Penggerak Mula Bergas Buang CO2, Biodiesel dan Bioethanol

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Rudolf Diesel, sebagai pelopor kendaraan biodiesel. Sejak awal penciptaan motor diesel yang legendaris itu, dia justru menggunakan minyak kacang sebagai bahan bakar utamanya.

Namun, popularitas bahan bakar nabati, lambat laun mulai terkikis seiring makin masifnya penggunaan minyak bumi (solar). Secara prinsip, kerja mesin diesel berbahan bakar biodiesel tidak berbeda jauh dengan mesin diesel berbahan bakar minyak solar.

Prinsip kerja biodiesel dan bioetanol secara garis besar tidak memiliki perbedaan signifikan dengan mobil berbahan bakar solar maupun bensin. Hanya saja ada beberapa tambahan komponen yang digunakan agar cocok dengan penggunaan bahan bakar nabati yang menjadi campurannya.

Isu utama penggunaan bahan bakar nabati pada kendaraan adalah ketersediaan bahan bakar tersebut dan antisipasinya pada komponen kendaraan yang didesain untuk menggunakan bahan bakar minyak. Misalnya, pada bahan bakar nabati biodiesel campuran B30 yang dikhawatirkan memiliki unsur gum sehingga dapat menghambat laju bahan bakar pada nosel yang menyemprotkan campuran udara-bahan bakar ke dalam ruang bakar.

Bahan Bakar Hidrokarbon

terdiri dari minyak solar 70% dan solar nabati 30% tersebut juga rentan dalam penyimpanan di ruang tangki bahan bakar dalam waktu tertentu. Bila disimpan dalam waktu sedikitnya 3 bulan dilaporkan akan terjadi endapan berupa ‘lumpur’ dan air. Hal ini selain dapat berpotensi menyumbat, dapat menyebabkan korosi pada tangki bahan bakar.

Namun demikian, prospek penggunaan minyak nabati sejatinya menjadi salah satu solusi dalam menghadapi semakin menipisnya cadangan minyak bumi dunia. Belum lagi isu emisi yang mencemari udara, semakin mengemuka membuat penggunaan energi bersih semakin dicari.

Oleh karena itu, para ahli otomotif terus melakukan riset mengenai penggunaan bahan bakar berbasis hidrokarbon dengan bahan bakar nabati. Memang, saat ini penggunaan biofuel masih menyisakan ruang perdebatan pro dan kontra.

Secara garis besar, keuntungan menggunakan biofuel ada beberapa hal. Pertama, biofuel dianggap lebih ramah lingkungan karena bahan pembuatannya dianggap kurang beracun ketimbang rantai karbon yang dihasilkan minyak bumi. Dampaknya, emisi yang dihasilkan pun lebih ramah lingkungan.

Lebih penting lagi, penggunaan biofuel tidak memerlukan mesin khusus, sehingga mesin konvensional masih dapat digunakan. Hanya saja, perlu dilakukan penambahan peranti untuk mendukung kinerja mesin.

Sistem After Treatment

Sebagai contoh seperti terlihat pada Bagan 4 sistem aftertreatment di mesin diesel yang menggunakan biodiesel. Sistem ini terdiri dari beberapa komponen, yang bertanggung jawab untuk menyaring gas buang mesin agar memenuhi persyaratan emisi yang dipersyaratkan.

Emisi hasil pembakaran yang dikeluarkan oleh mesin disaring melalui diesel particulate filter (DPF) dan diesel oxidation catalyst yang berfungsi untuk mengurangi partikulat. Gas buang hasil saringan itu kemudian disuntikkan dengan diesel exhaust fluid (DEF), lalu direduksi menjadi nitrogen dan air dengan konversi kimia memakai selective catalytic reducer (SCR). Setelah melalui proses ini, gas emisi selanjutnya dibuang melalui knalpot.

Sinkronisasi kerja komponen-komponen itu, agar bekerja dengan sempurna, diatur oleh electronic control module (ECM). Sebagai ‘otak’ yang mengatur dan mengontrol campuran bahan bakar, waktu pengapian, dan sistem emisi, ECM juga memantau pengoperasian kendaraan secara keseluruhan untuk melindungi mesin dari hal yang tidak semestinya.

ECM juga dapat mendeteksi dan mengambil tindakan yang diperlukan bila ditemukan permasalahan yang dapat mengakibatkan kinerja mesin terganggu.Perihal penggunaan bahan bakar nabati lain seperti etanol di dunia sudah dilakukan oleh beberapa produsen otomotif.

Di Brazil, produsen mobil Ford dengan Ford Kuga pada 2020 sudah mampu menggunakan bahan bakar nabati berbasis etanol mencapai campuran 85%. Bahan bakar tersebut dihasilkan dari tetes tebu yang diolah menjadi etanol.

Aksi Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan

Demikian di Indonesia. Sesuai rencana aksi pemanfaatan bauran energi untuk energi baru terbarukan sebanyak 23% pada 2025. Terutama sektor transportasi mobil dengan bahan bakar diesel juga diwajibkan untuk menggunakan campuran bahan bakar nabati sejak 2008 lalu.

Peta jalan yang ditentukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), hingga 2018 menjadi kewajiban penggunaan B30 bagi sektor-sektor strategis salah satunya adalah sektor transportasi.

Program wajib ini awalnya menggunakan campuran biodiesel sebesar 2,5%. Secara bertahap kadar biodiesel ditingkatkan hingga 7,5% pada 2010. Pada periode 2011 hingga 2015, persentase biodiesel ditingkatkan dari 10% menjadi 15%.

Selanjutnya pada 1 Januari 2016, kadar biodiesel ditingkatkan hingga 20% (B20). Program Mandatori B20 berjalan baik dengan pemberian insentif dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk sektor Public Service Obligation (PSO). Langkah selanjutnya, pada 1 September 2018 pemberian insentif diperluas ke sektor non-PSO.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM menggalakkan Program Mandatori BBN melalui Peraturan Menteri ESDM No. 32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga BBN sebagai Bahan Bakar Lain sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2015.

You may also like

Comments are closed.

More in Otomotif