Buku Toponimi Perkampungan Budaya Betawi, Warisan Sebelum Pensiun

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Kepala UPK PBB Setu Babakan Imron tampak sumringah ketika acara peluncuran buku Toponimi Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan karya Ide Nada Ninimihardja.

Dalam sambutannya menyatakan salut atas dedikasi Ide dalam menulis buku tersebut. “Ini menjadi warisan sebelum saya pensiun,” katanya.

Imron akan pensiun sebagai aparatur sipil negara pada Agustus 2023.

Pas hari ulang tahun ke-496 Kota Jakarta, Imron mengambil momentum itu untuk peluncuran buku yang ia inisiasi.

Para tokoh Betawi memberikan apresiasi yang tinggi kepada Ide. Namun budayawan dan cendekiawan memberikan kritik yang kontruktif.

MUDA DAN PRODUKTIF

Imron, Abdul Syukur, Ide

Ketua Umum Persatuan Wanita Betawi Roosyana Hasbullah menyatakan salut kepada penulis muda itu karena memberikan kontribusi yang positif bagi dunia literasi di Indonesia. “Jujur saya salut. Masih muda tapi produktif,” katanya,  Kamis, 22 Juni 2023.

Roosyana menyatakan hal itu dalam bedah buku Toponimi Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan yang digelar di ruang serba guna kawasan tersebut. Tampil sebagai pembicara Chairman Pustaka Kaji Lahyanto Nadie, Dosen FISIP Universitas Indonesia Meily Badriati Harun, dengan moderator budayawan Betawi Yahya Andi Saputra.

Menurut Roosyana, meskipun masih muda tapi Ide cukup produktif dalam menulis buku.

Ide lahir di Bekasi pada 15 Desember 1988. Ia lulus dar Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada 2020. Ide telah menerbitkan dua buku bersama tim yaitu Jamu sebagai bagian dari kearifan lokal desa Nguter (2018) dan Digitalistasi Depok Lama: Sejarah, Peristiwa, dan Tinggalan Misterinya (2018). Saat ini Ide tengah melanjutkan studi di Program Studi Astronomi di Institut Teknologi Bandung.

Lahyanto menyatakan bahwa kontribusi Perkampungan Budaya Betawi dalam menerbitkan buku cukup besar karena dalam waktu relatif singkat sudah beredar tiga buku. “Setiap tahun di Indonesia hanya 10.000 judul buku,” ia menguraikan.

Dengan jumlah penduduk 275 juta jiwa, buku yang diterbitkan jauh dari harapan. Sebagai perbandingan, Malaysia dengan penduduk 80 juta tetapi mampu menerbitkan 15.000 buku per tahun. Indonesia peringkat 62 dari 63 negara dalam kesadaran minat baca. Nomor 63 itu negara Zimbabwe,” katanya.

TERINSPIRASI MENULIS BUKU

Anggota Forum Pengkajian dan Pengebangan Perkampungan Budaya Betawi (Forum Jibang PBB) Setu Babakan Diana Murni Muzammil juga memberikan apresiasi kepada Ide. “Saya jadi terinspirasi untuk menulis buku kuliner Betawi,” katanya dengan logat Betawi yang kental.

Meily menyatakan bahwa secara umum buku tersebut cukup komprehensif. Namun dari sisi tata bahasa sebaiknya menggunakan gaya story telling dengan kalimat yang pendek-pendek. “Hal lain nanti saya akan sampaikan ya,” katanya bijak. Ia melemparkan senyumnya kepada Ide yang duduk di sampingnya.

Yahya kemudian memberikan kesempatan kepada hadirin untuk memberikan tanggapan. Mereka adalah Anggota Forum Jibang Yoyo Mukhtar, Sekretaris Forum Jibang Indra Sutisna dan Bayu Permana, pejabat di Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Yoyo menyatakan bahwa ada tahun yang tertinggal dalam buku itu yaitu perjalanan sejarah pada 1998. Dalam buku itu tertulis tentang sejarah pada 1987, kemudian bercerita tentang 1999. “Saya ini sejarawan, sehingga menulis sejarah harus benar,” katanya dengan nada tinggi.

Sementara itu, Indra tidak membahas isi buku tersebut. Ia hanya menceritakan tentang kisah Nyi Ros Pandanwangi yang tidak ditulis dalam buku itu. “Nanti saya akan menulis buku,” katanya mengumumkan.

Bayu Permana juga mengumumkan akan menulis buku tetapi saat ini naskahnya belum rampung. Namun Bayu memberikan peluang kepada Ide dan penulis lainnya untuk mengajukan proposal penerbitan buku kepada Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

 

You may also like

Comments are closed.

More in Headline