Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA:

Jawara Betawi ngegibeng toya

kuda-kuda lawan ancur berantakan

mari gerakin transformasi budaya

di benteng tangguh Setu Babakan

Beberapa kali berkunjung ke Perkampungan Budaya Betawi (PBB) “Setu Babakan” di Srèngsèng Sawah – Jagakarsa, Jakarta Selatan, dari sudut pandang rekacita (imagineering), imagine statement yang segera tersimpan di benak adalah “Inilah destinasi wisata budaya sekaligus destinasi investasi penting masa depan.”

Tak hanya bagi kaum Betawi dan Jakarta sebagai daerah khas — meski, katakanlah, tak menjadi ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia lagi. Tapi, bagi Indonesia dalam berbagai konteks secara dimensional. Termasuk dalam menjawab berbagai tantangan yang diwanti-wanti James Martin (2007), salah satu referensi saya dalam merespon perubahan budaya pasca pandemi coronastrope.

BERAGAM FUNGSI

Setu Mangga BolongKawasan yang dimasa lalu ditumbuhi eceng gondok , lotus, dan rumput air (di atas dan di tepian setu), serta belukar perdu, pokok pandan,  kirai, dan buah endemik itu, kini — secara gradual — berkembang sebagai kawasan wisata budaya khas yang mempunyai keunikan dimensional dengan beragam fungsi.

Pertama, Destinasi wisata unik sekaligus oase budaya di tengah pusaran transformasi Jakarta;

Kedua, sentra pengembangan ekonomi budaya berbasis ekologi dan ekosistem sosial; Ketiga, kawasan ajang presentasi dan eksibisi budaya (dengan huruf B capital) Betawi sebagai the unique multicultural ethniq, berbasis seni, ilmu pengetahuan dan teknologi; dan Keempat, sebagai laboratorium (termasuk sentra pendidikan) budaya multidimensi.

Tabe kepada pengurus Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) — 1996-2001 — yang bertumpu di atas kesadaran dan komitmen budaya, dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) yang menggagas PBB Setu Babakan sebagai embrio pusat kebudayaan Betawi, suatu kawasan tempat tumbuh kembangnya kesadaran ekologis sekaligus ekosistem budaya yang tersimpan dalam budaya Betawi, meliputi spiritualisma religi, norma, nilai, sosio habitus, kreativitas dan inovasi artistisk – estetik dan etik, invensi produk budaya Betawi, yang sering saya sebut sebagai dimensi ke-Betawi-an, sebagai bagian integral dari ke-Indonesia-an.

Gagasan Bamus Betawi yang tercetus tahun 1998 saya pandang sebagai perspektif penting untuk melihat bagaimana proses transformasi (perubahan dramatik) budaya terjadi dari mimpi Betawi menjadi imajinasi Betawi.

MERESPON TANTANGAN

Proses awal yang melandasi proses transformasi budaya berikutnya, ketika kesadaran budaya terkelola baik secara entusias menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek dan bermuara pada cinta budaya Betawi. Suatu dimensi nilai yang sejak berabad masa sebelumnya menjadi pesona karakter budaya Betawi sebagai main host bagi Jakarta dengan segala dinamika dan perkembangannya sebagai ibukota negara.

Dari perspektif James Martin ihwal tantangan abad ke 21 dan Jared Diamond (Collapse, 2008), saya melihat, gagasan Bamus Betawi 1998 dan kemudian menemukan titik berangkat pada 2001, itu merupakan imajinasi awal yang sangat bernilai dalam keseluruhan konteks transformasi budaya Betawi — setidaknya dari sisi visioneering — dalam merumuskan imajinasi Betawi masa depan (sekurang-kurangnya tahun 2045, masa seabad Indonesia merdeka).

Tantangan yang diwanti-wanti James Martin, itu antara lain adalah : Menyelamatkan ekologi; Melindungi biosfere; Menaklukan Pandemi Global (Biowarfare – termasuk zoonosis); Mengendalikan keseimbangan dan daya dukung ekologi terhadap populasi penduduk; Membalik kemiskinan; Mengendalikan singularitas dan menjelajahi transhumanisme; Mencapai gaya hidup berkelanjutan; Merespon rapuhnya globalisme (baik kapitalisme global maupun sosialisme mondial) secara efektif; Mengembangkan Budaya Kreatif ( seni, ilmu pengetahuan, teknologi); Memperluas potensi manusia; Menjembatani keterampilan (skill) dengan kearifan budaya; Mencegah daya rusak aktor non negara terhadap agama dan ideologi; dan, Merencanakan peradaban lanjut.

Dengan bekal 10 landasan hukum (mulai dari UU No. 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta — yang perlu diperjuangkan untuk diubah menjadi Undang Undang Daerah Khusus Jakarta — sampai Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 305 Tahun 2014 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi; dan, Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 197 Tahun 2015 tentang Forum Pengkajian dan Pengembangan Perkampungan Budaya Betawi, saya melihat, pengembangan PBB Setu Babakan sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Betawi sebagai manifestasi creativity kick off (Surat Keputusan Gubernur No. 92 tahun 2000 tentang Penataan Lingkungan Perkampungan Budaya Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan) – 15 September 2000, wajib dilanjutkan dengan innovation breakthrough (terobosan inovasi) pada September 2021. Ketika PBB Setu Babakan ini berusia 21 tahun.

Selama 21 tahun, terbukti, bahwa pembangunan PBB Setu Babakan bukan untuk ‘mengaboriginkan’ kaum Betawi, melainkan sebagai upaya mengembangkan transformasi budaya Betawi. Dalam konteks ini, saya percaya Forum Pengkajian dan Pengembangan (Jibang) PBB Setu Babakan akan kian jeli mengendalikan rem dan gas dalam memacu transformasi, itu.

Antara lain dengan optimalisasi benefit dalam konteks konservasi ekologi, pengembangan ekosistem sosio budaya, konvergensi produk budaya menjadi ekonomi budaya, serta penguatan basis dan simpul edukasi budaya yang mampu menyediakan peta baru Betawi secara multidimensi. Betawi dalam konteks peradaban.

Ajér – Gandés – Ganjén

Menjadi sangat penting, kolaborasi dan sinergi pembangunan PBB Setu Babakan — antara anasir pemerintah dan masyarakat dalam mengelola (merancang, membangun, memberi nilai tambah manfaat) kawasan seluas 289 hektar,  meliputi Zona Embrio,  Zona A, Zona B, Zona C, Zona Pendidikan – Diklat – Sentra kegiatan masyarakat — dalam memposisikan PBB Setu Babakan sebagai soko guru utama mewujudkan imajinasi Jakarta, sebagai Daerah Khusus cermin peradaban Negara Kesatuan Republik Indonesia yang aman, nyaman, berkeadilan, produktif, berkelanjutan, sejahtera, dan terdepan dalam mewujudkan prinsip universe of prosperity. Ditopang oleh imajinasi Betawi sebagai soko guru utama masyarakat Indonesia yang berdaulat secara politik, maju mandiri dalam ekonomi, dan unggul dalam peradaban.

Dalam konteks itu, perencanaan yang berbasis kerja olah pikir visioner harus dilakukan dengan menerapkan paradigma Betawi Centric. Dimulai dari mengenali secara fokus dan jernih ‘siapè Betawi,’ ‘ape maonyè Betawi,’ ‘apé ajé program aksi pendorong Betawian,’ ‘pegimanè gerakan aksi progressif dan terpadu,’ buat ‘ngewujudin ekspektasi kaum Betawi dan loyalitas Betawi,’ supaya Betawi ‘besetèr’ secara berkelanjutan.

Rahasianya? Hidup Ajér, senantiasa memelihara keterbukaan, adaptif, kosmopolit dan optimisme untuk mewujudkan cita-cita hidup ‘bahagia di dunia dan akhirat, bebas malapetaka;” Gandés, selalu sigap, tangkas, responsif merespon perubahan budaya; dan, Ganjén (bukan ganjen) – selalu mau dan mampu memaknai eksistensi diri dengan sikap tawaddu,’  dan istiqamah dalam kondisi apapun, tidak mudah terpengaruh oleh segala perwadulan (ghibah – rumors, buhtan – hoax, fithan – fitnah) dan senantiasa husnudzan kepada Allah dan insan sesama, dengan tetap waspada.

Bocah lahir sigra adzanin

Sudare wafat sigra kuburin

Mari ikhlas saling ninggi’in

Buang kebiasaan saling nindihin

Ditulis oleh Syamsuddin Ch. Haesy, budayawan 

 

What is your reaction?

0
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly

You may also like

Comments are closed.

More in Properti