Dalam Garap Jalan Tol, Hutama Karya Tetap Lindungi Ekosistem Gajah Sumatra

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Proses pengerjaan Ruas Tol Pekanbaru-Dumai sangat mempertimbangkan pelestarian lingkungan hidup juga eksistensi satwa pada habitat aslinya.

Sejak semula, konstruksi jalan tol yang berbatasan langsung dengan area konservasi, menitikberatkan kepada perlindungan satwa serta keberlangsungan ekosistem. Setidaknya, konstruksi yang telah berlangsung sejak 2016 mau tak mau harus mengalami banyak penyesuaian sewaktu melintas area tersebut.

Gajah Sumatra diantara Jalan Tol

Pada 2017, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Riau (BBKSDA Riau), memberikan informasi habitat khas Sumatra, yakni gajah sebanyak 50 ekor di sekitar konstruksi jalan tol yang tengah dibangun. Tepatnya, habitat asli gajah itu berdekatan dengan konstruksi tol Seksi 4 Kandis Utara-Duri Selatan. Menyadari hal itu, pembangunan jalan tol pun kembali ditinjau ulang dari sisi desain karena tidak ingin membatasi ruang gerak satwa besar tersebut.

Dari survei BBKSDA Riau, didapatkan informasi daerah jelajah gajah tersebut bersinggungan dengan trase tol sepanjang 14 kilometer. Di sepanjang trase tersebut setidaknya terdapat 8 titik perlintasan gajah yang seharusnya tidak terganggu dengan keberadaan konstruksi tol. Perlintasan gajah itu pun dikonfirmasi dengan ditemukannya jejak kotoran, serta jejak kaki.

Kerjasama Untuk Solusi

Hutama Karya bekerjasama dengan BBKSDA Riau serta para mitra pemerhati gajah mencari solusi agar perlintasan gajah tetap bertahan, sehingga tidak mengganggu habitat alami. Salah satu referensi yang menjadi solusi atas persoalan tersebut adalah perlintasan gajah di Kenya berupa terowongan melintasi jalan raya. Terowongan tersebut sengaja dibangun untuk menyatukan kembali dua populasi gajah yang terpisah akibat melintangnya jalan raya.

Terowongan Gajah

Sedangkan struktur terowongan itu memiliki tinggi 4,57 meter di sebuah jalan berbukit. Lantas, solusi itupun diadopsi dengan menyesuaikan kekhasan gajah sumatra. Jika gajah afrika memiliki ukuran tinggi 3,2 meter dan bobot 6 ton, gajah sumatra memiliki tinggi 2,75 meter dan bobot 4 ton.

Alhasil, konstruksi Underpass Perlintasan Gajah (UPG) pun menjadi salah satu struktur dalam konstruksi Ruas Tol Pekanbaru-Dumai. Profil UPG ini pada akhirnya diputuskan memiliki tinggi minimal 5,1 meter dengan lebar 25-45 meter di mana bisa menampung gajah yang biasanya berjalan bergerombol.

Pembangunan UPG itupun mengikuti saran BBKSDA Riau dan pemerhati gajah, hingga dibangun dan tersebar di delapan titik. Selain itu, untuk memancing gerombolan gajah untuk mengikuti jalur perlintasan tersebut, terdapat lahan seluas 5 hektar yang dirancang sebagaimana habitat alami gajah. Area tersebut dirancang untuk ditanami pakan gajah serta sumber air, serta penyebaran jejak kotoran.

Hutama Karya berkomitmen untuk memprioritaskan aspek lingkungan dan alam sekitar. Prinsip ini dipegang Hutama Karya sebagai korporat yang bertujuan menciptakan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

You may also like

Comments are closed.