Lapangan Kerja Ekstrem, Pekerja Hutama Karya Pantang Menyerah

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Bentang alam Sumatra merupakan tantangan tersendiri bagi para pekerja yang terlibat dalam pembangunan JTTS. Bukit-bukit batu kerap kali dijumpai pada titik perlintasan tol yang harus diatasi dengan berbagai cara. Belum lagi area rawa yang tersebar di banyak wilayah, terutama terselip antara daerah pesisir pantai dan pegunungan.

Pembangunan tol yang merambah Sumatra kerapkali menghadapkan pekerja dengan tantangan rimba raya, sebab perlintasan seringkali di kelilingi hutan serta wilayah konservasi. “Kami pernah menyaksikan sendiri di mana Gajah dengan habitat aslinya melintasi area konstruksi tol, inilah lapangan kerja kami, hutan dan pedalaman,” ungkap Faza A.T, pekerja Hutama Karya yang ikut terjun dalam pembangunan Ruas Tol Pekanbaru-Dumai sebagai Anggota Tim Pembangunan Seksi 3 & 4. Karena bersinggungan dengan habitat Gajah Sumatra inilah, Hutama Karya kemudian berinisiatif membuat UPG. Dengan adanya UPG sebagaimana yang dilakukan di Afrika, Hutama Karya berupaya menjaga ekosistem alam Sumatra.

Faza mengungkapkan para pekerja pun memiliki semangat yang sama. Meskipun jauh dari keluarga, para pekerja memiliki semangat dan mental tahan banting karena memahami tujuan pembangunan jalan tol tersebut. Bagi dirinya, penugasan dalam pembangunan JTTS Ruas Tol Pekanbaru-Dumai inipun memiliki kisah tersendiri. “Saat anak saya lahir, terpaksa tidak bisa mendampingi istri karena masih ada di pedalaman yang jauh dari Bandara,” kenang Faza.

Lapangan Kerja Yang Berat

Selama meretas Ruas Tol Pekanbaru-Dumai, para pekerja mengalami kesulitan yang cukup berat karena hampir seluruh area kerja melintasi hutan konservasi. Persoalannya, area tersebut memiliki luas yang tak sedikit. Sebagai pekerja lapangan, setiap Insan Hutama mengerti betul risiko yang diambil. Bahkan kehidupan seperti “nomaden” seringkali dijalani tidak saja oleh para pekerja melainkan pula seluruh anggota keluarga.

Selama perampungan ruas Pekanbaru-Dumai yang berlangsung pada masa pandemi Covid-19, memberikan tambahan beban psikologis kepada para pekerja yang berada jauh dari keluarga. Bahkan, saat perayaan Idul Fitri 2020, di mana terdapat larangan mudik dari pemerintah menyirnakan harapan kumpul bersama keluarga bagi para Insan Hutama.

“Hampir semua tenaga kerja tidak mudik tapi justru melaksanakan pekerjaan untuk menyelesaikan target agar dapat diresmikan di tahun 2020. Hal ini cukup berat kerena bagi sebagian besar tenaga kerja mudik idul fitri merupakan hal wajib yang biasanya dilaksanakan setiap tahunnya,” ungkap Bambang Hendrarto Pujotomo, Project Director Ruas Tol Pekanbaru-Dumai Seksi 1-4.

Protokol Kesehatan Paling Utama

Selama menghadapi pandemi Covid-19, pengerjaan ruas tol mengadopsi protokol kesehatan yang sangat ketat. Walau ada beberapa pekerja terpapar, tidak menjadikan lokasi pekerjaan sebagai klaster penyebaran yang massif. Hal inipun diungkapkan Yanuar Widiandi N, Asman Teknik Ruas Pekanbaru-Dumai Seksi 1&2. Dirinya terpaksa melakukan isolasi mandiri di kediaman dekat lokasi proyek bersama istri dan dua anak yang masih kecil karena merupakan prosedur penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19 di lokasi proyek.“Pada Agustus 2021, saya dan istri terpapar covid 19, kami isolasi mandiri di rumah bersama anak pertama umur 7 tahun dan anak kedua umur 8 bulan jauh dari keluarga lainnya,” kenang Yanuar.

Pandemi hanya jadi beban tambahan namun tak membuat para pekerja tidak produktif. Sejak semula terlibat dalam proyek pembangunan, para pekerja tersebut mengerti betul risiko dan kendala utama yang akan dihadapi. Hal ini, menurut Abdullah Nur Rahmad, Asman Teknik Pekanbaru-Dumai Seksi 5 & 6, telah jadi bagian inheren mentalitas Insan Hutama.

You may also like

Comments are closed.