Telkom Bagi Dividen, Inilah Menarik Sektor Penunjang Telekomunikasi

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) akan membagi dividen jumbo. Itu berita bursa pagi ini. Tentang dividen dan peluang jebakan dividen akan saya celotehi lain kesempatan. Kali ini saya ingin mengutip beberapa data menarik di sektor penunjang telekomunikasi untuk bahan penerawangan lebih jauh

Anda mungkin – seperti saya – tercengang mengetahui bahwa jumlah pelanggan telekomunikasi Indonesia lebih besar dari jumlah penduduk. Banyak orang Indonesia memiliki lebih dari satu gawai. Boleh jadi mereka mengkombinasikan keunggulan dari masing masing provider. Jutaan anak muda kecanduan games , nonton dan pamer diri. Tentu ada sebagian (kecil) memanfaatkannya untuk belajar.

SMS boleh jadi mulai terhapus, jumlah panggilan mendatar, bahkan menurun. Tapi lalu lintas data terus naik. Dan akan terus naik. Boleh jadi dengan tingkat kenaikan yang makin tinggi. Perkiraan saya akan terus naik dalam jangka waktu yang sulit diukur.

Namun kenaikan volume trafik data tersebut tidak paralel dengan kenaikan pendapatan. Karena “perang tarif”. Persaingan empat operator – Tsel, ISAT, EXCL dan FREN – mencekik leher. Untung tidak sampai pada tingkat bakar duit.

Di tengah persaingan itu, tahun lalu, pendapatan internet masih naik lebih 17%. Mendekati angka Rp 150 triliun. Tahun ini dan tahun depan perkiraan saya akan terjadi lonjakan tajam. Tahun politik adalah tahun komunikasi. Tahun telekomunikasi.

Di sektor infrastruktur penunjang – khususnya menara – persaingan tak setajam operator seluler. Tiga pemain utama di BEI adalah TBIG, TOWR dan MTEL.

Saya sudah melepas semua saham TLKM saya tahun lalu, ketika harga mendaki di atas Rp4.500 per saham. Sebagai gantinya saya “mengerami” MTEL. Berharap menetas telur emas.

Padahal MTEL merupakan saham yang harganya paling “memble” dari tiga pemasok jasa menara. Sejak IPO di Rp800 satu setengah tahun lalu, harganya hanya pernah menyentuh Rp810, beberapa saat. Pernah turun ke bottom Rp640. Nyaris selalu di bawah harga IPO. Sama sekali tak menarik bagi para traders.

JANGKA PANJANG

Tapi saya rutin memungut lot demi lot – bila ada peluru – setiap harga turun di bawah Rp700. Penerawangan saya melihat beberapa peluang dalam jangka panjang:

Pertama, tenacy ratio yang masih sangat rendah dibandingkan TBIG dan TOWR merupakan kelemahan sekaligus keunggulan. Kalau tenancy ratio MTEL mendekati angka dua pesaing itu, maka laba MTEL akan naik berlipat lipat. Pencapaian itu merupakan tolok ukur KPI kualitas manajemen.

Kedua, nilai buku menara – dalam neraca – MTEL sangat rendah dibandingkan TOWR, terutama TBIG. Hidden asset!

Ketiga, dalam industri yang padat modal ini, MTEL memliki keunggulan bukan cuma dalam jumlah menara – yang menempatkan MTEL debagai leader – tapi juga gearing ratio yang sangat rendah. DER MTEL per akhir 2022 tercatat 66%. Bandingkan dengan TBIG 239% dan TOWR 355%. Bila kebutuhan eskpansi datang, MTEL akan jauh lebih mudah merespons. Tentu kualitas manajemen, sekali lagi, menentukan.

Keempat, kombinasi antara menara dan fiberisasi membuat MTEL lebih leluasa memenuhi spesifikasi kebutuhan tenants. Juga dalam menyongsong berkembangnya 5G.

Kelima, sebaran menara MTEL – mayoritas di luar pulau Jawa – punya nilai tambah dalam jangka panjang. Kebijakan pemerintah Jokowi yang dengan sungguh sungguh meratakan sentra pertumbuhan ekonomi ke luar Jawa akan jadi pengungkit luar biasa.

Di belakang pelangi merah terbentang langit biru.

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Infrastruktu.co.id
On October 1st, 2019, PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) announced the highest dividend distribution in its history, with the largest portion of the total dividends being distributed to individual shareholders. In the middle of persisting telco industry competition and discussion about potential corporate income tax for 2020, Telkom’s decision plated a high expectation in the market.

The industry responded positively, with the headline that Telkom has declared a jumbo dividend of almost 12.5 percent of its share price. Stock prices started trending up, setting up a positive outlook for the company. The company stated that the large dividends were a show of confidence in its business and prospects, and that it was aiming to improve shareholder value.

Despite the optimism, analysts were quick to point out that while the higher dividends were certainly good news, they could also be viewed with caution. Some argued that a high dividend payout could be seen as a sign of weakness, with the company’s cash reserves running low and looking to that dividend to fill the gap. A more fundamental concern among investors was that while the dividends were high, they were also non-sustainable, meaning that this could be the only dividend that Telkom will be able to hand out this year.

In conclusion, while Telkom’s jumbo dividends represent a potential for investors, there is also a potential for investors to be misled should Telkom’s financial situation not improve. In such a case, investors should be mindful of their expectations, and do their due diligence before purchasing or selling stock in the company.

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis