Para penari Betawi

Pameran Lukisan Sarnadi Adam di TIM, Hajatan Jakarta Makin Semarak

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Suasana gembira masyarakat Jakarta lantaran tengah berlangsungnya hajatan ke-495 kota ini, makin semarak dengan pemeran pelukis Betawi legendaris Sarnadi Adam. Gelaran itu dimulai Kamis, 16 Juni 2022.

Pameran akan berlangsung selama sepekan hingga 30 Juni tersebut mengusung tema Betawi dalam Lukisan.

MENABUH REBANA BIANG

Iwan Henry Wardhana bersama para tokoh Betawi

Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Iwan Henry Wardhana membuka acara itu dengan menabuh rebana biang.

Rebana biang adalah satu kesenian Indonesia yang lahir di Bumi Betawi. Alat musik ini tumbuh di masyarakat Betawi, Jakarta dan sekitarnya. Namun, keberadaan rebana biang mulai hampir punah. Dalam pertunjukannya, kesenian tersebut terkadang ikut menyertakan gaya silat Cingkrik khas Betawi.

Para tokoh Betawi mulai dari budayawan Syamsuddin Ch. Haesy alias Bang Sem, Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Beky Mardani,  Ketua Forum Jurnalis Betawi (FJB) Ahmad Buchori didampingi Sekjennya Muhammad Syakur Usman dan pengacara Chevy Rasjid tampak menikmati karya seni tinggi tersebut.

Iwan mengatakan bahwa gelaran ini merupakan pameran offline pertama setelah Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020. Iwan berkomitmen bahwa ia selalu berupaya menjadi elektabilitas penggiat dan pekerja seni. “Tentu saja agar mereka terus eksis meskipun digempur pandemi,” kata pria kelahiran Matraman, Jakarta Timur, ini.

Pejabat yang selalu tampil dandy itu memberikan apresiasi yang tinggi atas kiprah Sarnadi Adam tersebut. Ia merasa bangga karena pameran perdana ini diawali dengan menampilkan koleksi tokoh Betawi. “Inilah bukti bahwa ide para pegiat seni Betawi tak pernah surut,” kata ayah dari Qay Azneen dan Ken Azzura itu.

Pria kelahiran 21 November 1975 tersebut membuka fasilitas TIM, pusat pelatihan seni budaya dan  Taman Benyamin Sueb seluas-luasnya bagi para budayawan dan seniman seperti Bang Sarnadi.

Tidak sampai di situ. Iwan juga akan memfasilitasi para kolektor yang akan membeli lukisan Sarnadi dan seniman lainnya. Fasilitas itu dapat berupa bentuk badan layanan umum derah dan koperasi.

MASA KECIL DALAM LUKISAN

Sarnadi Adam

Tentu saja Sarnadi girang. Dengan wajah sumringah ia menyatakan bahwa karyawanya dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat. Sedikitnya 21 lukisan terpampang dalam pameran tersebut.

Sarnadi menyuguhkan karyanya yang menggambarkan kebudayaan masyarakat Betawi seperti penari tradisional, pesta perkawinan, kehidupan sehari-hari, dan pasangan pria-wanita dengan pakaian adat. “Ini pengalaman sejak kecil yang saya tuangkan dalam lukisan,” kata Sarnadi.

Harapan Sarnadi adalah para pelaku seni lainnya tetap eksis dan terus bersemangat dalam berkarya. Bagi Sarnadi, sudah sewajarnya pemerintah menjadi kolektor karya seniman profesional.

APRESIASI TINGGI

Chevy Rasjid, Beky Mardani, Syamsuddin Ch. Haesy, Sarnadi Adam, Iwan Henry Wardhana

Para pengunjung memberikan apresiasi yang tinggi atas karya anak Betawi Simprug ini. Goresan karya Sarnadi dapat mengenang kembali kisah masa lalu.  

“Karya arya seni Sarnadi Adam sangat mengagumkan, karena  menggambarkan keberanian menghadapi tantangan,” kata Beky Mardani.

Dalam pandangan Beky, anak Betawi Meruya, Bang Sarnadi bermental tinggi karena siap menghadapi segala macam situasi. “Lukisan-lukisan ini dibuat masa pandemi ini sangat bagus.”

Pengunjung lainnya mengatakan karya seni Sarnadi sangat berwarna dan mencerminkan Betawi berani menghadapi perbedaan. Betawi dalam lukisan ini terwakili dalam warna yang mencerminkan nilai toleransi, egaliter, dan Islami.

CERMIN KEHIDUPAN

Betawi penuh warna

Lukisan Tari Betawi menampilkan aneka warna yang khas mencerminkan kehidupan masyarakat Jakarta yang majemuk dan sikap egaliter dari penduduk inti Bumi Betawi.

Sarnadi Adam lahir di Simprug, Kebayoran, Jakarta Selatan, pada 27 Agustus 1956. Ia lulusan Sekolah Seni Rupa Indonesia di Jogjakarta dan ISI Jogjakarta pada 1985. Master Seni Lukis dan Program Doktoral ia tuntaskan di institut yang sama.

Dosen Universitas Negeri Jakarta ini sering mengadakan pameran di Belanda, Jerman, Singapura, Swedia, Belgia, Luxemburg, New York, New Jersey, Boston, Brunei Darussalam, Filipina, Korea Selatan, Guangzhou, Beijing, dan Shenzen.

Lukisan Sarnadi banyak dikoleksi oleh berbagai lembaga dan individu seperti Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Bentara Budaya, Museum Jakarta, Presiden dan Wakil Presiden RI serta Gubernur DKI Jakarta. Penggemar karyanya juga tersebar di Eropa dan Amerika Serikat.

Meminjam istilah budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, masyarakat Betawi yang merawat Jakarta dan menjadi palang pintu Indonesia, dapat mengenang tempo doeloe dengan mengoleksi lukisan Sarnadi Adam.

Inilah pameran lukisan Sarnadi Adam

Tengah digelar di Taman Ismail Marzuki

Kreativitas seniman tak pernah padam

Seni melahirkan kebenaran yang hakiki

 

You may also like

Comments are closed.

More in Properti