Mobil Nasional Bermula Dari Timor Dikembangkan Astra

INDOWORK.ID, JAKARTA: Dengan konsep besar membangun industri otomotif nasional, pada 1996 pemerintah Indonesia menggulirkan “Program Mobil Nasional” lewat Keputusan Presiden (Keppres) No. 2 Tahun 1996 tentang Mobil Nasional. Keppres yang diteken oleh Presiden Soeharto itu menunjuk PT Timor Putra Nasional milik Hutomo Mandala Putra—anak bungsu Presiden Soeharto, sebagai pelaksana program mobil nasional tersebut. 

Mobil Timor menjadi pelopor mobil nasional

Untuk mendukung program mobil nasional, terutama dalam hal akses dan transfer teknologi serta pengetahuan pemasaran, dibentuklah PT KIA-Timor Motors dengan susunan kepemilikan saham sebagai berikut: Kia Motors (Korea Selatan) memiliki saham sebesar 30 persen, PT Timor Putra Nasional (35 persen), dan PT Indauda Putra Nasional (35 persen), seperti dikutip dari Bulletin of Indonesia Economic Studies: Dawn of Industrialisation? The Indonesia Automotive Industry (Natsuda, Otsuka, dan Thoburn: 30 Maret 2015).

Sebagai pelaksana tunggal kebijakan mobil nasional, PT Timor mendapat keistimewaan dengan diizinkan mengimpor 40 ribu unit mobil KIA Sephia dari Korea Selatan ke Indonesia yang kemudian diganti emblemnya dengan merek Timor, beroleh fasilitas istimewa berupa pembebasan bea masuk alias bea masuk nol persen.  Untuk mendapat fasilitas istimewa itu, PT Timor harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam keppres mobil nasional, yakni dalam tiga tahun Timor secara bertahap harus memenuhi kandungan lokal mobilnya sebesar 60 persen. 

Sebelum “Program Mobil Nasional” dari pemerintah dirilis, beberapa pihak swasta sudah merintis program serupa. Tercatat ada 20 merek “mobil nasional” seperti proyek Maleo yang digagas oleh BJ Habibie dengan menggandeng rumah desain Millard Design Australia, proyek Perkasa, Kancil, dan proyek Astra International

Proyek Mobil Astra 

Pada 1995 PT Astra International Tbk memulai program mobil nasional dengan mencari mitra yang sanggup membuat studi kelayakan, desain, dan produksinya. Ada dua tim yang bertugas melakukan perburuan. Pertama, mencari mitra dari Jepang dan kedua mencari mitra dari non-Jepang. Setelah melalui tender, desainer dari Jepang dipilih sebagai pemenang karena mampu merealisasikan mobil Astra dalam tempo 4 tahun 6 bulan atau lebih cepat satu tahun dari proposal yang diajukan oleh desainer non-Jepang.

Sekitar 30 insinyur Indonesia dibuatkan kantor di Tokyo, Jepang, untuk mewujudkan cita-cita tersebut, bekerja sama dengan para insinyur Jepang. Setiap dua pekan para petinggi Astra bergiliran berkunjung ke kantor Tokyo untuk memantau dan dan mengikuti perkembangan proyek (Bambang Trisulo dkk, 2003: 9). Sayangnya, proyek mobil Astra ini terpaksa dihentikan karena Indonesia mengalami krisis moneter 1998 yang menyebabkan pasar otomotif dalam negeri anjlok 85 persen.