Diferensiasi Unggul dan Bersaing Jadi Kunci Sukses

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Letak diferensiasi Wijaya Karya (WIKA) dibanding kontraktor lain letaknya ada pada intangible assets yang dimiliki BUMN itu.

Untuk bisa meraup peluang pasar yang besar dan sekaligus bisa menghadapi tantangan yang semakin berat di industri konstruksi nasional. Kunci sukses WIKA adalah memiliki diferensiasi yang unggul dan bersaing.

Menurut Rhenald Kasali, intangible assets mempunyai sejumlah elemen yang dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu intangibles internal dan intangibles eksternal.

Intangibles internal berada di dalam perusahaan melekat pada setiap pegawai. Misalnya, budaya perusahaan dan nilai-nilai perusahaan, skill, system, knowledge, dan sinergi perusahaan.

Sedangkan intangibles eksternal berada di luar perusahaan yang melekat pada setiap pemberi kerja dan stakeholders perusahaan tersebut. Contohnya, brand image, reputasi, goodwill, dan sebagainya.

Rhenald Kasali menambahkan, karakteristik dari intangibles, antara lain adalah tidak mudah diperoleh dalam waktu singkat, sekali diperoleh dapat terus dikembangkan pada area-area baru, melekat pada sumber daya manusia (pegawai dan pemberi kerja), tidak dapat begitu saja dibajak dan dirampas melalui pembajakan karyawan, memerlukan kanal informasi dengan bahasa yang dipahami bersama orang-orang di dalam perusahaan.

Pengaruh Positif Intangibles

Menilik sejarah pertumbuhan WIKA dari masa ke masa, maka disimpulkan terdapat pengaruh positif dari intangibles terhadap pertumbuhan perusahaan. Evolusi pertumbuhan WIKA didukung oleh inovasi intangible assets WIKA.

Kondisi awal WIKA adalah sebagai pemborong pekerjaan instalasi kelistrikan tahun 1960-an. Berkat inovasi intangible assets seperti dalam hal ketrampilan atau keahlian, budaya disiplin, tata nilai, intrapreneuring, teknologi dan knowledge, bisnis WIKA bergerak lebih maju lagi.

WIKA sekarang memiliki sayap-sayap usaha baru. Usaha ini dikenal disiplin dan menggarap proyek-proyek konstruksi unggulan, memperoleh kepercayaan dari mitra Jepang, Tiongkok, dan banyak negara lainnya. Teknologi yang diterapkan selalu update, bisa melakukan diversifikasi di luar usaha konstruksi. Dan mampu memperoleh keprcayaan dari pihak internasional seperti dari Aljazair dan Uni Emirat Arab.

Peran penting intangible assets terhadap pertumbuhan bisnis WIKA tergambar betul dalam kemampuan WIKA di bidang kelistrikan. Pada tahun 1960-an, WIKA hanya melakukan pekerjaan memasang instalasi listrik di perumahan, pabrik, dan bangunan gedung bertingkat.

Kapabilitas itu kemudian meningkat, sanggup mengerjakan pemasangan distribusi tegangan menengah dan gardu distribusi listrik. Kini WIKA sudah melakukan konstruksi dan EPC pembangkit listrik.

Bahkan, kini WIKA juga telah berinvestasi membangun pembangkit listrik dengan skema build, operate, and transfer (BOT).

Berbagai Inovasi Manajemen WIKA

Dari sisi internal, inovasi di bidang manajemen milik WIKA yang begitu berharga dapat dipilah dalam beberapa bidang, yaitu intangible assets berupa knowledge management, sistem manajemen WIKA (SMW), sistem informasi WIKA, dan sinergi WIKA.

Peranan knowledge management (KM) menjadi begitu sentral bagi WIKA karena pada dasarnya rencana jangka panjang (RJP) yang rutin dibuat sejatinya merupakan cerminan dari strategi yang berorientasi-kan pada pengetahuan (knowledge). Di-mulai pada tahun 2004, RJP secara tegas menempatkan knowledge management sebagai elemen untuk mendukung rencana perusahaan menjadi organisasi pembelajaran pada tahun 2010.

Fokus WIKA dalam KM adalah Knowledge Sharing dengan icon/ tag line “Sharing Everyday”. Proses pemetaan dan pendistribusian knowledge dilakukan melalui media KM online dan offline.

Untuk menunjang efektivitas sharing dan komunikasi, KM WIKA dilengkapi dengan branding KM dengan identitas yang menarik. Program pokok lainnya adalah membukukan pengetahuan yang sudah terimplementasi WIKA.

Contohnya adalah pedoman pekerjaan beton, pedoman pekerjaan pembesian, pedoman pekerjaan bekisting, dan pedoman manajamen proyek. Buku-buku ini ditulis oleh pegawai WIKA yang dipandu oleh atasannya.

Bahkan, karena KM merupakan intangibles yang strategis bagi WIKA, maka dikembangkan Sistem KM WIKA yang mengatur aliran informasi dan komunikasi. Untuk meningkatkan utilisasi pengetahuan dan kemauan untuk berbagi pengetahuan, maka manajemen WIKA juga memberikan reward kepada karyawan yang menggunakan dan atau membagi pengetahuannya kepada masyarakat WIKA.

Penghargaan tersebut (knowledge award, inspirator, dan penghargaan karya inovasi) diberikan oleh pemimpin WIKA kepada yang bersangkutan dan disaksikan oleh seluruh pegawai WIKA pada upacara hari ulang tahun WIKA. Intangible asset WIKA yang juga tak kalah pentingnya adalah sistem manajemen WIKA (SMW).

Di WIKA, sistem manajemen WIKA (SMW) dirancang dan diinovasi secara berkesinambungan dan menyeluruh dengan mempertimbangkan harapan stakeholders dan ditransformasikan menjadi pemenuhan stakeholders, berpedoman kepada kriteria Malcom Balridge Criteria for Performance Excellence (MBCfPE).