Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang Habiskan Dana Rp22 Triliun

INTRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung sepanjang 189 kilometer merupakan tonggak penting bagi JTTS.

Ruas ini memiliki peran vital sebagai akses utama dari Sumatra Selatan dan Lampung menuju Pulau Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni. Hingga kini, Pelabuhan Bakauheni merupakan jalur utama yang menghubungkan Jawa dan Sumatra. Kelak ruas tol yang biasa disingkat Terpeka ini pun menyambung dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api di Palembang, sehingga berperan menghubungkan sentra ekonomi dengan gerbang keluar-masuk komoditas.

Saat ini, ruas Terpeka telah beroperasi secara penuh. Proses pembangunan memakan waktu hingga kurang dari 2,5 tahun, kemudian diresmikan langsung Presiden Joko Widodo pada November 2019. Hadirnya Jalan Tol ini menjadi akses penghubung transportasi kendaraan Golongan I-V yang terintegrasi dengan Pelabuhan Bakauheni, sehingga sangat membantu percepatan konektivitas kendaraan yang melintas dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatra.

Ruas Tol Terpeka memiliki manfaat besar sebagai salah satu akses pergerakan pertumbuhan ekonomi masyarakat Lampung dan Sumatra Selatan, menciptakan berbagai pusat ekonomi baru di Pulau Sumatra. Jalan tol ini juga dapat memperlancar jalur logistik, memangkas biaya angkutan logistik, dan mempercepat waktu tempuh pengiriman barang tentunya.

Masyarakat telah merasakan efektivitas jalan tol ini. Waktu tempuh yang sebelumnya menggunakan jalan arteri dari daerah Lampung hingga Palembang mencapai 10 jam, kini hanya membutuhkan waktu 3 jam melalui Ruas Tol Terpeka yang kemudian menyambung Ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar.

Skema Pendanaan

Ruas Tol Terpeka menelan dana sekitar Rp22 triliun. Keberhasilan pembangunan Ruas Tol Terpeka inipun menjadi catatan penting adanya sinergi antar perusahaan milik negara yang bahu membahu memberikan dukungan konstruksi. Dari dukungan konstruksi itu menutup investasi pembangunan Ruas Tol Terpeka senilai Rp8,37 triliun.

Secara rinci, dukungan tersebut meliputi pembangunan Seksi 1 Terbanggi Besar-Pematang Panggang Terdapat 5 zona yang mendapat dukungan konstruksi dari pengusahaan tol di Jawa, terdiri dari PT Jasa Marga Semarang Batang menyumbang pembangunan sepanjang 25 kilometer pada titik STA 3+650-28+650. Selanjutnya, PT Waskita Bumi Wira (Krian-Legundi-Bunder-Manyar) yang mengambil inisiatif pembangunan sepanjang 25 kilometer (STA 28+650- 53+650). Kemudian, PT Citra Karya Jabar Tol (Cisumdawu) 6 kilometer, (STA 53+650- 59+650), PT Jasa Marga Japek Selatan (Jakarta Cikampek Selatan) 15 kilometer, dan PT Jasa Marga Jalan Layang Cikampek sepanjang 12 kilometer.

Berkat strategi dan kepercayaan terhadap Hutama Karya, perusahaan berhasil menggalang pendanaan yang bersumber dari pinjaman sindikasi. Pinjaman itu senilai Rp9,16 triliun yang berasal dari konsorsium tujuh bank. Bank-bank penyandang dana itu terdiri dari Bank Mandiri, BNI, dan Bank CIMB Niaga. Untuk menutup sisanya, Hutama Karya mengandalkan pinjaman dari PT Sarana Multi Infrastruktur dan penyertaan modal negara (PMN)

You may also like

Comments are closed.