Tekad Raup 10 Triliun, Bukan Perkara Mudah Mengembangkan Perusahaan

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Pada tahun 2002 WIKA berhasil menetapkan perencanaan jangka panjang hingga tahun 2010. Roadmap bisnis WIKA ke depan itu dinamakan WIKA STAR 2010.

STAR berarti bintang yang memiliki makna tersohor karena kehebatannya. Proses penyusunan WIKA STAR 2010 merupakan resultante dari hasil pemikiran bersama, yang tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga bottom-up, yang kemudian menjadi cita-cita bersama yang harus dicapai (shared vision).

Untuk mencapai visi dan misi WIKA STAR 2010 itu, kerja tim bersama itu merumuskan model bisnis baru WIKA (Business Excellence Model WIKA). Bisnis baru tersebut sebagai program kerja konkret pengembangan usaha WIKA selama delapan tahun ke depan dalam kurun waktu 2002-2010, termasuk di dalamnya rencana IPO.

Tekad Raup 10 Triliun

WIKA menetapkan VISI 2010, yaitu menjadi perusahaan terkemuka dalam industri konstruksi dan engineering di Asia Tenggara. Sementara itu, misi perseroan adalah memelopori pengembangan industri konstruksi dan engineering yang berkualitas dan memenuhi kepuasan semua pihak yang berkepentingan.

Pada saat penyusunan VISI WIKA 2010 tersebut, omzet WIKA baru sekitar Rp1 triliun dan manajemen WIKA bertekad bisa meraup omzet Rp10 triliun pada 2010.

Dalam merealisasikan VISI 2010 tersebut, manajemen WIKA membaginya dalam empat tahap periode pencapaian, yaitu periode tahun 2002, tahun 2003-2004, tahun 2005-2007 serta tahun 2008-2010.

Sepanjang periode tahun 2002, manajemen WIKA mencanangkan tingkat pertumbuhan usaha sebesar 40% dengan tingkat penjualan senilai Rp1,2 triliun. Pada periode ini kegiatan usaha WIKA masih mencakup satu dimensi saja, yakni sebagai kontraktor berskala nasional.

Lalu, pada periode tahun 2003-2004, manajemen WIKA bergerak lebih jauh lagi. Perseroan menargetkan perolehan tingkat penjualan senilai Rp2,5 triliun dengan pertumbuhan usaha 47%.

Dalam periode ini, kegiatan usaha WIKA telah mencakup dua dimensi, yaitu di bidang Engineering, Procurement, & Construction (EPC) dan sebagai kontraktor berskala nasional dengan tujuan menjadi perusahaan terkemuka di Indonesia.

10 Triliun Bukan Perkara Mudah

Sedangkan untuk periode 2005–2007, manajemen WIKA merencanakan tingkat penjualan sebesar Rp5,6 triliun dengan tingkat pertumbuhan usaha sebesar 41%. Pada periode ini, manajemen WIKA mencanangkan kegiatan usahanya telah mencakup tiga dimensi, yakni di bidang EPC, kontraktor dan beroperasi di pasar internasional serta akan memasuki proyek–proyek dengan pola investasi.

Periode 2008-2010 adalah tujuan akhir dari VISI 2010 WIKA, yaitu dengan mencanangkan penjualan senilai Rp10,1 triliun pada tahun 2010.

Namun, dalam perjalanannya, ada kesenjangan antara model bisnis yang telah disusun dengan realisasinya hingga tahun 2006. Merujuk model bisnis yang sudah dibuat, IPO WIKA sebenarnya ditargetkan sudah bisa dilaksanakan tahun 2006.

Tambahan dana dari hasil IPO sangat dibutuhkan untuk bisa mencapai target pendapatan Rp10,1 triliun pada 2010. Nyatanya, bukan perkara mudah bagi WIKA untuk bisa segera melantai di bursa.

Proses Perizinan Rumit

Proses perizinan IPO WIKA ternyata rumit dan memakan waktu yang cukup panjang. Apalagi untuk proses perizinan IPO BUMN harus juga di sampaikan ke kementerian terkait, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hingga Presiden.

Belum lagi aneka regulasi dari otoritas pasar modal yang harus dipatuhi WIKA untuk proses IPO. Banyak perizinan yang diurus. Manajemen WIKA pun harus bekerja keras dalam menyusun prospektus dan memperoleh kelengkapan data legal yang dibutuhkan untuk IPO.

Berulang kali manajemen WIKA melakukan presentasi rencana IPO ke Kementerian BUMN. Mereka harus bekerja keras meyakinkan Kementrian BUMN bahwa WIKA benar-benar telah layak IPO.

“Kami dinilai masih belum pantas IPO karena skala usaha kami dinilai masih belum terlalu besar. Perolehan laba kami juga dipandang masih rendah karena masih di bawah Rp100 miliar,” ungkap Ganda.

WIKA baru mendapatkan izin IPO berdasarkan persetujuan DPR pada 26 April 2007 dan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 14 Juni 2007.

Obligasi Sebagai Fokus Kedua

Selain IPO, sebenarnya WIKA waktu itu pernah tiga kali menerbitkan obligasi. Obligasi tahun 1992 sebesar Rp50 miliar dan obligasi tahun 1996 sebesar Rp100 miliar.

Seluruh obligasi tersebut telah dilunasi sesuai waktunya. Tahun 2003 WIKA menerbitkan obligasi ketiga senilai Rp200 miliar yang jatuh tempo 11 April 2008.

Akan tetapi, karena terbatasi debt to equity ratio (DER), ruang gerak WIKA dalam mendapatkan dana lewat obligasi terbatas pula. Meminta tambahan setoran modal dari pemerintah juga tidak gampang.

Karena sejak berdiri, WIKA tidak pernah mendapat suntikan dana dari pemerintah. Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) memang merupakan salah satu alternatif sumber pendanaan bagi Badan Usaha MIlik Negara (BUMN) seperti WIKA.

You may also like

Comments are closed.

More in EPC