Jemaah Haji di Masjidil Haram

Waran HAJJ, Bandar Tak Pernah Logis

INDOWORK.ID, JAKARTA: Logisnya, perusahaan yang prospektif, harga sahamnya akan naik dari waktu ke waktu. Kesimpulan: bandar memang tidak logis, tapi magis.

Seminggu memungut waran HAJJ, terkumpul 2.500 lot. Mohon dimaklumi, ada investor yang nyerok pakai belalai ekscavator (bucket), sementara aku menyendok pakai sendok teh.

Harga beli rata rata Rp18. Lebih tinggi signifikan di atas harga tutup Jumat, 23 Juni 2023, seharga 14. Minggu depan saya akan nyendok lagi. Mungkin bisa dapat 14 atau lebih murah.

Artinya investasiku di waran HAJJ bernilai Rp4,5 juta. Pada posisi saat ini, itu jumlah kerugian maksimum yang akan aku derita bila selama periode 05 Oktober 2023 sampai 31 Maret 2026 harga saham HAJJ selalu berada di bawah Rp175. Waran – bukan cuma punya ku – akan hangus jadi abu.

Bila saham HAJJ selama periode itu berada di antara Rp175 dan Rp193, saya menderita rugi. Tapi lebih kecil dari Rp4,5 juta. Kalau selama periode itu harga saham sempat berada di atas Rp193, maka saya akan memperoleh keuntungan. Makin tinggi harga saham, makin besar potensi keuntungan saya. Ayunan harga saham HAJJ, minggu ini ditutup pada harga Rp258.

POLES KINERJA KEUANGAN

Hasan Zein Mahmud

Kalau saya secara imajiner, menempatkan diri sebagai manajemen pengambil keputusan, saya akan memoles kinerja keuangan HAJJ lewat dua cara

Pertama, menciptakan captive market. Ada dua jalan yang bisa dijajagi untuk menciptakan captive market. Lewat ajakan kepada perusahaan penerbangan rute ibadah dan perusahaan hotel di Makah & Madinah untuk menjadi pemegang saham HAJJ. Kalau jalan yang ini tidak berhasil, jalan kedua, kumpulkan dana lalu booking di depan tiket pesawat penerbangan umroh dan kamar hotel di Tanah Suci.

Kalau mampu booking dalam jumlah mayoritas. Dengan cara ini, para Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) akan digiring masuk ke dalam lingkaran bisnis HAJJ.

Yang lebih elegan – tidak berpeluang berurusan dengan KPPU – adalah masuk ke segmen hulu. Tidak sekadar berbisnis dengan PPIU dalam format B2B, tapi menangkap langsung end users, B2C. Peluang memberikan pelayanan yang lebih komprehensif dan lebih baik. Dan…..marjin keuntungan akan naik tajam. Walau tetap harus dijaga jangan sampai kanibalisme terhadap kerja sama dengan PPIU yang ada selama ini.

Namanya juga penerawangan. Dominasi imajinasi Tapi apapun outcome-nya nanti, aku menikmati kebebasan berimajinasi.

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Infrastruktur.co.id

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis