualitas terbaik, efisien dan dapat selesai tepat waktu,” jelas dia.

Menurut Pahala, biaya, mutu, dan waktu merupakan pertimbangan penting. Apalagi, Presiden Joko Widodo juga selalu menekankan pentingnya BUMN sebagai salah satu pendorong peningkatan investasi di Indonesia. Salah satunya, peluang yang memungkinkan untuk meningkatkan investasi adalah melalui pembangunan proyek-proyek strategis.

Dengan pengalaman yang dimiliki di bidang EPC, Pahala berharap PP dapat dipercaya mengerjakan proyek-proyek strategis dengan baik sehingga dapat memberikan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat dalam kerja sama ini.

You may also like

Comments are closed.

More in EPC