Islam Mengajak ke arah Kebajikan

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Islam menyerukan agar kita mengajak ke arah kebajikan. Memberi peringatan dengan baik dan lembut. Belasan kali Al Qur’an menegaskan bahwa Rasulullah hanya pemberi peringatan. Membawa berita, menjelaskan ajaran dan memberi peringatan. Tidak menghakimi!

Kita wajib memberi peringatan, tapi tidak menghakimi. Kita tidak bertanggung-jawab terhadap moral dan akhlak orang lain. Itu hak Allah. Allah telah memproklamirkan dalam Al Quran bawa tugas Dia untuk mengadili perbuatan manusia. Kewenangan itu tidak pernah didelegasikan kepada manusia, hatta kepada para nabi dan rasul sekalipun.

TERSERET POLITIK

Politik telah menyeret Islam menjadi sekadar identitas komunal. Menjadi daya pikat dan daya ikat kelompok. Islam direduksikan menjadi komoditas politik.

Lalu kita abai terhadap perbaikan akhlak. Abai dalam ikhtiar menyucikan hati. Abai untuk membersihkan diri dari semua penyakit hati: kesombongan, iri hati/dengki, keserakahan, bahil dan seterusnya.

Allah tujuh kali bersumpah – sumpah yang terbanyak dalam satu surah – sebelum dia menyeru manusia: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan hatinya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” [QS 91 : 9 -10]

Yang menonjol kemudian adalah bendera dan simbol simbol eksklusif. Teriakan gegap gempita caci maki dan sumpah serapah. Sikap permusuhan. Bahkan pengrusakan dan kezaliman.

Islam yang dicontohkan sebagai agama yang lembut, santun, peduli, peka antarsesama, dermawan, rela berkorban, seakan sirna. Seakan tak pernah ada.

Lebih menakutkan ketika berkembang pendapat bahwa hidayah Allah hanya datang lewat legitimasi kelompok. Kunci surga ada di tangan kelompok. Meruncing budaya saling tuding. Saling mengkafirkan. Memberi vonis sesama sebagai penghuni neraka.

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Infrastruktur.co.id