Diminati Generasi Muda, WIKA Menjadi Tempat Favorit Bekerja Setelah Lulus

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. atau yang lebih dikenal sebagai WIKA sangat diminati oleh generasi muda sebagai tempat bekerja setelah lulus pendidikannya.

Sebuah survei independen yang dirilis oleh sebuah konsultan employer branding internasional bersama sebuah media bisnis nasional pada Juni 2014 bisa menjadi jawaban. Survei dilakukan secara online kepada 12.345 mahasiswa (Generation Y yang lahir setelah tahun 1980) di 20 perguruan tinggi utama di Indonesia yang menjadi target perusahaan-perusahaan di Indonesia sebagai sumber mendapatkan tenaga kerja baru fresh graduate.

Survei berlangsung sejak Oktober 2013 hingga Mei 2014. Komposisi responden terdiri atas 39% perempuan dan 61% laki-laki. Kepada para mahasiswa yang menjadi responden ditanyakan aspirasi dan preferensi karir mereka di masa depan.

Alhasil, terdapat 100 perusahaan top di Indonesia yang menjadi incaran dan menjadi dambaan sebagai tempat bekerja setelah lulus nanti. Salah satu nama perusahaan yang muncul dalam daftar Indonesia’s Top 100 Ideal Employers 2014 itu adalah WIKA.

Dalam beberapa kategori hasil survei, nama WIKA juga berhasil masuk dalam peringkat atas. Dalam kategori Top 20 Ideal Among Engineering Students, WIKA berada di peringkat 16. Lalu, dalam kategori Top 10 Employers For “A Friendly Working Environment”, WIKA duduk di posisi ketujuh menurut persepsi mahasiswa jurusan teknik.

Peringkat WIKA lebih tinggi dalam kategori Top 10 Employers For “A Creative Dynamic Work Environment”, WIKA bertengger di urutan kelima menurut persepsi mahasiswa jurusan bisnis.

Prestasi Yang Membanggakan

Tonny Warsono, yang memberikan data survei itu, merasa sangat bangga. Mantan Direktur Human Capital dan Pengembangan WIKA sejak Desember 2002 hingga April 2013 ini mengatakan. Hasil survei itu secara tidak langsung merupakan pengakuan atas kekuatan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) di WIKA selama ini.

“Riset itu membuktikan bahwa WIKA sebagai brand employer memiliki daya tarik setinggi itu di Indonesia. Inilah intangible asset WIKA. Sebesar itu dihargainya WIKA oleh generasi muda sekarang,” terang Tonny.

Sebelumnya, WIKA juga telah mendapatkan sederet penghargaan bergengsi dari berbagai pihak terkait pengelolaan SDM. Dalam beberapa tahun terakhir WIKA berulang kali meraih penghargaan sebagai salah satu “Best Employer Indonesia”, yang merupakan hasil studi sebuah perusahaan konsultan SDM global, tentang Best Employer di 10 negara di kawasan Asia Pasifik.

Tahun 2005 WIKA juga pernah dianugerahi penghargaan “The Best Human Capital Management” dari sebuah media bisnis nasional. Untuk mendapatkan apresiasi semacam itu, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Tonny telah Memimpin pengelolaan sumber daya manusia (SDM) WIKA selama lebih dari sepuluh tahun. Ia paham betul bagaimana kerja keras WIKA dalam memupuk kekuatan SDM-nya setahap demi setahap. Hingga akhirnya kekuatan SDM WIKA menjadi keunggulan tersendiri dan sekaligus menjadi pembeda WIKA dibanding para pesaingnya.

Perubahan Budaya Secara Bertahap

Setelah itu, bersama-sama dengan jajaran Direksi WIKA yang lain. Tonny yang menjadi anggota Tim Perumus Budaya Perusahaan WIKA mengawali gerakan perubahan budaya perusahaan WIKA berdasarkan rumusan nilai-nilai inti perusahaan yang baru itu sejak 1994.

Nilai-nilai inti ini dikenal dengan singkatan CIBERTI (Commitment, Innovation, Balance, Excellence, Relationship, Teamwork, Integrity). Penerapan prinsip sikap kerja 5R (Ringkas, Rapih, Resik, Rawat, Rajin) juga tidak bisa dilakukan secara instan.

Tonny mengutarakan butuh waktu bertahun-tahun bagi Direksi WIKA untuk menanamkan sikap kerja 5R ini. Agar seluruh insan WIKA berperilaku sesuai budaya perusahaan yang ditetapkan, Direksi WIKA tidak hanya menggunakan pendekatan partisipatif, melainkan juga menggunakan pendekatan Dipaksa-Terpaksa-Bisa-Biasa-Budaya.

Demi meningkatkan kekuatan SDM-nya, Tonny dan jajaran Direksi WIKA lainnya pun menggagas penerapan konsep pengharkatan kepada karyawan. Pengharkatan ini lebih tinggi daripada sekadar penghargaan secara materi. Pengharkatan berarti perusahaan memerhatikan karyawan secara lebih baik, bukan hanya fokus pada besaran gaji dan tunjangan yang diterima karyawan.

Tonny menyebut pengharkatan ini sebagai wujud dari pemikiran “Memanusiakan Manusia”. Dalam konteks perusahaan, pengharkatan berarti menempatkan seluruh karyawan, dari level tertinggi hingga terendah, sebagai mahluk yang berbudi yang harus diperhatikan harkat dan martabatnya.

Dalam konteks kepemimpinan, pengharkatan berarti seorang pemimpin harus memerhatikan karyawan dengan penuh kepedulian, menjunjung tinggi harkat dan martabatnya tanpa memandang latar belakang dan jabatannya. Pada titik ini diharapkan akan lahir pemimpin yang bersedia melayani dan memiliki etika.

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis