Pertumbuhan Kendaraan Listrik Dunia Meningkat Pesat dalam 10 Tahun Terakhir

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Pertumbuhan EV dalam sedekade belakangan ini cukup mengesankan. Hal tersebut merupakan buah dari komitmen global serta rangsangan dari para pemain industri otomotif yang mengembangkan teknologi baterai listrik hingga fase lithium seperti sekarang ini.

Populasi mobil listrik meningkat hingga 7,2 juta unit pada 2019

Pada 2010, populasi mobil listrik dunia hanya 17.000 unit, namun pada 2019 populasi itu telah melonjak hingga 7,2 juta unit. Apalagi pada 2020, catatan positif bagi segmen EV berlanjut bahkan di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

Total pertumbuhan kendaraan listrik yang terdiri dari BEV dan PHEV mencapai 43%, atau sedikitnya 3 juta kendaraan dilego pabrikan di pasar-pasar besar seperti Eropa, Amerika, dan China. Prestasi itu melampaui kondisi umum penjualan otomotif dunia yang melemah 20% pada 2020.

Berbagai negara di dunia kini berlomba menyusun kebijakan yang kondusif demi memperbesar populasi EV. Regulasi serta fasilitasi anggaran telah memompa populasi EV tidak saja di China, Amerika, Eropa, namun juga diikuti berbagai negara di Asia.

Di sisi lain, berdasarkan data Marklines, dalam rentang waktu lima tahun, 2012-2017. Tercatat tingkat penjualan EV di dunia naik hampir dua kali lipat, dari 1,58 juta unit menjadi sekitar 2,78 juta unit.

Pasar terbesar China, telah merealisasikan kebijakan agresif guna memassalkan EV. Tidak heran mobil berteknologi PHEV dan BEV bisa terjual sebanyak 568.000 unit pada 2017, atau sekitar 2,94% dari total penjualan domestik negeri tersebut.

Kebijakan Insentif dan Subsidi Jadi Faktor Utama Peningkatan Penjualan

China merealisasikan kebijakan insentif dan subsidi secara simultan. Sedangkan AS, menggelontorkan kebijakan pengurangan dan penghapusan pajak bagi produk EV.

Hal yang sama diikuti negara-negara Eropa seperti Jerman, Norwegia, dan Prancis serta beberapa negara lainnya menstimulus mobil berteknologi listrik tersebut. Stimulus diberikan melaui berbagai kebijakan serta rencana aksi.

Di Norwegia, pemerintah menerapkan kebijakan pengurangan pajak awal, penghapusan pajak pembelian, dan kebijakan lainnya. Paling mencolok Pemerintah Norwegia mengobral diskon EV hingga US$16.584 per unit (data 2019).

China sejauh ini dapat dikatakan sebagai negara yang paling agresif menstimulasi EV. Pada praktiknya, China membebaskan pajak pembelian dari 27% sampai 100%, kebijakan serupa di Norwegia yang membebaskan pajak dari 50%-100%.

China juga mensubsidi pembelian EV. Untuk tiap unit EV, subsidi tersebut mencapai US$9.000, kebijakan itupun ditiru Inggris yang memberikan subsidi maksimal hingga US$6.720 (data 2019).

Perbedaan lainnya, China berani memberikan subsidi bagi pembangunan infrastruktur pengisian listrik. Hal serupa dilakukan Belanda dan Inggris, namun dalam taraf tertentu.

Sedangkan Norwegia memberikan pembebasan biaya energi, China mendorong R&D bagi produksi EV. Pemberian fasilitas serupa juga dilakukan Swiss, Belanda, dan Inggris berdasarkan zonasi.

Promosi besar-besaran juga dilakukan secara resmi oleh Pemerintah China untuk memasarkan EV. Salah satu contoh yakni menyediakan aplikasi untuk pemesanan serta pembayaran alat pengisian listrik.

Terlebih lagi, China telah lama mendorong penggunaan EV bagi angkutan umum. Pada 2018, Beijing telah mengeluarkan rencana kebijakan untuk mengganti seluruh armada taksi dengan EV, begitupun negara bagian lainnya.

Segala upaya itu dilakukan berbagai pemerintahan untuk merealisasikan penggunaan EV secara massal. Faktor ini penting guna membuat produksi EV menyentuh skala ekonomi dan lebih efisien.

Hingga kini, berdasarkan riset Bloomberg, pada 2010 harga produksi baterai mencapai US$1.000 per kWh. Seiring pengembangan dan riset yang terus berjalan, harga itu akan turun menjadi US$100 per kWh pada 2023.

Kenaikan Penjualan Kendaraan Listrik Akan Terus Meningkat di Masa Depan

Di sisi lain, tren kenaikan EV secara global akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Faktor utama penerimaan publik yang luas adalah semakin rendahnya harga EV seiring inovasi dalam sisi produksi, terutama terkait komponen utama baterai.

Terdapat perkiraan bahwa penjualan EV pada 2040 akan mencapai kisaran 56 juta unit. Jumlah itu kian mengimbangi volume penjualan kendaraan konvensional, karena pada saat yang sama penjualan otomotif diproyeksikan mencapai 100 juta unit.

Masing-masing pabrikan saat ini tengah berlomba mencari mitra strategis ataupun produsen baterai yang mampu mengelola rantai pasok dari hulu sampai hilir. Secara keseluruhan, kurang lebih 35% ongkos produksi EV diserap oleh pembuatan baterai.

Hal inilah yang menjadi fokus seluruh pemain industri otomotif saat ini hingga nanti. Salah satu proyeksi cerah adalah penggunaan baterai Litihium ion tipe NMC 622 dan NMC 811, kode NMC merupakan kepanjangan dari nickel-mangan-cobalt. Untuk jenis baterai ini, nikel memainkan peran terbesar yakni sekitar 60%.

 

 

 

You may also like

Comments are closed.

More in Otomotif