Ahmad Djauhar Jadi Petani dan Pejuang Lingkungan di Jogjakarta

INDOWORK.ID, JAKARTA: “Kulit saya sekarang lebih hitam,” kata Ahmad Djauhar. “Ini karena sering di kebun dan sawah,” kata Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia periode 2002-2012 tersebut.┬áKini ayah tiga anak itu bahagia sebagai petani di Jogjakarta. Ia menemukan jalan baru dalam hidupnya.

Pria lulusan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada tersebut bercerita tentang kesehariannya di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin, 20 Maret 2023.

Djauhar kini memang bermukim di Jogjakarta. Sesekali ia ke Jakarta untuk mengajar di London School of Public Relation. Banyak tugas yang diembannya selama di Jakarta. Sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro yang menaungi Lembaga Pers Dokter Soetomo (LPDS), Djauhar menyerahkannya kepada Muhammad Agung Dharmajaya.

Bercerita tentang pertanian dengan Djauhar, tak habis-habisnya. Ia begitu menikmati menjadi petani. “Acara saya di sini nggak kalah padet dari hidup di Cibubur. Ngurus sawah, kerja bakti, tahlilan, barzanjian, nyadran, dan lain sebagainya,” ia melanjutkan ceritanya.

Pria kelahiran 4 Mei 1963 itu memutuskan untuk kembali ke Jogjakarta setelah tidak lagi menjadi Anggota Dewan Pers selama dua periode.

PEJUANG LINGKUNGAN

Lahan pertanian milik Ahmad Djauhar di Sleman, Jogjakarta

Selain sebagai petani, setelah pensiun Djauhar juga aktif sebagai pejuang kebersihan lingkungan. Ia begitu peduli atas sanitasi di tempat tinggalnya.Ia memulai dari lingkungan rumahnya sendiri.

Tak banyak bicara, Djauhar memberikan contoh kepada masyarakat sekitar. Hampir setiap hari ia membersihkan sampah plastik yang berserakan di halaman, pinggir jalan, kebun atau pun sawah.

“Target awal 100 dari rumah saya tak ada sampah plastik,” ujarnya bersemangat.

Kegiatan membersihkan lingkungan dari sampah plastik terus meluas hingga ke kebun dan sawah. Meskipun itu di sawah milik orang lain ia bersihkan.

“Ada yang bilang saya ini pemulung, ya nggak apa-apa sing penting lingkungan bersih dari sampah plastik,” ujarnya dengan logat Jawa yang kental.

BELUM KOMERSIAL

Djauhar meyakini bahwa sektor agribisnis sangat prospektif. Namun saat ini ia belum melakukannya secara komersial. Hasil pertaniannya diberikan untuk keluarga dan tetangga dekat.

Menjelang Ramadhan 2023 harga pangan untuk beberapa komoditas seperti cabai masih tinggi di pasaran. Cabai rawit yang dijual rata-rata Rp90.000 per kg di Jakarta, juga di beberapa daerah lain masih tinggi. Kemudian cabai rawit hijau seharga Rp 50.000 per kg, bawang merah Rp 45.000 per kg, bawang putih Rp 40.000 per kg.

“Harga cabai masih mahal, ibu saya girang ketika saya berikan cabai yang dipanen dari kebun sendiri.”

Djauhar telah merasakan suatu perubahan dalam hidupnya dan menemukan kenyamanan yang timbul ketika ia mulai menjadi petani. Ia merasa bahwa hidup sebagai petani akan menyediakan jalan baginya untuk mendapat lebih banyak waktu luang untuk mengurangi stres dan memiliki lebih banyak waktu.

Djauhar merasa sangat beruntung dapat berbagi pengalaman barunya dan membantu masyarakat dengan pengetahuan baru yang ia miliki. Ia juga ingin berbagi cerita-cerita inspiratif tentang kehidupan barunya sebagai petani dengan lebih banyak orang.

Namun pekerjaan tulis menulis tak ditinggalkannya. Ia aktif sebagai editor buku yang diterbitkan oleh Pustaka Kaji. Dalam 5 tahun terakhir tak kurang 25 buku disuntingnya. Jejak Permanen Anies Baswedan, Signature untuk Jakarta yang diterbitkan tahun lalu merupakan satu dari banyak buku hasil sentuhannya sehingga menjadi nikmat dibaca.

 

You may also like

Comments are closed.

More in Headline