Mobil Nasional yang Terlupakan, Bimantara Cakra dan Nenggala

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Setelah program Mobil Nasional Timor berjalan pada Februari 1996, pada tahun yang sama mobil karya anak bangsa di Indonesia dipasarkan kembali dengan nama Bimantara Cakra dan Nenggala.

Seperti sedan Timor yang hanya mengganti emblem (rebadge) Kia Sephia, Bimantara Cakra juga menggunakan modus serupa, yakni Hyundai Accent. Hyundai Accent merupakan mobil asal Korea Selatan.

Bimantara : Mobil Nasional Indonesia Kerjasama dengan Hyundai

Merek otomotif Korea saat itu menjadi opsi dari program mobil nasional yang digaungkan pemerintah sebagai alternatif dari industri otomotif Indonesia yang sudah disesaki merek otomotif Jepang seperti Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, Suzuki, dan sebagainya.

Sedan Bimantara Cakra dipasarkan hampir bersamaan dengan Timor S515 pada 1996 lampau, yang di-rebadge dari Hyundai Accent (X3) yang mengusung mesin berkapasitas 1.500 cc 4 Silinder in-line. Sementara Bimantara Nenggala hasil rebadge dari Hyundai Elantra facelift (J1).

Hyundai Elantra pertama kali dipasarkan di Korea pada 1990 dan mendapat facelift pada 1993. Sedan ini menggunakan mesin Mitsubishi Motors dengan kapasitas 1.600 cc 4 silinder in-line yang mampu menghasilkan tenaga 113 hp.

Menariknya, sedan Timor dan sedan Bimantara Cakra mendapat perlakuan yang berbeda dari pemerintah Indonesia. Sedan Timor mendapat perlakuan istimewa sedangkan Bimantara Cakra tidak mendapat perlakuan istimewa.

Karena Keppres No 2 Tahun 1996  tentang Mobil Nasional hanya menunjuk PT Timor Putra Nasional (TPN) sebagai pelaksana tunggal program mobil nasional. Padahal sedan Bimantara dikembangkan oleh PT Citramobil Nasional.

Sejarah Terciptanya Bimantara

Ada cerita menarik mengenai nama PT Citramobil Nasional yang didirikan Bambang pada 1994, dua tahun lebih cepat dari program Mobil Nasional Timor.

Jongkie Sugiarto, mantan Presiden Direktur PT Bimantara Hyundai Indonesia, mengungkapkan nama “Citra” diambil dari nama PT Bimantara Citra yang disanding dengan nama “Mobil Nasional”, yang menggambarkan keinginan Bambang untuk mengembangkan mobil nasional di Indonesia.

“Sebelum 1994, PT Bimantara Citra sudah menjalin komunikasi dan ingin bekerja sama dengan Hyundai Korea untuk mengembangkan mobil merek lokal di Indonesia. Namun, pihak Hyundai mengaku bingung karena belum pernah memberikan lisensi perakitan ke negara lain.

Akhirnya, Hyundai memutuskan bersedia bekerja sama dengan Bimantara dengan menggunakan konsep kerja sama yang dipakai Hyundai saat bermitra dengan Mitsubishi,” kata Jongkie menjelaskan asal muasal PT Citramobil Nasional pada awal 2021.

Inti dari kerja sama awal Hyundai dengan Mitsubishi Motors adalah

  1. Hyundai dibenarkan untuk memakai merek sendiri,
  2. Hyundai dibenarkan memakai komponen lokal sebanyak-banyaknya, dan
  3. dibenarkan juga memodifikasi mobil Mitsubishi sesuai dengan selera orang Korea.

Dengan konsep kerja sama tersebut, Bimantara memiliki cita-cita bisa memproduksi mobil sendiri yang sudah dimodifikasi. sesuai dengan selera orang Indonesia, mengunakan merek lokal, dan seterusnya.

“Ini konsep Hyundai yang diberikan kepada kami, sehingga PT Bimantara Citra mendirikan PT Citramobil Nasional sebagai agen Hyundai di Indonesia pada 1994. Untuk pabrik perakitannya didirikan PT Tri Citra Karya,” ujar Jongkie.

Peluncuran Hyundai Elantra dan Tantangan Bersaing di Pasar Otomotif Indonesia

Setelah tercapai kesepakatan tersebut, pada tahun 1995 PT Citramobil Nasional meluncurkan sedan Hyundai Elantra di pasar otomotif Indonesia. Namun, pada 1996 pasar otomotif nasional heboh. Karena pemerintahan Soeharto memutuskan membuat program mobil nasional, tapi program ini hanya untuk PT Timor Putra Nasional (TPN).

Menurut Jongkie, harga jual sedan Timor S515 saat itu sangat murah sehingga membuat sedan Hyundai Elantra sulit bersaing. Berbekal kerja sama yang bersifat luwes dan fleksibel dengan Hyundai Korea, serta memperhatikan peraturan mobil nasional. PT Citramobil Nasional memutuskan melakukan strategi serupa dengan TPN. Strategi itu yakni memasarkan mobil merek sendiri dengan mengubah merek Hyundai menjadi merek lokal: Bimantara.

Maka nama Hyundai Elantra kami ganti menjadi Nenggala dan Hyundai Accent diganti jadi Bimantara Cakra, maka jadilah merek lokal Bimantara Nenggala dan Bimantara Cakra. Tapi kami tetap tidak mendapat status mobil nasional, sehingga kami tetap berat untuk bersaing di pasar. Sebut Jongkie (Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Meski sulit bersaing dengan sedan Timor, Bimantara atau PT Citramobil Nasional tetap berusaha mendapat tempat di pasar otomotif Indonesia selain melanjutkan kerja samanya dengan Hyundai. Pada awal tahun 1997, Citramobil mendirikan perusahaan patungan bernama PT Bimantara Hyundai Indonesia (BHI) dengan masing-masing kepemilikan saham 50:50.

Kegagalan Rencana Mobil Nasional Bimantara Hyundai Indonesia

Perusahaan ini akan berperan sebagai pengelola fasilitas manufaktur Hyundai yang sudah disiapkan di wilayah Purwakarta, Jawa Barat. Namun, Krisis moneter pada akhir tahun 1997 dan 1998 menggagalkan rencana mobil nasional Bimantara senilai US$250 juta.

“Bankir yang saya temui mengatakan 6 bulan ke depan tidak ada bank yang memberikan kredit. Maka itu saya terpaksa bicara dengan Hyundai bahwa proyek ini harus ditunda. Sampai saya harus memulangkan 30 insinyur dari Korea akibat krismon ini” ujar Jongkie yang ingat betul krismon menekan mata uang won korea terhadap dolar amerika serikat. Saat itu dari 800 won per dolar tiba-tiba meroket menjadi 1.800 won.

Krismon di akhir 1997 hingga 1998 ini membuat pasar otomotif Indonesia terpuruk. Pasar anjlok hingga volume penjualan hanya 50.000 unit, padahal saat normal volumenya lebih dari 350.000 unit.

Situasi ini sangat berat bagi Bimantara Hyundai Indonesia. Bukan hanya menunda, tapi keduanya memutuskan berpisah dan menghentikan rencana membangun mobil nasional.

You may also like

Comments are closed.

More in Headline