Ada Apa Dengan Saham WIKA? Alami Bearish Berkepanjangan

INDOWORK.ID, JAKARTA: Nasib tak baik masih terus menghantui kinerja BUMN konstruksi PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Baru saja melewati Triwulan I 2023, saham WIKA belum juga menunjukkan tanda kenaikan.

Hal itu diakibatkan sentimen negatif sepanjang tahun 2022, perseroan harus menanggung rugi bersih Rp59,59 miliar atau memburuk dibandingkan tahun 2021 yang masih mencatat laba bersih senilai Rp117,66 miliar.

Kerugian bersih Wijaya Karya ini bisa di lihat pada pos laba (rugi) bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berdasar data laporan keuangan auditan tahun 2022 yang di publish pada laman BEI dan dikutip, Sabtu (25/3/2023).

Merujuk data tersebut jua, sebetulnya pendapatan WIKA sepanjang tahun 2022 mengalami pertumbuhan 20,16 persen menjadi Rp21,48 triliun dibandingkan sebelumnya Rp17,80 triliun. Seiring pertumbuhan pendapatan itu, beban pokok pendapatan juga terpantau naik jadi Rp19,27 triliun dari sebelumnya Rp16,11 triliun.

 Sehingga laba bruto yang dibukukan oleh WIKA untuk tahun 2022 senilai Rp2,20 triliun atau naik 29,96 persen dari tahun 2021 senilai Rp1,69 triliun.

 Sayangnya, beban penjualan tercatat Rp4,76 miliar turun dari Rp8,57 miliar, ada juga beban umum dan administrasi senilai Rp722,17 miliar turun dari Rp779,83 miliar. Meski demikian, WIKA membukukan penghasilan lain-lain senilai Rp1,55 triliun atau naik dari sebelumnya Rp1,47 triliun dan beban lain-lain naik menjadi Rp1,31 triliun dari Rp1,25 triliun.

Dengan catatan itu maka laba usaha Wijaya Karya sepanjang tahun 2022 terkumpul Rp1,71 triliun atau naik 52,73 persen dibandingkan tahun 2021 yang terkumpul Rp1,12 triliun.

Namun, perlu diperhatikan bahwa perseroan masih membukukan beban keuangan senilai Rp1,37 triliun naik dari sebelumnya Rp1,15 triliun. Beban pajak penghasilan turun jadi Rp374,56 miliar dari Rp412,52 miliar. sedangkan bagian rugi entitas asosiasi naik menjadi Rp99,35 miliar dari Rp28,88 miliar dan bagian laba entitas ventura bersama menyusut jadi Rp306,72 miliar dibandingkan tahun 2021 yang masih di angka Rp672,37 miliar.

Laba sebelum pajak penghasilan yang bisa dibukukan oleh BUMN ini hanya senilai Rp176,08 miliar menyusut 10,46 persen dari tahun sebelumnya Rp196,66 miliar.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk

Adapun penyebab dari penurunan saham WIKA terliha dari penurunan laba entitas, terutama berasal dari investasi di PT Jasamarga Manado-Bitung sebesar Rp 53,79 miliar dan PT WIKA Industri Manufaktur sebesar Rp 51,6 miliar.

Beban keuangan, peningkatan bagian rugi entitas asosiasi, dan penurunan laba entitas asosiasi ini menyebabkan WIKA mengalami kerugian. Namun, mayoritas bisnis inti WIKA di tahun lalu meningkat. Hanya segmen realty dan properti yang turun tipis.

PELUANG MASIH CERAH

Meski begitu, WIKA tetap yakin dengan prospek ke depan. Beberapa lini bisnis yang menyumbangkan pendapatan tertinggi a.l segmen infrastruktur dan bangunan gedung, disusul oleh segmen industri, dilanjutkan dengan segmen energi dan industrial plant serta segmen realti dan properti.

Catatan lain adalah dari indikator keberlanjutan dan efisiensi perusahaan, WIKA mengalami peningkatan kapasitas produksi (burn rate) WIKA yang berada pada level 39% di 2022 meningkat dibandingkan 2021 yang berada pada level 30,2%. Kinerja operasi yang baik tersebut dibuktikan dengan keberhasilan WIKA dalam menuntaskan berbagai proyek.

WIKA masih diandalkan pada berbagai proyek besar di tanah air a.l Bendungan Sukamahi Jawa Barat, Revitalisasi Dua Terminal VVIP yaitu di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai Bali dan Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, dan Pemasangan Single Point Mooring (SPM) Pengapon Jawa Tengah.

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis