Adaro Energy, Dari Batu Bara Hingga Industri Logistik

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Titik awal perjalanan PT Adaro Energy Tbk. dimulai pada 1982 ketika Enadimsa, perusahaan asal Spanyol, dianugerahi proyek ekplorasi batu bara di wilayah Tanjung, Kalimantan Selatan.

Enadimsa dan Pemerintah Indonesia menandatangani perjanjian kerja sama proyek batu bara (Coal Cooperation Agreement/ CCA) pada 2 November 1982, dengan masa konsesi selama 30 tahun terhitung sejak pekerjaan eksplorasi dimulai. Enadimsa mendirikan perusahaan bernama PT Adaro Indonesia (AI).

Nama “Adaro” diambil dari nama sebuah keluarga yang sangat terkenal dalam sejarah Spanyol, yang berperan besar dalam kegiatan penambangan di negara tersebut selama beberapa abad. Upaya menggairahkan sektor batu bara ini sebenarnya bukan tanpa alasan.

Saat itu pemerintah Indonesia terpaksa mengubah kebijakan energi dari minyak dan gas (migas) kepada tambang batu bara, menyusul terjadinya guncangan di pasar minyak dunia. Departemen Pertambangan kemudian membagi Kalimantan Timur dan Selatan menjadi blok batu bara dan membuka tender untuk blok-blok tersebut.

Karena lokasi penambangan berada di daerah terpencil, maka jalan sepanjang 80 kilometer yang menembus hutan dan rawa harus dibangun terlebih dahulu. Setelah infrastruktur jalan rampung, AI mulai melakukan eksplorasi pada 1992 yang berfokus pada produk batu bara yang mengandung tingkat sulfur dan abu yang sangat rendah yang diberi merek “Envirocoal”.

AI berhasil menjual produksi batu bara pertama sebesar 1 juta ton. Dua belas tahun berselang, tepatnya pada 2004, volume produksi Envirocoal telah melonjak tajam menjadi 24 juta ton, lalu meningkat lagi menjadi 34,4 juta ton pada 2006, dan 52,6 juta ton pada 2016. Hingga kini Envirocoal telah diekspor ke 18 negara untuk 40 pelanggan yang sebagian besar merupakan perusahaan pembangkit listrik.

Keberhasilan Adaro Dari Masa ke Masa

Keberhasilan yang diraih AI membuat banyak pihak tertarik menjalin kerja sama. Dimulai tahun 1992, dengan rentang waktu lebih dari 25 tahun, Adaro sudah mengalami beberapa kali pergantian pemilik.

Dari Enadimsa, kepemilikan saham Adaro berpindah tangan ke New Hope, perusahaan asal Australia. Selanjutnya, perusahaan asal Amerika Serikat (AS) Mission Energy turut bergabung menggunakan bendera MEC Indocoal BV.

Pada tahap berikutnya perusahaan lokal Dianlia Setyamukti juga masuk menjadi pemegang saham Adaro. Tahun 2005, New Hope Corporation menjual kepemilikan sahamnya di Adaro kepada konsorsium perusahaan Indonesia yang terdiri dari PT Saratoga Investama Sedaya, PT Triputra Investindo Arya, PT Trinugraha Thohir, dan PT Persada Capital Investama.

Seiring dengan rencana pengembangan bisnis Adaro, para pemegang saham yang baru membentuk perusahaan induk (holding company) yang memayungi seluruh anak perusahaan. Maka lahirlah PT Adaro Energy (AE). Selanjutnya, pada 2008 AE melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan melepas 35% saham.

Sejak awal, Adaro berencana mengembangkan sebuah bisnis yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan rencana tersebut, sangatlah penting bagi kami memiliki jalur logistik yang terintegrasi.

Maka lahirlah usaha jasa logistik yang terintegrasi dari tambang hingga ke pelabuhan. Keinginan untuk terus berkontribusi bagi bangsa membuat Adaro melebarkan sayap ke sektor pembangkit listrik. Dengan bisnis ini, Adaro dapat menciptakan pasar tersendiri bagi produk batu baranya.

Ketiga sektor ini (pertambangan, logistik, dan pembangkit listrik) menjadi mesin pertumbuhan bagi Adaro. Sektor ini dikelola sejumlah anak perusahaan yang didirikan guna mendukung efisiensi dalam operasional perusahaan, serta terciptanya sebuah low-cost company.

Visi dan Misi Adaro Mengembangkan Industri Batu Bara

Saat go public pada 2008, Adaro punya mimpi untuk fokus mengembangkan industri batu bara sebesar-besarnya. Karena itu, Adaro mengusung visi “Menjadi grup perusahaan tambang dan energi Indonesia yang terkemuka”. Adapun misinya adalah:

  • memenuhi kebutuhan pelanggan;
  • mengembangkan karyawan;
  • menjalin kemitraan dengan para pemasok;
  • mendukung pembangunan masyarakat dan negara;
  • mengutamakan keselamatan dan kelestarian lingkungan; dan
  • memaksimalkan nilai bagi Pemegang Saham.

Adaro ingin memberikan yang terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan dan pemegang saham melalui operasional bisnis yang bertanggung jawab. Adaro juga memiliki komitmen untuk turut membangun dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mereka kemudian menerapkan model bisnis berupa rantai pasokan batu bara yang terintegrasi secara vertikal, yaitu dari tambang ke pelabuhan hingga ke ketenagalistikan. Integrasi vertikal ini meliputi 3 sektor bisnis ; pertambangan, logistik dan jasa pertambangan, hingga ketenagalistrikan.

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis