Apresiasi untuk Seniman Autis, Koleksi Karya Mereka

INDOWORK.ID, JAKARTA: Banyak kolektor seni dan pecinta seni diharapkan memberikan apresiasi dan membeli karya para seniman autis di Bentara Budaya Jakarta. Bagi para orang tua, guru dan pemerhati autisma, dapat melihat karya-karya di pameran ini. Mereka akan lebih bersemangat menggali potensi seni anak-anak penyandang autis.

Penyandang autis memiliki “proses belajar sendiri”yang berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya. Pendidik dan orang tua harus bersabar untuk menemukan bakat terpendam anak anak istimewa ini. Kemampuan seni adalah pekerjaan yang dapat menjadi bekal hidup mereka.

Sejumlah seniman penyandang autisma, yang sudah memenangi berbagai penghargaan seni internasional menggelar pameran karya seni rupa pada 6 April sampai 11 April 2023 di Bentara Budaya, Jalan Palmerah Utara III Jakarta. Pameran istimewa ini mengangkat tema Bianglala Seribu Imanjinasi dan merupakan kerja sama kedua antara Yayasan Autisma Indonesia (YAI) dan Bentara Budaya Jakarta.

Kerja sama pertama, yang berlangsung pada 2019, mengusung tema Warna-warni Duniaku. Saat itu pameran menampilkan karya lukis dan rupa yang merupakan hasil kegiatan seni individu autis. Para peserta, sebagian memilih melukis sebagai pilihan kegiatan utama mereka.

Tahun ini, pameran akan menampilkan karya-karya dari para seniman pelukis, pematung, pembatik, seni kriya dan seniman origami penyandang autis, yang telah meraih prestasi nasional dan internasional. Tak hanya sebagai pilihan kegiatan, para penyandang autisma ini telah menjadikan kegiatan seni sebagai profesi.

MELUKIS BUS TRANS JAKARTA

Di antara para seniman yang akan berpameran, ada nama Salman Farisyi, pelukis yang pernah terpilih melukis mobil Porsche dan bus Trans Jakarta. Vincent Prijadi dari Surabaya yang mendapat Award di ajang Art Fair Tokyo 2023 di Tokyo, Jepang. Lalu ada karya-karya dari Anfield Wibowo yang pernah bekerja sama dengan benihbaik.com, melelang karyanya di atas sebuah lemari es yang diberi judul Limitless.

Kemudian ada Anugrah Fadly, yang biasa dipanggil Uga, sarjana ISI Jogja, pelukis & pematung, penyandang autis yang juga mengajar melukis di sanggarnya utk anak berkebutuhan khusus. Uga juga sedang menulis buku otobiografinya. Juga ada kakak beradik cucu dari maestro pelukis Affandi, yaitu Diaz dan  Fardha.

Masih banyak nama seniman perupa hebat lain yang juga akan tampil di pameran ini: Audrey Angesti, Ruben Rotty, Ikhsan Priatama, Raynaldi Halim, dan Oliver Adivarman.

DIBUKA HILMAR FARID

Jumlah peserta pameran ini 29 seniman, 11 diantaranya berasal dari luar Jakarta. Karya seniman-seniman penyandang autis ini semua luar biasa. Selain sekadar pameran, acara ini juga akan dilengkapi talk show dengan beberapa narasumber. Pameran akan dibuka secara resmi oleh Hilmar Farid, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Riset, Teknologi, dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Penyelenggaraan pameran ini merupakan bagian dari upaya Yayasan Autisma Indonesia untuk memperkenalkan kreativitas dan potensi para penyandang autisme kepada masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan tema World Autism Awareness Day 2023 dari PBB yaitu Transformation: Toward a Neuro-Inclusive World for All. YAI berharap pameran ini dapat meningkatkan kesadaran dan penghargaan terhadap keberagaman neurologis yang ada di dunia.

Ferina Widodo, pengurus YAI, mengatakan bahwa selain untuk memperingati Hari Peduli Autis Se-Dunia 2023 pada April, Yayasan Autisma Indonesia dan Bentara Budaya menyelenggarakan pameran ini untuk memberi penghargaan kepada para penyandang Autis yang sudah memilih kegiatan seni rupa sebagai profesi.

“Mereka layak mendapatkan apresiasi, sebab karya-karyanya setara dengan karya para seniman terkemuka lain dan layak dikoleksi oleh para kolektor seni,” kata lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

Menurut Ferina, Ferina yang juga orang tua penyandang autis, kualitas karya yang dipamerkan tak perlu diragukan. Selain karena para seniman yang terlibat telah terbukti berprestasi, juga karya yang dipamerkan telah melalui kurasi dari para kurator profesional Bentara Budaya Jakarta.

 

You may also like

Comments are closed.

More in Headline