Hadi Budiman Melesat Kencang Dengan Honda

INDOWORK,ID, JAKARTA: Pada 1968, Hadi Budiman mengimpor 50 unit mobil Honda TN360 tipe M dengan harga beli setara Rp410.000 per unit. Di Indonesia, mobil ini dijualnya seharga Rp425.000.  Setahun kemudian, Hadi menambah jumlah impor Honda TN360 tiga kali lipat menjadi 150 unit. Hadi juga terus mengejar pihak Honda supaya menunjuknya sebagai mitra di Indonesia. 

Berbekal referensi dari perusahaan-perusahaan tekstil dan kertas asal Jepang, Hadi akhirnya berhasil menjadi sole distributor Honda di Indonesia pada 24 Maret 1970. Mobil pertama yang dipasarkan sejak keluarnya status distributor tunggal itu adalah Honda light truck TN360 dengan kapasitas 500 kg. 

Mobil niaga ringan bermesin OHC 4 Tak berkapasitas 360 cc 3 silinder ini dijual seharga Rp450.000 per unit. Dibandingkan mobil-mobil besar asal Amerika Serikat saat itu, Honda TN360 sangatlah hemat konsumsi bahan bakar karena berdimensi mungil. Satu liter bensin yang dikonsumsinya dapat untuk menempuh jarak 25 kilometer (1:25), bandingkan dengan oplet-oplet yang hanya sanggup menempuh jarak 5 kilometer untuk konsumsi setiap 1 liter bensin (1:5). 

Honda TN360

Dengan promosi berupa perjalanan keliling Pulau Jawa, penjualan Honda TN360 laris dalam waktu tidak lama. Saking larisnya, harga jual Honda TN360 naik dari Rp450.000 per unit menjadi Rp600.000 hingga Rp650.000. Pada 1970, Hadi mulai mengimpor mobil dalam bentuk terurai atau CKD, yang kemudian dirakit di pabrik Indonesia Service Company (ISC).

Pada 1973 PT Imora Motor memasarkan model Honda Life yang juga menuai sukses. Namun, sukses lebih besar dialami Honda di Indonesia saat memasarkan Honda Civic. Varian ini juga sering menjadi juara di ajang balap mobil di Ancol, Jakarta, sehingga membuat publik makin tergila-gila. Momentum Honda Civic ini dimanfaatkan dengan mendirikan PT Prospect Motor, pabrikan perakitan (assembling) pada 1975.

Kemudian lahir pula PT Honda Prospect Engine Corporation (HOPE) yang memproduksi mesin, hasil usaha patungan tiga perusahaan, yakni Honda Jepang, PT Prospect Motor, dan Kanematsu Corporation. Usaha patungan ini juga melahir perusahaan lainnya, yakni PT Imora Honda yang memproduksi komponen mobil Honda.

Honda mencapai produksi mobil ke satu juta unit pada 2017

“Pembangunan manufaktur Honda tidak lepas dari cita-cita mitra lokalnya di Indonesia yang tentu didukung program pemerintah RI. Hal pertama yang wajib dilakukan, yaitu membuka assembling plant. Dilanjutkan dengan program lokalisasi, yang dimulai dengan penggunaan komponen-komponen seperti ban, aki/baterai, tangki bensin, jok, dan kemudian pembuatan engine/mesin,” ujar Kusnadi Budiman, putra Hadi Budiman, dalam wawancara tertulis pada akhir 2020. 

Akhirnya pada 1997, HOPE dan PT Imora Honda bergabung atau merger menjadi PT Honda Prospect Motor (HPM) dengan peran baru sebagai perusahaan yang memproduksi mobil Honda.

Kemudian pada 19 Maret 1999, HPM juga menjadi menjadi agen tunggal pemegang merek (ATPM) dan pabrikan mobil Honda di Indonesia, hasil penggabungan dari empat perusahaan, yakni PT Prospect Motor, PT Imora Motor, PT Honda Prospect Engine, dan PT Imora Honda Inc.

Saat in HPM memiliki kantor pusat di Sunter, Jakarta Utara dengan pabrik di Karawang, Jawa Barat. HPM mencapai produksi mobil ke satu juta unit pada 2017.

Menurut Kusnadi, tidak mudah bagi Honda merealisasikan pabriknya di Indonesia. Tantangan terbesarnya waktu itu ada empat. Pertama, bagaimana meyakinkan principal untuk membangun pabrik.

Kedua, bagaimana daya serap pasar terhadap barang yang telah diproduksi. Ketiga, dari segi finansial, bagaimana cara pengelolaan fasilitas tersebut agar jangan sampai menimbulkan kerugian. Dan, terakhir, yang paling penting adalah dukungan dan konsistensi dari pemerintah Indonesia.

Benawati Abas, Senior Vice President Director HPM, menambahkan salah satu faktor pendorong Honda membangun pabrik di Indonesia adalah kebijakan pemerintah yang memutuskan untuk mempercepat “program insentif” dan menggulirkan “Program Mobil Nasional”.

Inti program tersebut adalah untuk mendapatkan potongan atau bahkan pembebasan bea impor, perusahaan otomotif mesti memiliki kandungan lokal 20 persen di tahun pertama produksi, 40 persen di tahun kedua, dan 60 persen di tahun ketiga. Karena program insentif itulah yang memacu Honda membangun fasilitas manufaktur di Indonesia.

Menurut Benawati, proyek strategis Honda Indonesia di industri otomotif dimulai dengan lokalisasi komponen utama mesin (engine) melalui investasi pembuatan pabrik engine casting pertama pada 23 November 1992.  

Ragam variasi Mobil Honda

HPM memulai produksi pertama di pabrik Karawang pada Februari 2003. Dibangun di atas lahan seluas 512.500 meter persegi dan luas bangunan 80.324 meter persegi, pabrik pertama ini memiliki kapasitas produksi 50.000 unit per tahun dengan nilai investasi Rp700 miliar.

Pabrik kedua dibangun pada 2012 dengan nilai investasi Rp3,1 triliun, sehingga menambah kapasitas produksi mobil menjadi 200.000 unit per tahun. Saat ini, pabrik HPM memproduksi Honda Mobilio, BR-V, HR-V, Jazz (sejak 2021 diganti model City Hatchback RS), Brio Satya, Brio RS, dan CR-V.

Pabrik HPM berada di Kawasan Industri Mitrakarawang (KIM), Karawang, Jawa Barat. Pabrik ini juga mempunyai berbagai fasilitas pendukung, seperti Road Test Facility, Engine Plant, Car Pool, dan Engine Bench Test Facility.

Selain memproduksi mobil, pabrik PT HPM juga telah mengekspor berbagai komponen mobil seperti Engine parts : Cylinder Head, Cylinder Block dan Body Parts : Hood Comp, Panel RR Inside, R/L Inside, Skin Hood, Frame Hood. Saat ini HPM melakukan ekspor komponen hingga ke-12 negara, antara lain Thailand, Malaysia, Pakistan, Turki, Filipina, Vietnam, Taiwan, Jepang, Meksiko, Brazil, India, dan Argentina. Pabrik Honda kini memiliki sekitar 7.900 karyawan.