Mengenaskan, Masa Tua Tanpa Perlindungan Finansial

INFRASTRKTUR.CO.ID, JAKARTA: Masa pensiun adalah masa yang rentan (vulnerable). Masa tua tanpa perlindungan finansial, sebagaimana banyak kita saksikan, adalah kehidupan yang mengenaskan.

Saya membaca publikasi OECD berjudul Pension at a glance 2021. Fokus penelitian pada dana pensiun PPRF (Public Pension Reserve Fund).

Saya hanya menyimak alokasi aset dana pensiun itu. Ada beberapa fakta yang menarik:

Pertama, Objek investasi konvensional. – obligasi dan dan saham – menempati porsi terbesar dalam alokasi aset. Dari 38 negara yang diteliti, 35 negara menanamkan dana kelolaannya dalam obligasi dan saham lebih dari 50%. Pada beberapa negara, porsi dua instrumen ini demikian dominan. Chili, misalnya, menanamkan dananya dalam obligasi dan saham sebesar 97,8%. Estonia, 96,9%. Meksiko 96%.

Kedua, Publikasi itu juga menyebut Indonesia, yang menanamkan mayoritas dana kelolaan dalam deposito berjangka. Pada 2020, sebanyak 28,7% dana kelolaan lembaga pensiun di Indonesia ditanamkan dalam deposito berjangka.

Ketiga, Dari populasi penelitian, porsi obligasi melampaui porsi saham, dengan porsi yang cukup besar: 46,2% vs. 30,2%. Namun demikian. ada beberapa negara yang porsi ekuitasnya lebih dominan. Seperti Australia, porsi saham 74,4% dibandingkan obligasi 20,6%. Afrika Selatan menanamkan 41,8% dalam saham, jauh di atas obligasi yang hanya 14,7%. Norwegia dan New Zealand juga menanamkan dana pensiun lebih dari separo dalam saham.

Keempat, Pada 2020, Amerika Serikat, menanamkan 35% dana Retirement Saving Plan dalam instrumen ekuitas.

Ingin tahu kondisi Indonesia, saya cari di laman OJK. Berikut beberapa kutipan:

Pertama, pada November 2022, ada 202 Dana Pensiun yang terdaftar di OJK.

Kedua, pada akhir Oktober 2022, Total Nilai Investasi Dana Pensiun berjumlah Rp308,06 triliun.

Ketiga, pada Juni 2022, segmen PPIP – Iuran Pasti – menanamkan dananya dalam saham sebesar Rp7,86 triliun. Jumlah itu merupakan 19,2% dari total investasi segmen itu yang berjumlah Rp40,94 triliun.

Keempat, dari segmen PPMP – Manfaat Pasti – periode yang sama, porsi saham lebih kecil. Rp 19,7 triliun. Hanya 11,8% dati Total Investasi sebesar Rp116,4 triliun.

PORSI KECIL

Saham cuma menempati porsi kecil dalam portfolio dana pensiun di Indonesia. Mungkin diperlukan studi mendalam untuk mengetahui penyebabnya.

Kalau tujuan Dana Pensiun adalah menyediakan cukup dana untuk – apalagi bila ingin menyejahterakan – para pensiun, menurut saya, jalan terbaik adalah menambah porsi penanaman dana dalam instrumen ekuitas.

Menurut saya, dua hal perlu dilakukan

Pertama, mengubah paradigma investasi – terutama untuk dana kelolaan milik instansi negara, BUMN, BUMD – yang menganggap kerugian investasi adalah suatu pelanggaran. Menggunakan analogi piala dunia yang baru berakhir: Kalah menang dalam suatu arena adalah keniscayaan!

Yang perlu dijaga adalah lapangan pertandingan yang datar. Yang perlu dihukum dan dikikis habis dari sektor – yang pondasinya kepercayaan – ini adalah perilaku busuk!!

Kedua, adalah edukasi yang berkelanjutan bagi para pengelola dana. Ketrampilan analisis. Kemampuan menyusun rencana bisnis yang komprehensif tapi realistis, termasuk sinkronisasi durasi aset dan liabilitas.

Kemampuan melakukan pengelolaan dana termasuk penyesuaian terhadap trend yang tak terduga. Kemampuan mengelola risiko. Kemampuan menyusun SOP keputusan investasi, sekaligus sebagai defensive tool terhadap tuduhan keputusan investasi yang tidak prudent.

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Infrastruktur.co.id

 

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis