Topografi di Medan-Binjai Menjadi Tantangan Hutama Karya Dalam Membangun Jalan Tol

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Membangun tol di Tanah Sumatra bukanlah perkara mudah. Topografi yang berbukit sekaligus rawa, membuat tantangan pembangunan kian berat. Proyek Jalan Tol Trans Sumatera juga dihadapkan pada persoalan untuk menjaga hutan dan kawasan konservasi yang masih mendominasi wilayah Sumatra.

Secara khusus, dalam pembangunan Ruas Tol Medan-Binjai, terdapat dua tantangan besar yaitu pembebasan lahan dan kondisi kontur lapangan yang ekstrim serta ditemukannya tanah jelek di beberapa lokasi.

Ruas Tol Medan-Binjai didominasi tanah rawa dan gambut. Permasalahan yang penyelesaiannya cukup pelik adalah adanya tumpang tindih lahan antara tanah milik negara (BMN) atau kawasan hutan dengan tanah warga.

Berbagai cara dan strategi yang mengutamakan penyelesaian ideal dilakukan semua pihak. PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) sendiri mengutamakan cara penyelesaian dengan pendekatan persuasif kepada warga. Pada praktiknya, warga masih belum menerima maka dilakukan proses konsinyasi uang ganti kerugian ke Pengadilan Negeri sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Dengan dititipkannya uang ganti kerugian, maka proses pembangunan jalan tol tersebut dapat dilanjutkan walaupun masih sering mendapatkan tantangan/gangguan dari warga. Untuk percepataan pembiayaan pembebasan lahan bila anggaran pemerintah belum tersedia maka digunakan mekanisme dana talangan tanah di mana Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) membiayai uang ganti kerugian terlebih dahulu yang nantinya akan diganti oleh pemerintah.

Pembersihan Terganggu

Adapun persoalan krusial terkait lahan pada Ruas Tol Medan-Binjai yakni pembersihan lahan yang telah dibebaskan namun terlanjur digunakan warga untuk berbagai keperluan tanpa izin. Bahkan untuk mengupayakan pembersihan lahan tersebut, pihak Hutama Karya harus bekerja ekstra hati-hati dengan mementingkan dialog hingga pendampingan aparat keamanan.

Di lain sisi, terkait kontur lapangan yang ekstrem sangat mengancam proses pembangunan sehingga menyebabkan galian dan timbunan menjadi sangat tinggi. Pada beberapa lokasi galian dan timbunan jalan tol ini cukup tinggi.

Karena kondisi ekstrim ini, desain yang tepat dan akurat menjadi kunci keberhasilan dari sebuah konstruksi. Pengambilan tanah dan lahan dengan lokasi yang tepat serta frekuensi yang mencukupi sangat dibutuhkan untuk menghasilkan desain yang tepat dan akurat.

Problem Saat Musim Hujan

Problem lainnya, pada Ruas Tol Medan-Binjai, untuk titik tertentu, pada musim penghujan kedalaman air yang menyelimuti tanah bisa cukup tinggi, sedangkan sewaktu musim banjir lima tahunan permukaan air banjir bisa mencapai 1 meter dari elevasi yang ada. Secara umum, tantangan terbesar pembangunan Ruas Tol Medan-Binjai adalah pertemuan dua konstruksi Tol.

Dalam pelaksanaan pembangunan, khususnya dalam pekerjaan Simpang Susun Tanjung Mulia, pada lokasi tersebut terdapat persoalan keterbatasan lahan, di titik tersebut merupakan pertemuan antara dua tol. Tim pun melakukan kembali review design. Persoalannya, menambah lahan yang dibebaskan pun bukan merupakan opsi solusi.

Namun dengan kesabaran dan keuletan, pihak Hutama Karya akhirnya bisa membebaskan lahan yang sebelumnya menjadi kendala terbesar pada pembangunan Ruas Tol Medan-Binjai.

Persoalannya, untuk mendapatkan stabilitas tanah di lahan gambut dengan optimal membutuhkan waktu relatif lama. Dalam metode konvensional, terdapat cara dengan istilah pre-loading, dengan membuat aliran vertikal atau horizontal drainase pada lahan gambut selama proses berlangsung. Besaran itu biasanya tergantung dengan pembebanan bangunan serta tingkat penurunan bangunan yang diizinkan.

Proses drainase ini dapat disokong dengan pembuatan sumur-sumur yang berisi material seperti kerikil, pasir kasar, dan kerakal. Di lain sisi, untuk konstruksi jalan tol, maka tim Hutama Karya lebih dulu memastikan sifat-sifat tanah gambut yang terhampar pada Ruas Tol Medan-Binjai. Dengan melakukan investigasi terhadap lapisan tanah tersebut, tim Hutama Karya bisa memiliki data profil tanah yang akurat sehingga bisa merumuskan konstruksi yang tepat.

Profil lapisan tanah ini memiliki problem dan risiko lebih besar terhadap pembebanan di atasnya. Dengan daya dukung tanah yang rendah, pembangunan pun dirancang menggunakan konstruksi tiang pancang dan penyangga yang lebih kuat. Dalam realisasinya, timbunan konstruksi tersebut harus dilengkapi tiang pancang atau soldier pile pada kaki timbunan.

What is your reaction?

0
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly

You may also like

Comments are closed.