Hutama Karya Hadapi Persoalan Lahan di Ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Berbagai problem menyertai upaya pembangunan Ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar. Persoalan utama yang mengemuka sejak awal pembangunan yakni penyediaan lahan.

PT Hutama Karya (Persero) bersama pihak terkait seperti pemerintah daerah, pusat, hingga berbagai lembaga lainnya melakukan koordinasi serta sinergi ekstra untuk melancarkan pembebasan lahan tol. Hal ini merupakan prinsip yang dipegang Hutama Karya agar pembangunan tol memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat serta kemajuan ekonomi.

Program pembebasan lahan ditempatkan sebagai prioritas yang menjaga hak-hak warga terdampak. Selain itu, pembangunan Ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar juga melintasi kawasan hutan produktif. Dari seluruh konstruksi tol, lintasan yang bersinggungan dengan kawasan hutan produktif sepanjang 13,6 kilometer atau sekitar 175 hektare.

Agar proses pemanfaatan lahan tidak merugikan pihak mana pun, Hutama Karya ikut mencurahkan energi mencarikan solusi terbaik. Hutama Karya melakukan koordinasi intensif serta aktif untuk menyambungkan aspirasi pihak terdampak dengan para pemangku kebijakan seperti Kemenko Perekonomian dan KSP.

Pengujian Berkala

Selain persoalan lahan yang pada akhirnya berhasil diselesaikan secara baik, Hutama Karya harus menghadapi tantangan pembangunan pada medan berat. Pada Ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar, kontur tanah ternyata dipadati dengan batuan pejal. Bahkan, kontur ini sebagaimana hasil penyelisikan tanah menjerat sebagian lintasan tol sepanjang 500 meter. Dari hasil penyelisikan, lapisan batuan pejal itu mencapai 1,5 meter yang menghambat galian badan jalan. Untuk mengatasi hal tersebut, Hutama Karya melakukan proses pengujian dan pembuktian tahap lanjut pada lokasi itu.

Dari hasil pengujian dan pembuktian, didapatkan persoalan lapisan batuan yang tingkat kedalamannya bahkan tidak bisa diperkirakan secara pasti. Pada akhirnya, tim lapangan memutuskan untuk menyelesaikan hambatan bebatuan tersebut dengan metode blasting menggunakan bahan peledak. Selain itu, tim proyek Hutama Karya pun harus membersihkan seluruh lintasan dari tiang listrik, pipa air bersih hingga kabel Telkom. Untuk yang terakhir, relokasi dilakukan melalui ducting kabel utilitas dengan berkoordinasi dengan stakeholder terkait

Di lain sisi, agar konstruksi jalan tol tidak mengganggu masyarakat sekitar, Hutama Karya membangun banyak perlintasan tidak sebidang pada lokasi Main Road (jalan utama) jalan tol. Permintaan tersebut wajib tertulis dengan melalui pemerintahan desa setempat dan sebagian besar diakomodir dengan pembuatan jalan penghubung atau fronted ke bangunan perlintasan terdekat.

Pada ruas ini, Hutama Karya juga melakukan studi khusus terkait rancang bangun dilakukan pada lokasi jembatan warga yang melintasi di atas jalan tol. Hal ini dikarenakan keterbatasan pembebasan lahan, maka dilakukan studi perubahan design dari abutmen tiang pancang menjadi abutment wall. Sehingga pada posisi abutment tersebut tidak memerlukan kaki timbunan yang melebihi batas lahan pembebasan.

You may also like

Comments are closed.