Budaya Perusahaan Topang Mobilisasi Intangible Assets

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Adanya langkah-langkah penyempurnaan strategi human capital tentu akan sangat mendukung WIKA dalam mencapai visinya ke depan, yakni VISI 2020.

Pada gilirannya, jumlah SDM yang memadai, berkualitas tinggi, dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai perusahaan, akan menopang upaya WIKA memobilisasi intangible assets WIKA secara efektif dan efisien sehingga VISI 2020 dapat menjadi kenyataan.

“Kami mempunyai keyakinan bahwa inovasi dan pengembangan intangible assets akan memastikan keberhasilan usaha WIKA dalam jangka panjang. Inovasi-inovasi di bidang manajemen yang merupakan intangibles, seperti knowledge management, sangat strategis bagi perusahaan,” ujar Ganda Kusuma.

Sejauh ini, telah banyak langkah yang dilakukan WIKA untuk memacu penerapan knowledge management di internal perusahaan. Misalnya, untuk meningkatkan utilisasi pengetahuan (knowledge) dan kemauan untuk berbagi pengetahuan, WIKA memberikan reward atau penghargaan kepada karyawan yang menggunakan dan atau membagi pengetahuannya kepada lingkungan internal WIKA.

Penghargaan tersebut diberikan oleh pimpinan WIKA kepada yang bersangkutan dan disaksikan oleh seluruh pegawai WIKA pada upacara hari ulang tahun WIKA. Bahkan, pimpinan WIKA memberikan penghargaan khusus bagi karyawan yang melahirkan karya inovasi dalam bentuk Penghargaan Karya Inovasi setiap tahunnya.

Ide Karyawan Pemicu Karya Baru

Dengan dibukanya ajang-ajang terbuka yang mengapresiasi seluruh potensi karyawan tanpa kecuali, Direksi WIKA berkeyakinan bahwa hal ini akan memicu munculnya karya-karya inovasi baru lainnya. Ganda sendiri memiliki pengalaman menarik mengenai inovasi di bidang manajemen WIKA yang dilakukannya pada masa lalu.

Seperti dikutip dalam buku “Myelin, Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan” (2010), pada era-1980-an, rekrutmen karyawan WIKA sudah mulai ketat dan karyawan sudah mulai didorong untuk memunculkan ide-ide inovasi. Sebagai karyawan muda WIKA ketika itu, Ganda ingat betul betapa ketatnya seleksi karyawan yang berlangsung.

Dari 70-80 sarjana yang ikut tes, yang diterima hanya enam orang yang diterima dan untuk lulus tes. Mereka harus mengikuti tes tertulis, psikotes, dan wawancara langsung dengan direksi. Oleh karena karyawan yang direkrut WIKA sebelum tahun 1985 adalah lulusan STM, sementara yang bergelar sarjana masih sedikit.

Maka Ganda dan rekan-rekannya yang bertitel sarjana mendapat kepercayaan Direksi WIKA menjadi kelompok pemikir (think tank) perusahaan. Mereka bertugas mengajukan usul atau ide baru. Salah satu yang diusulkan Ganda dan rekan sejawatnya adalah inovasi di bidang manajerial, yaitu memasukkan prinsip-prinsip akuntansi di pabrik.

Pada 1980 para sarjana muda itu memelopori pembuatan sistem atau manajemen produksi dan penyimpanan di pabrik-pabrik WIKA. Misalnya, setiap pengambilan barang di gudang wajib menggunakan bon atau catatan.

Penyimpanan barang di gudang juga mulai menggunakan metode alokasi tersendiri. Seperti meletakkan barang-barang yang sering terjual di tempat paling depan gudang, sementara yang tidak terlalu laku diletakkan di bagian belakang gudang. Pada awalnya, sistem pengelolaan atau manajemen gudang yang baru itu disikapi dengan enggan, namun lama-lama bisa diterapkan.

Untungnya, karena itu kemudian dijadikan program resmi perusahaan yang harus dilakukan mulai dari level atas sampai bawah. Ide itu tidak membutuhkan waktu lama untuk diterapkan. Ditambah lagi, pelatihan banyak diadakan sehingga karyawan bisa dan akhirnya terbiasa.

Pengembangan Ide Buat WIKA Bertahan

Kebebasan dalam mengemukakan pendapat atau ide, yang kemudian dikembangkan menjadi inovasi, merupakan suatu semangat berharga yang sampai kini masih menjadi tradisi di WIKA. Banyak ide atau inovasi yang kemudian dikembangkan kendati tak semuanya bisa memberikan hasil yang positif.

Namun, penggagas ide yang gagal itu tak lantas dikenakan sangsi. Pimpinan WIKA menyadari bahwa dari sekian banyak ide yang muncul, mungkin hanya satu atau dua yang berhasil.

Sepanjang perjalanan usaha WIKA, proses-proses pengembangan ide atau inovasi inilah yang membuat WIKA berkembang dan bertahan karena diterpa gejolak krisis. Dari hanya berbisnis instalasi listrik, WIKA kini telah melompat jauh masuk ke berbagai bidang usaha terkait sektor konstruksi, seperti industri beton, realti & properti, pembangkit listrik, infrastruktur minyak dan gas, dan industrial plant.

Pencapaian seperti ini tentunya tidak diperoleh secara instan, melainkan sebuah proses yang terus menerus diasah. Dengan masuk ke industri manufaktur, Direksi WIKA memiliki pandangan bahwa pendapatan WIKA akan lebih berkesinambungan (sustainable) karena produk manufaktur WIKA bisa dijual ke siapa saja, termasuk kompetitor sekalipun.

Sementara itu, bila hanya mengandalkan menjadi kontraktor berbagai proyek kelistrikan, sumber pendapatan WIKA akan tergantung dari ada tidaknya proyek. Jika banyak proyek, uang masuk mengalir deras, tetapi jika proyek sepi, kantong pendapatan perusahaan juga makin tipis.

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis