Saham BUMI, Bagai Laron Terpikat Sinar Lampu.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: ┬áMari kita bersimulasi sederhana mengani saham BUMI.┬áPada harga saham BUMI, tutup pasar, Rabu 12 Oktober 2022, Rp170, orang-orang istimewa Indonesia itu – yang baru akan menyetor Rp120 pada 18 Oktober, sudah mendapat potensial gain Rp50 per saham.

Keuntungan 41,7%, sebelum menyetor. Angka Rp170 itu, tentu masih punya peluang besar naik. Terutama bila menggunakan pahlawan pasar modal yang bergelar bandar.

Yang celaka adalah investor ritel, yang berbondong-bondong membeli di harga pucuk. Bagai laron terpikat sinar lampu. Sinar lampu itu adalah kelihaian bandar dengan segala macam trik. Laron laron itu, patah sayap, mati bergelimpangan. Mereka yang membeli pada harga pucuk, Rp246, kini mencatat kerugian lebih dari 51%!

Pasar saham memang gelanggang tempat “orang pintar” makan “orang bodoh”.

POTENSI KEUNTUNGAN

Mari kita simulasi potensi keuntungan yang hilang dari pemegang saham ritel, akibat PR diganti jadi NPR. Alasannya kebelet, padahal hari jatuh tempo utang itu sudah disepakati sekian tahun lalu. Pembunuhan kilat, memang perlu momentum.

Dengan emisi 200 miliar saham, berandai-andat dengan PR – HMETD -, maka tiap saham lama berhak membeli lebih dari satu saham baru (200 miliar/143 miliar). Tapi kita sederhanakan saja one for one right issue.

Katakanlah pemegang saham ritel itu tidak melaksanakan haknya. Dia – kalau tidak terlalu bodoh – bisa menjual haknya. Harga teoritisnya, kemarin Rp50.

Ada 103 miliar saham masyarakat di BUMI. Nilai kekayaan yang dipaksa lepas dari mereka – oleh peraturan nir empati – tinggal mengalikan saja. Rp 50 x 103 miliar.

Kionghie! Kionghie!

Memang paling enak jadi pejabat di negeri antah berantah. Syaratnya cuma dua: Tumpulkan kepedulian dan matikan empati.

Cukup mengatakan: “ini sudah sesuai dengan peraturan!” Selesai. Yang bikin peraturan gua. Yang mengevaluasi apakah suatu aksi sesuai peraturan ya gua juga!

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Infrastruktur.co.id.

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis