Pentingnya Intangible Bagi WIKA

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Sejarah WIKA masuk industri manufaktur beton pada era 1980-an. Namun, untuk merealisasikan diri menjadi produsen beton, WIKA tidaklah mudah.

Awal mula WIKA mendirikan divisi yang menangani pembuatan beton. Lalu, WIKA memberanikan diri membangun pabrik beton tanpa memiliki peralatan memadai, termasuk tidak punya mesin dan moulding (cetakan beton) sendiri.

Bahkan, biaya untuk pembuatan pabrik beton berasal dari keuntungan WIKA dalam bisnis konstruksi. Tentu saja itu hal yang sangat riskan. Namun, WIKA mengambil risiko tersebut. Inovasi memang kerap lahir dalam tekanan atau keterpaksaan.

Terbukti kemudian WIKA berhasil mendirikan pabrik beton sendiri dan terus berkembang. WIKA berekspansi membangun pabrik beton di berbagai wilayah Indonesia. Hasil produksinya juga semakin canggih dan beraneka ragam, tidak hanya tiang beton.

Bahkan, dapat dikatakan saat ini keunggulan daya saing WIKA dalam dunia konstruksi antara lain ditandai dengan adanya industri beton ini. WIKA memiliki banyak keuntungan karena mempunyai industri beton sendiri.

Misalnya, WIKA sanggup melakukan pekerjaan konstruksi lebih cepat dibanding pesaingnya karena kebutuhan bahan baku beton pracetak untuk penyelesaian pekerjaan konstruksi tersebut bisa disediakan pula oleh WIKA tanpa butuh waktu lama. Pada 11 Maret 1997, WIKA mendirikan anak perusahaan tersendiri untuk bidang industri beton dengan nama WIKA Beton.

Kemajuan Dari Sebuah Evolusi

Langkah Direksi WIKA menggagas pusat pengembangan kepemimpinan WIKASATRIAN yang berbasiskan kearifan lokal Indonesia pun dapat digolongkan sebagai upaya memupuk intangibles WIKA. Perusahaan ini berusaha menjaga kelestarian dan sekaligus memetik manfaat dari warisan budaya nirwujud dari para pendahulu bangsa Indonesia.

Dapat dikatakan WIKA melakukan transfer terhadap warisan budaya bangsa dari yang sebelumnya lebih banyak berupa tacit knowledge (pengetahuan yang pada dasarnya bersifat personal dan diperoleh melalui pengalaman yang sulit diformulasikan dan dikomunikasikan) menjadi explicit knowledge (pengetahuan yang bersifat formal, sistematis, dan mudah untuk dikomunikasikan serta dibagi).

Tanpa tacit, intangibles tidak akan diperoleh. Sebaliknya, tanpa explicitness, intangibles akan berjalan ditempat, sulit ditularkan dan dilestarikan. Warisan keterampilan kebudayaan dan tata nilai positif dari nenek moyang bangsa Indonesia perlu digali dan dikembangkan lebih lanjut secara eksplisit agar dapat menjadi kekuatan yang lebih besar dan bermanfaat bagi generasi masa depan Indonesia.

Intangible assets bekerja menghubungkan visi dengan kondisi sekarang melalui serangkaian tindakan. Direksi WIKA menyadari bahwa kemajuan yang digapai WIKA sekarang adalah produk dari sebuah proses evolusi yang dibentuk dari intangible assets yang kuat.

Intangibles Merupakan Ruh Perusahaan

Dalam keilmuan manajemen, intangible assets atau harta nirwujud semakin diyakini merupakan satu-satunya sumber keunggulan perusahaan yang bersifat riil dan berkesinambungan. Pakar manajemen, Rhenald Kasali (2010) menegaskan intangibles sejatinya adalah ruh dari setiap perusahaan.

Ia tidak tampak secara fisik, seperti tangan, kepala, atau kaki. Ia juga bukan aset seperti rumah, tanah, atau mobil yang selalu dianggap sebagai ukuran kekayaan manusia.

Namun, harta nirwujud inilah yang mengantarkan perusahaan melewati riak gelombang dan krisis, memberikan keunggulan (competitive edge), dan membawa perubahan perusahaan ke arah yang jauh lebih hebat yang tak pernah diduga sebelumnya.

Harta nirwujud akan mengantarkan usaha kecil yang dirintis dengan susah payah menjadi besar. Ia pula yang membuat perusahaan mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan usaha (corporate adaptability), tidak berjalan di tempat. Apabila intangibles dikelola secara baik oleh suatu perusahaan, maka itu akan menjadi value creator yang bermanfaat bagi pertumbuhan bisnis perusahaan tersebut.

Value creation pada masa sekarang tidak lagi semata-mata pada aspek tangibles, tetapi juga pada aspek intangibles. Inovasi kini makin menjadi kebutuhan perusahaan agar perusahaan dapat terus tumbuh ke depannya.

Maka, dorongan untuk melakukan inovasi pada manajemen semakin besar. Alhasil, saat ini value creation perusahaan lebih direpresentasikan oleh faktor-faktor intangibles.

Rhenald Kasali mencermati perusahaan yang stagnan fokus pada harta-harta fisik, yaitu kekayaan-kekayaan yang kasatmata (tangibles). Mereka terlalu mengedepankan pentingnya segala sesuatu yang bersifat fisik dan kasat mata seperti tanah, gedung, bangunan, tambang, hasil hutan, mesin, produk.

Tanpa intangibles, perusahaan menjadi kering tak bernyawa. Sedangkan perusahaan yang progresif memobilisasi harta nirwujud.

 

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis